Minggu, 21 Juni 2026 | 18:14
OPINI

Covid itu Tak Menyakitiku

Covid itu Tak Menyakitiku
Ilustrasi

Oleh: Elva Tazar *)

"Jangan dekat dekat ! "Teriak suamiku ketika aku masuk ke kamar, aku lihat suamiku sedang berkemas, sebagian bajunya sudah masuk  koper. Wajahnya kelihatan kusut. " Papa mau kemana?" Tanyaku seraya mundur beberapa langkah, kaget mendengar teriakkan suamiku. "'Papa mau di rawat, Papa positif covid.." Jawab suamiku  sambil terus berkemas.

Aku tahu suamiku pasti shock karena selama ini ia sangat taat prokes, bahkan ketua satgas covid di kantornya. Aku berusaha menenangkan suamiku. "Papa ngapain ke rumah sakit? Nanti kita nga bisa ketemu loh, Kondisi Papakan hanya flu saja."

Aku berusaha menenangkan suamiku hasil PCR CTnya memang rendah  12. Akan ada kemungkinan kondisinya makin buruk. Namun aku berusaha untuk tenang, walaupun sebenarnya aku juga sangat cemas. Alhamdulillah, suamiku berhasil aku yakinkan untuk membatalkan niatnya opname.

Malam itu aku tidur di luar, diruang keluarga sementara  2 anakku di kamar masing masing. Kami memang tidak berani berdekatan.

Keesokan harinya giliran aku dan anak anak yang di PCR, malam harinya baru keluar hasil PCR. Alhamdulillah ala kulihal, aku dan anak bungsuku juga positif.  Sedangkan putraku negatif. Malam itu juga putraku pindah ke  apartemen.

Mengapa aku begitu tenang menerima kenyataan kami terpapar covid? Karena  aku sudah lama mempersiapkan diri yang namanya wabah kemungkinan besar aku akan kena. Untuk itu diam diam aku siapkan mentalku untuk tetap tenang jika virus itu menyerang tubuhku.

Pertengahan Desember 2020 kami islolasi di rumah, pengajian yang biasanya rutin dirumahku pas lagi libur akhir tahun. Sungguh Allah berikan saat yang tepat untuk aku terpapar virus ini. Jika di hari kajian rutin tentu saja pengajian akan diliburkan. Bahkan jamaah akan sangat kuatir akan kondisiku. Aku tak ingin membuat mereka sedih. 

Hasil CT PCR aku 34 anakku 32. Artinya aku yang membawa virus itu ke rumah karena nilai 34 berarti aku sudah melewati masa kritis. Memang aktivitasku di luar rumah sangat  padat. Tapi aku yakin jika kita menolong agama Allah, Allah pasti akan nolong kita.

Dan yang terjadi sungguh diluar dugaaan, aku sama sekali tak merasa apa pun bahkan penciumaan dan indra perasaku normal. Padahal aku punya  penyakit bawaan darah kental  dan  penyakit lainnya. Selama ini suami dan keluargaku sangat mengkuatirkan kondisiku jika terpapar.  Namun nyatanya justru aku masuk golongan OTG (Orang Tanpa Gejala) MashaAllah, ini fakta yang terjadi pada diriku. 

Saat isolasi, aku selalu membuat suasana rumah bahagia, kami sama sekali tidak pernah nonton berita  covid, kami hibur diri dengan nonton youtube tausiyah, zikir dan sekali kali nonton film India (aku bukan pengemar drakor).

Pokoknya ciptakan suasana rumah yang  enjoy tanpa berita covid yang justru  membuat stres. Setiap pagi dari kantor suamiku sudah ada yang mengantarkan makanan dengan menu catering yang mewah dan berlebihan. Makanya jangan kaget  timbangan badan pun melonjak naik.

Setiap hari kami berjemur dan  tredmil  selama 30 menit, sama dengan jalan 3 km.  MashaAllah badanku sangat sehat, sama sekali tak ada gejala apa pun panas, pusing atau  batuk. 

Ini yang membuat aku menangis tersungkur menjelang dini hari. Ya Allah..Terimakasih untuk segalanya, virus yang mematikan itu kini ada dalam tubuhku, namun atas kuasamu virus itu tak mempu menyakiti tubuhku sedikit pun, padahal sebelum pandemi sebulan sekali  aku harus kontrol  dan setiap hari minum obat pengencer darah. Bahkan bolak  balik  di opname.

Menurut berita yang beredar jika ada comorbit akan sangat berbahaya  bisa membawa kematian. Namun dugaan manusia Kau bantah dengan KuasaMu. Terimakasih ya Allah. Aku semakin yakin bahwa jangan pernah takut dengan virus hingga melebihi takut pada yang menciptakan virus itu.

Alhamdulillah  sampai akhirnya dinyatakan negatif, aku dan putriku tak merasakan sakit  bahkan  badan makin melar karena makan enak terus sedangkan suamiku ada gejala ringan flu batuk.  Suamiku  negatif setelah 20 hari isolasi karena memang CT nya paling rendah.

Dari pengalaman ini aku ingin sampaikan bahwa covid itu ada, kita tak boleh anggab remeh tapi jangan juga takut  berlebihan karena ketakutan dan kecemasan itu justru lebih berbahaya dari virus itu, karena ketakutan yang berlebihan akan merusak sel sel dalam tubuh kita hingga menimbulkan penyakit seperti darah tinggi, jantung, magh dan penyakit lainnya. 

Positif thingking ini yang harus dilakukan, ikhtiar prokes itu harus kita lakukan pakai masker, jaga jarak dan cuci tangan. Namun tawakal itu wajib, kita harus lebih takut pada Allah dari pada takut pada mahkluNya.

Percayalah kau tak akan mati jika ajalmu belum tiba. Virus itu hanya mampu mematikan  jika ajal manusia itu memang sudah sampai. Maka lihatlah  jutaan manusia yang bebas dari virus ini, bahkan lebih banyak yang sembuh daripada yang wafat. Percayalah, kalau belum  saatnya  pasti Allah berikan kesembuhan.

Jangan sampai kita  sibuk menghindar dari virus hingga berhenti beramal. Mengapa tidak taklim? Takut corona, mengapa tidak sedekah? Stop dulu ada corona. Mengapa tidak silaturahmi, ogah ah takut terpapar.  Terus waktumu, hidupmu dikendalikan oleh makhluk  Allah yang bernama covid?? 

Maka dari pengalaman positif covid, aku makin yakin sebenarnya yang paling bahaya itu adalah ketika manusia menuhankan covid, hidup nya diatur covid sehingga beramal pun takut  dan ujung ujungnya hidupnya hanya dihabiskan dirumah tanpa bisa berjuang  dan berjihad. Jangan sampai kita termasuk hamba Allah yang merugi karena waktu tak pernah kembali..

*) Penulis Novel Amak, Ig@elvatazar. 

Komentar