Musik, Matematika, Pikiran
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Dalam rangka memelajari apa yang disebut sebagai musik, matematika dan pikiran, saya beruntung menemukan sebuah buku berjudul “Music, Math and Mind” karya David Sulzer. Buku berjudul keren rancak 3-M dalam bahasa Inggris ini membahas tentang hubungan antara musik, matematika, dan ilmu kognitif.
Di dalam buku tersebut, David Sulzer memberikan contoh The Elephant Orchestra dari Thailand, yang merupakan orkestra gajah yang memainkan musik dengan instrumen yang dirancang khusus. Gajah-gajah ini didresur oleh manusia untuk memainkan musik improvisasi dengan instrumen seperti drum, harmonika, dan xylophone serta belalai berfungsi sebagai trompet. Selain itu, David Sulzer juga membahas Brahmana Music Project, yang menggunakan EEG (Electroencephalogram) sebagai alat untuk membuat komposisi musik. EEG digunakan untuk merekam aktivitas otak lalu mengubahnya menjadi musik.
Ada beberapa contoh lain tidak kalah menarik, semisal :
- The Sound of the Human Body: sebuah proyek yang menggunakan sensor untuk merekam suara tubuh manusia, seperti detak jantung dan napas, dan mengubahnya menjadi musik.
- The Plant Music Project: sebuah proyek yang menggunakan sensor untuk merekam aktivitas listrik tanaman dan mengubahnya menjadi musik.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat digunakan untuk menciptakan musik yang unik dan menarik. Saya pribadi pernah menggarap komposisi untuk kwartet seruling, violoncello, pianoforte dan suara manusia yang tampil sunyi sebab ke empat musisi termasuk penonton sedang meditasi.
Tidak kalah menarik adalah kesan bahwa David Sulzer di dalam buku “Music, Math and Mind” tidak mau terjebak ke dalam pusaran polemik tentang apa yang disebut sebagai musik, matematika maupun kognisi dalam makna daya pikir. Menurut pendapat saya, David Sulzer memang cerdas dan cerdik dalam menghindari perangkap polemik berkelanjutan tentang definisi musik, matematika dan kognisi. Sampai dengan saat naskah ini saya tulis, belum ada manusia maupun ilmuwan mampu mendefinisikan musik, matematika maupun daya pikir secara sempurna dan paripurna. Masing-masing definisi terperangkap dalam jebakan limitasi daya-pikir dan daya-ungkap manusia yang secara kodrati memang mustahil sempurna akibat memang mustahil ada manusia yang sempurna.
Saya sendiri dengan daya-pikir terbatas dan dangkal bukan hanya senantiasa namun bahkan niscaya gagal dalam ikhtiar mendefinisikan musik, matematika dan pikiran. Mencari apalagi menemukan definisi memang sulit mirip menangkap belut di dalam minyak di mana akibat licin maka sang belut selalu dengan mudah meloloskan diri dari genggaman pemahaman terbatas kita.
Pada hakikatnya segenap kesulitan beserta kemustahilan itu memang menyadarkan kita semua bahwa musik, matematika dan pikiran memang hadir bukan untuk didefinisikan namun nyata digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia atas kesejahteraan masing-masing dalam menempuh perjalanan hidup nan sarat kemelut deru campur debu, berpercik keringat, air mata dan darah.

Komentar