Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:51
NEWS

PDRB Rp3.040 Triliun Belum Sejahterakan Warga, Prof Rokhmin Dahuri Tantang KAHMI Jabar Jadi Motor Lahirnya SDM Unggul

PDRB Rp3.040 Triliun Belum Sejahterakan Warga, Prof Rokhmin Dahuri Tantang KAHMI Jabar Jadi Motor Lahirnya SDM Unggul
Prof. Rokhmin Dahuri menjadi pembicara pada Seminar Nasional Muswil VII KAHMI Jabar (foto.nasir)

ASKARA - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Barat didorong untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil peran yang jauh lebih strategis dalam pembangunan daerah. Tidak lagi sekadar menjadi kekuatan moral, KAHMI ditantang untuk menjadi mesin pencetak sumber daya manusia (SDM) unggul, pusat riset, dan penggerak inovasi.

Tantangan tajam itu disampaikan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, dalam Seminar Nasional Musyawarah Wilayah VII KAHMI Jawa Barat bertema “Transformasi Keumatan Menuju Jawa Barat Istimewa” di Grand Asrilia Hotel Convention, Bandung, Sabtu (8/8).

Di hadapan ratusan alumni HMI dari 27 kota/kabupaten se-Jawa Barat, Anggota Komisi IV DPR RI 2024 – 2029 itu mengusung gagasan besar: redesign mindset menuju insan cita melalui SDM unggul, meritokrasi, inovasi, dan kolaborasi pentahelix.

Paradoks Pembangunan Jawa Barat

Prof. Rokhmin yang juga Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 ini memaparkan paradoks pembangunan Jawa Barat dengan data yang mengejutkan.

Di satu sisi, Jawa Barat adalah raksasa ekonomi nasional. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat tercatat mencapai sekitar Rp3,04 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,32 persen. Tulang punggungnya adalah sektor industri pengolahan yang menyumbang 40,41 persen terhadap PDRB. Sebuah modal yang sangat besar dan tidak dimiliki semua provinsi.

Namun di sisi lain, keperkasaan ekonomi itu belum berbanding lurus dengan kesejahteraan warga.

“Inilah ironi kita. Basis industrinya luar biasa besar, tapi IPM Jawa Barat 2025 baru di angka 75,90. Tingkat kemiskinan per September 2025 masih 6,78 persen atau sekitar 3,55 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Gini Ratio 0,397 menunjukkan ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah,” tegas Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) ini.

Paradoks semakin terlihat di sektor ketenagakerjaan. Data yang dipaparkannya menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat per Februari 2026 mencapai 6,64 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 4,68 persen. Lebih memprihatinkan lagi, 55,80 persen pekerja di Jawa Barat masih terjebak di sektor informal, sementara yang berada di sektor formal hanya 44,20 persen.

“Artinya, besarnya industri belum diikuti dengan penyediaan talenta yang link and match, penguatan inovasi, dan penciptaan pekerjaan berkualitas. Kita punya pabriknya, tapi SDM-nya belum siap,” ujarnya.

Tantangan Disrupsi AI dan Kesenjangan Kompetensi

Menurut Ketua DPP PDI-Perjuangan Bidang Perikanan dan Kelautan 2025 – 2030, transformasi SDM Jawa Barat saat ini menghadapi tembok besar: kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, tingginya informalitas, rendahnya budaya inovasi dan produktivitas, hingga ancaman disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan otomasi yang bisa melenyapkan jutaan lapangan kerja konvensional.

Karena itu, ia menekankan bahwa pembangunan Jawa Barat harus bergeser total. Dari yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, bonus demografi, dan keunggulan lokasi, harus bergerak menuju pembangunan berbasis SDM unggul, produktivitas, inovasi, daya saing, hingga penciptaan kesejahteraan yang adil dan berkelanjutan.

“Kuncinya ada pada riset, kreativitas, kewirausahaan, hilirisasi pengetahuan, reskilling, dan pembelajaran sepanjang hayat. Tanpa itu, Jawa Barat Istimewa hanya akan menjadi slogan,” kata Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea.

KAHMI Harus Jadi Penghubung Pengetahuan, Modal, dan Pekerjaan

Di sinilah peran KAHMI dinilai sangat strategis. Dengan jaringan alumni yang tersebar di semua simpul kekuasaan, mulai dari birokrasi pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas hingga media, KAHMI memiliki modal sosial yang tidak dimiliki organisasi lain.

Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) ini menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix - sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media. Dalam skema ini, KAHMI bisa memainkan banyak peran: sebagai penghubung pengetahuan, mentor bagi generasi muda, penggerak kebijakan, bahkan sebagai investor dan pencipta lapangan kerja.

“Jejaring alumni KAHMI akan bernilai strategis apabila mampu menghubungkan enam hal sekaligus: ilmu, kebijakan, modal, pekerjaan, media, dan kebutuhan masyarakat. Kalau itu tersambung, modal sosial akan berubah menjadi modal produktif,” jelasnya.

Untuk mewujudkan itu, ia bahkan telah menyiapkan blueprint program konkret yang bisa langsung dieksekusi KAHMI Jawa Barat.

Lima program unggulan yang diusulkannya adalah:

1. Talent and Leadership Academy, untuk mencetak pemimpin masa depan yang kompeten dan berintegritas;

2. Alumni Mentoring Network, gerakan mentoring dari alumni senior kepada junior;

3. Job and Apprenticeship Exchange, bursa kerja dan magang yang dikelola langsung oleh alumni;

4. Entrepreneur and Cooperative Accelerator, untuk melahirkan pengusaha dan koperasi alumni yang tangguh;

5. Policy and Innovation Lab, laboratorium untuk merumuskan kebijakan berbasis riset.

“Jika lima program ini berjalan, saya yakin KAHMI tidak hanya akan menjadi organisasi alumni terbesar, tetapi menjadi kekuatan transformator yang nyata. Mengubah Jawa Barat dari provinsi dengan ekonomi besar menjadi provinsi dengan kesejahteraan besar. Inilah jalan kita menuju Jawa Barat Istimewa dan Indonesia Emas 2045,” pungkas Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany yang disambut tepuk tangan panjang peserta Muswil.

Komentar