Senin, 21 September 2026 | 15:51
NEWS

Kunjungi Mata Eco Ltd. di Quanzhou, Prof. Rokhmin Dahuri Jajaki Kolaborasi Akuakultur Berkelanjutan Indonesia-China

Kunjungi Mata Eco Ltd. di Quanzhou, Prof. Rokhmin Dahuri Jajaki Kolaborasi Akuakultur Berkelanjutan Indonesia-China
Prof. Rokhmin Dahuri kunjungi Mata Eco Ltd. di Quanzhou (foto.rd media)

ASKARA – Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., melaksanakan kunjungan bisnis strategis ke MATA ECO Ltd. di Kabupaten Huian, Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, China, pada 19–21 September 2026.

Kunjungan selama tiga hari ini difokuskan untuk mendalami model pengembangan industri kelautan dan perikanan China yang mengintegrasikan tiga pilar sekaligus: pengelolaan ekologi laut, budidaya perairan berkelanjutan, dan industri pengolahan hasil perairan bernilai tambah tinggi.

Rombongan tiba di Fujian pada Sabtu (19/9) dan langsung menuju lokasi perusahaan di Light Industry Park, Wangchuan Town, Huian County — yang dikenal sebagai salah satu sentra industri perikanan di Fujian.

Agenda inti berlangsung pada Minggu (20/9). Prof. Rokhmin bersama tim melakukan factory tour komprehensif ke dua fasilitas utama MATA ECO Ltd., yakni Ecological Workshop dan Aquatic Product Workshop. Kunjungan lapangan ini dilanjutkan dengan in-house discussion untuk membedah secara detail pendekatan teknologi, model bisnis, dan tata kelola lingkungan yang diterapkan perusahaan.

“Yang menarik dari MATA ECO adalah bagaimana mereka tidak memisahkan ekologi dengan industri. Aspek lingkungan ditempatkan di hulu sebagai fondasi, sementara pengolahan hasil perairan menjadi mesin nilai tambah di hilir. Ini model ekonomi biru yang utuh,” ujar Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Puncak kunjungan terjadi pada Senin (21/9), dengan peninjauan langsung ke Teluk Dagang. Di lokasi ini, rombongan mengobservasi hamparan area budidaya tiram, kondisi ekologi laut di sekitar teluk, serta proses pengolahan pascapanen di kawasan tersebut. Teluk Dagang sendiri menjadi contoh nyata bagaimana budidaya laut skala besar dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga daya dukung ekosistem.

Kunjungan ini dinilai sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai negara dengan 70% wilayah berupa laut, Indonesia memiliki potensi akuakultur laut yang luar biasa, namun pemanfaatannya masih didominasi ekspor bahan mentah.

Dalam itinerary yang sama, turut diagendakan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Huian pada 20 atau 21 September 2026 untuk membahas peluang kolaborasi kelembagaan antara pemerintah daerah dan dunia usaha kedua negara.

Dorongan Kerja Sama Hulu-Hilir

Rangkaian kunjungan ini memetakan tiga peluang besar kerja sama Indonesia-China di sektor kelautan: pertama, pengelolaan dan restorasi ekologi laut; kedua, pengembangan teknologi budidaya perairan berkelanjutan; dan ketiga, hilirisasi dan industrialisasi produk perikanan.

"Ke depan, kerja sama diharapkan tidak berhenti pada perdagangan produk, melainkan meluas pada transfer teknologi, investasi produktif, penguatan kapasitas SDM, dan pengembangan model bisnis ekonomi biru," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan pentingnya pembelajaran lintas negara untuk mengakselerasi sektor kelautan nasional.

Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikelola secara produktif, efisien, bernilai tambah tinggi, dan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem.

"Karena itu, kita perlu terus belajar, bertukar teknologi dan pengalaman, serta membangun kerja sama yang saling menguntungkan,” pungkasnya.

 

Komentar