Minggu, 21 Juni 2026 | 19:19
OPINI

Tak Lengkap Memaknakan "Tak"

Tak Lengkap Memaknakan
Jaya Suprana (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Bagi KBBI, "tak" bentuk ringkas dari “tidak”, digunakan sebagai kata keterangan untuk menegasikan kata kerja, sifat, atau kata lainnya, dan juga bisa menjadi bentuk terikat untuk membentuk kata lain, seperti "takdir" (tak-dir) atau "takut" (tak-ut) namun KBB tidak mengulas kata “tak-jub”. "Tak" adalah bentuk singkat atau tidak baku dari "tidak", digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Copas KBBI dalam memaknakan kata “tak” adalah sebagai berikut :

  1. Adverbia (kata keterangan): Menyatakan "tidak" atau negasi.  Contoh: "Dia tak mau pergi" (Dia tidak mau pergi).
  2. Bentuk terikat: Menjadi bagian awal kata lain, tetap bermakna "tidak".  Contoh: "Takdir" (tidak diatur), "Takut" (tidak takut, atau lebih tepatnya rasa tidak mau dekat).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  "tak" adalah kata yang sah dan baku di dalam Bahasa Indonesia menurut KBBI, berfungsi sebagai negasi, sambil juga seringkali sebagai bentuk yang lebih ringkas dari "tidak".

Tanpa sedikit pun mens rea apalagi mengurangi rasa hormat kepada KBBI mohon dimaafkan bahwa saya memberanikan berpendapat KBBI memaknakan kata TAK secara tak lengkap. KBBI memang mengulas maka kata TAK dalam bahasa Indonesia namun tidak menyentuh makna kata TAK dalam bahasa sehari-hari yang lazim diucapkan oleh masyarakat.

Di dalam bahasa daerah Indonesia, khususnya bahasa Jawa (meski daerah Jawa Barat yang menggunakan bahasa Sunda secara geografis juga berada di pulau Jawa) kata “tak” beda arti dari pemaknaan KBBI. De facto tidak bisa disangkal bahwa masyarakat Jawa dalam perbincangan sehari-hari dan informal, kerap menggunakan kata TAK bukan dalam arti TIDAK tetapi SAYA. Sebagai contoh dalam mengucap “saya memukul” diucapkan menjadi “tak pukul” . “saya bawa” menjadi “tak bawa” atau “saya tulis” menjadi “tak tulis”, “saya tabrak” menjadi “tak tabrak“ meski di sisi lain “tak tabrak” bukan berarti “tidak tabrak”. Tak kurang dari Pak Harto juga sempat bersabda Tak Gebuk dalam arti Saya Gebuk.

Sementara katak bukan bermakna katidak maupun kasaya namun sekadar nama satwa jenis amfibia yang bertulang belakang (vertebrata) berdarah dingin (ektoterm) mampu hidup di dua alam, yaitu fase larva di air menggunakan insang dan fase dewasa di darat menggunakan paru-paru serta kulit. Fakta membuktikan pada kenyataan masyarakat Indonesia masa kini kerap kali menggunakan kata TAK sebagai kata pengganti kata saya dan aku maupun gua

Jika memang konsekuen sekaligus konsisten ingin menyesuaikan diri dengan semantika bahasa percakapan sehari-hari informal, seharusnya KBBI juga berkenan menyertakan kata TAK bukan terbatas sebagai adverb atau adjektif  tetapi juga sebagai pronoun dalam arti SAYA. Namun akibat secara akademis maupun non-akademis, saya memang sama sekali bukan ilmuwan bahasa maka saya sadar bahwa naskah  dangkal-makna saya ini layak diabaikan oleh KBBI. Pada prinsipnya, saya (mohon jangan diganti dengan kata TAK) memang siap berperan sekadar sebagai  whistleblower yang tidak dipedulikan siapapun juga seperti peribahasa bilang bahwa anjing menggonggong, khafilah berlalu  

 

Komentar