Minggu, 14 Agustus 2022 | 05:23
OPINI

Harta Itu Dibawa Mati

Harta Itu Dibawa Mati
Ilustrasi

Oleh: Elva Tazar, Penulis Novel Amak  & Jangan Rampas Imanku

Wajah wanita berusia diatas 50 tahun itu memerah. Dia tak mampu berkata apa pun. Bibirnya gemetar sambil menggengam uang 2 juta yang aku serahkan padanya. Airmata mulai mengalir di kedua pipinya yang sudah mulai keriput, tentu saja janda anak 3 ini nga sempat perawatan di salon untuk  pengencangan kulit layaknya ibu ibu tajir yang punya uang banyak.

Tidak bagi Sumiati, boro boro buat ke salon untuk makan saja dia harus kerja keras dan mikir keras agar bisa cukup untuk makan 2 kali sehari. Sebagai janda dengan pensiun hanya 600.000 dan berjualan gorengan dengan hasil tak menentu harus membiayai sekolah anak anaknya, serta membayar kontrakan rumah.

Sumiati memang tak pernah mengeluh  baginya mengeluh yang paling tepat itu hanya pada Allah. Setiap menjelang subuh Sumiati sholat tahajud dan mengadukan kesulitan hidupnya kepada yang maha Kuasa. Biasanya Sumiati tidak berani menyebutkan jumlah  uang dalam doanya.

Ia malu harus memohon untuk dunia kepada Allah. Namun ntah mengapa tiga hari berturut turut Sumiati berdoa dengan sangat khusyuknya, sampai  mungkenanya basah dengan airmata.

"Ya Allah.. Kau maha tau atas kesulitan hamba, tolonglah hamba ya Allah berikan hamba uang 2 juta saja untuk modal usaha hamba. Hamba bingung ya Allah harus cari uang sebanyak itu. Sedangkan untuk utang hamba ngga berani ya Allah kalau tiba tiba hamba mati sedangkan masih punya  utang, celakalah hamba. Hamba takut azab kubur karena utang ya Allah.. Tolonglah hamba  ya Allah.. Bukankah Kau maha Kaya.." Begitulah doa Sumiati dengan terisak isak sampai tubuhnya yang kurus tersungkur sujud hingga sajadahnya basah dengan airmata.

Sumiati  menatapku  dengan tatapan bahagia namun airmata itu deras mengalir, uang 2 juta sumbangan dari para donatur ia dekap di dada, "Alhamdulillah ya Allah.. Kau maha mendengar doaku. Uang 2 juta yang aku minta kini Kau berikan.."  Ucap Sumiati terbata bata.

Tak terasa airmataku  mengalir, aku merasa malu,  kadang makan di restoran sekali makan sekeluarga bisa habis 1 juta, namun dihadapanku kini seorang ibu yang memiliki anak yatim begitu bahagianya dapat uang 2 juta seperti mendapatkan emas monas. MashaAllah...

Sumiati lalu bercerita  bahwa saat pandemi ini pendapatan sangat jauh berkurang, mana anak anak tetap harus bayar SPP. Sungguh berat kalau dia tidak meningkatkan usahanya dengan punya gerobak agar bisa berjualan di tempat yang ramai.

Berkali-kali Sumiati mengucapkan terimakasih dan doa untuk para donatur. MashaAllah seharusnya yang terimakasih itu adalah para donatur karena melalui doa orang seperti ibu Sumiati inilah harta mereka abadi sampai di alam barzah nanti, sedangkan harta yang mereka makan, yang dipakai semuanya hanya  di dunia ini saja.

Maka sesungguhnya orang yang cinta harta itu adalah orang yang rajin sedekah tidak kikir karena dia menyimpan hartanya untuk investasi akhiratnya.

Ternyata belajar kehidupan, tak selamanya dari guru atau ustaz namun dari Sumiati aku belajar banyak bahwa bersama kesulitan ada kemudahan (Al Insyirah ayat 5 dan 6). Aku tak mengenal Sumiati tapi berkat doanya Allah mengutus majlis Taklim kami untuk memberikan donasi padanya. Kalau tidak atas izin Allah tidak mungkin aku ada disini mengantarkan amanah dari donatur. Allahu Akbar..

Sebelum pulang Sumiati memelukku walaupun sejak pandemi aku selalu jaga jarak tapi entah mengapa aku balas memeluknya, Aku lebih yakin pada Allah bahwa Covid makhluk Allah tak akan mematikan kalau belum sampe ajalnya

Tubuh Sumiati bergunjang dalam pelukanku ia masih menangis. Berkali kali ia mengucapkan  terimakasih. Jilbab hitamnya yang panjang sudah kelihatan lusuh, ya Allah.. sungguh kemulian itu bukan dari harta yang berlimpah namun dari hati yang selalu bersyukur seperti Sumiati mendapatkan uang 2 juta syukurnya tidak terhingga. Hal inilah yang terus memotivasiku untuk terus berjuang agar Sumiati Sumiati yang lain bisa menangis dalam syukur.

Kata siapa harta tidak dibawa mati? Karena harta yang kita sedekahkan itu akan menemani kita di alam barzah hingga di yaumil akhir nanti. Semangat fastabiqul  khoirot karena waktu kian dekat menuju kematian.

 

Komentar