Kamis, 23 Juli 2026 | 21:19
OPINI

Riwayat Hagia Sophia

Riwayat Hagia Sophia
Ilustrasi Hagia Sophia, bangunan yang menyimpan tiga zaman peradaban (Dok Askara)

ASKARA - Di Istanbul berdiri sebuah bangunan yang hidupnya bagaikan buku sejarah. Namanya Hagia Sophia, yang berarti "Kebijaksanaan Suci". Selama hampir 1.500 tahun, bangunan ini tiga kali berganti fungsi keagamaan, tetapi tidak pernah berganti batu.

Kronologi Riwayat Hagia Sophia

1. Basilika Megah Kekaisaran Bizantium (537 M)

Kaisar Justinianus I membangun Hagia Sophia pada tahun 532–537 M dengan satu tujuan: mendirikan gereja paling megah di dunia.

Arsiteknya, Anthemius dan Isidorus, merancang kubah raksasa berdiameter 31 meter yang tampak seolah-olah menggantung di udara. Kekaguman terhadap bangunan ini bahkan melahirkan ungkapan terkenal, "Sulaiman, aku telah mengalahkanmu."

Selama hampir 900 tahun, Hagia Sophia menjadi pusat Gereja Ortodoks. Mozaik Yesus, Maria, dan para kaisar menghiasi dindingnya, sementara lonceng gereja, altar, dan ikon menjadi jantung kehidupan religius Konstantinopel.

2. Berubah Menjadi Masjid Kesultanan Ottoman (1453)

Pada 29 Mei 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Sultan Mehmed II. Pada hari pertama memasuki kota, sang sultan langsung menunaikan salat di Hagia Sophia.

Sejak saat itu, fungsinya berubah menjadi masjid. Empat menara ditambahkan, mozaik ditutup dengan plester, dan kaligrafi Allah, Muhammad, serta empat Khulafaur Rasyidin dipasang. Mihrab, mimbar, dan tempat wudu pun dibangun.

Namun, Kesultanan Ottoman tidak menghancurkan warisan Bizantium. Mozaik-mozaik Kristen tidak dikerok, melainkan hanya ditutup. Karena itulah, hingga kini wajah Yesus masih dapat disaksikan berdampingan dengan kaligrafi Islam.

Selama 481 tahun, Hagia Sophia menjadi Masjid Agung Kesultanan Ottoman.

3. Menjadi Museum Sekuler (1935)

Pada 1935, Republik Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Atatürk mengubah Hagia Sophia menjadi museum.

Tujuannya adalah menjadikannya simbol toleransi dan warisan bersama umat manusia.

Lapisan plester dibuka sehingga mozaik Kristen dan kaligrafi Islam dapat ditampilkan secara bersamaan. Sejak itu, wisatawan dari seluruh dunia berdatangan untuk menyaksikan perpaduan dua peradaban besar tersebut.

4. Kembali Menjadi Masjid (2020)

Pada Juli 2020, pengadilan Turki membatalkan status museum, sehingga Hagia Sophia kembali difungsikan sebagai masjid dan digunakan untuk salat lima waktu.

Meski demikian, bangunan ini tetap terbuka bagi wisatawan di luar waktu pelaksanaan salat.

Cermin Sejarah Kordoba

Nasib Hagia Sophia sering dibandingkan dengan Masjid-Katedral Kordoba di Spanyol.

  • Hagia Sophia: Gereja → Masjid → Museum → Masjid.
  • Mezquita Kordoba: Masjid → Katedral → Tetap Katedral.

Kordoba dibangun pada tahun 785 sebagai masjid utama Al-Andalus. Setelah Reconquista pada 1236, bagian tengahnya dibangun menjadi katedral Katolik, sementara deretan tiang merah-putih masjid tetap dipertahankan dan kini menyatu dengan arsitektur gereja.

Kedua bangunan ini bagaikan saudara. Sama-sama megah, sama-sama diperebutkan, dan sama-sama tidak dihancurkan. Yang berubah hanyalah fungsinya.

Hagia Sophia bukan hanya milik satu agama. Ia adalah milik waktu.

Di bawah kubahnya pernah bergema nyanyian liturgi Bizantium, kemudian lantunan azan. Kini, jejak keduanya tetap berada dalam perlindungan Hagia Sophia.

Manusia membangunnya untuk Tuhan. Namun, Hagia Sophia seakan mengingatkan bahwa peradaban besar tidak selalu menghapus warisan masa lalu. Sebaliknya, ia dapat melestarikan dan mengembangkannya.

Selama kubahnya masih berdiri, Istanbul akan terus memiliki dua jejak doa di bawah satu atap.

 

Komentar