Kamis, 04 Juni 2026 | 09:30
TRAVELLING

Tapak Jejak Gereja Perdana di Turki, Thomas Sukar Temukan Makna Baru

Tapak Jejak Gereja Perdana di Turki, Thomas Sukar Temukan Makna Baru
Thomas Sukar dengan latar Hagia Sophia di Turki (Dok Thomas)

ASKARA - Sebuah pengalaman yang sarat makna dibawa pulang Thomas Sukar, umat Katolik asal Blitar, setelah melakukan perjalanan rohani ke Turki, negeri yang oleh banyak orang dikenal sebagai jembatan dua benua, namun bagi Thomas adalah juga jembatan antara masa lalu Gereja dan realitas iman masa kini.

Langkahnya menuntun ke Hagia Sophia, bangunan legendaris yang menyimpan lapisan sejarah panjang. “Bayangkan,” tutur Thomas, “tempat ini pernah berdiri sebagai gereja megah pada era Kristen awal, lalu berubah menjadi masjid, kemudian museum, dan kini kembali menjadi masjid.” Bagi Thomas, perubahan itu bukan sekadar data sejarah, tetapi gambaran bagaimana kuasa politik, budaya, dan agama saling berkelindan membentuk perjalanan sebuah peradaban.

Perjalanan Thomas tidak berhenti di sana. Ia menyusuri kawasan tempat para Rasul dahulu membangun jemaat perdana. Sisa-sisa bangunan, pondasi tua, dan fragmen dinding menjadi saksi bisu tentang masa ketika Turki, khususnya wilayah Anatolia, menjadi pusat berkembangnya kekristenan awal. “Ketika berdiri di antara reruntuhan itu,” kata Thomas, “rasanya seperti mendengar gema langkah para pewarta pertama.”

Namun di balik kemegahan sejarah itu, Thomas menggambarkan realitas yang kontras. Kini, umat Katolik di Turki hanya sekitar 0,02 persen, jumlah yang nyaris tak terlihat di negara dengan mayoritas Muslim. Negara pun menetapkan aturan hidup beragama yang ketat. “Simbol-simbol agama dilarang tampil di ruang publik, termasuk simbol Islam,” jelasnya.

Di sisi lain, masyarakat Turki didorong untuk membaca Alquran, namun tidak diberi keleluasaan membaca tafsirnya. Menurut Thomas, kebijakan ini merupakan warisan masa lampau yang masih bertahan akibat perjanjian dan pengaruh politik lama, terutama dengan Prancis.

Bagi Thomas, Turki adalah tempat di mana warisan iman, sejarah panjang kekuasaan, dan dinamika kehidupan beragama bertemu dalam satu mozaik yang rumit. “Di tanah tempat Gereja pertama bertumbuh, saya justru belajar tentang keteguhan iman dalam situasi serba terbatas,” ungkapnya, Minggu (7/12).

Dengan mata yang lebih peka dan hati yang lebih penuh, Thomas kembali ke Blitar membawa satu kesadaran: bahwa jejak Gereja mungkin berubah bentuk, namun imannya tetap hidup melalui mereka yang tidak berhenti mencari, berjalan, dan merawat sejarahnya.

 

 

Komentar