Dua Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Cirebon, Prof. Rokhmin Dahuri: Nelayan Harus Jadi Bos, Bukan Sekadar Penangkap Ikan
ASKARA – Kabar baik bagi nelayan pesisir Kota Cirebon. Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun 2026 resmi memasuki tahap awal. Alat berat mulai melakukan pengurugan lahan di kawasan Cangkol sebagai penanda dimulainya pembangunan.
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jawa Barat VIII, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengkonfirmasi bahwa pada tahun ini ia berhasil memperjuangkan dua lokasi KNMP di Kota Cirebon, yakni di Panjunan dan Lemahwungkuk.
Program KNMP sendiri merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hasil kolaborasi dengan Komisi IV DPR RI, yang lahir langsung dari aspirasi nelayan.
"Alhamdulillah, untuk tahun ini saya berhasil memperjuangkan dua lokasi Kampung Nelayan Merah Putih di Kota Cirebon, yaitu di Lemahwungkuk dan Panjunan. Mudah-mudahan keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil tangkapan, mengolah ikan agar memiliki nilai tambah lebih tinggi, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan nelayan," tegas Prof. Rokhmin, Jumat (24/7).
Nelayan Harus Jadi Pengusaha, Bukan Sekadar Pemasok Bahan Baku
Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu menegaskan, KNMP tidak boleh hanya menjadi proyek bangunan fisik. Ia memberi catatan keras agar program ini benar-benar dirasakan manfaat ekonominya.
Selama ini, nelayan masih terjebak dalam pola lama: menjual ikan segar langsung saat mendarat. Saat panen melimpah, harga anjlok karena tidak ada cold storage, pabrik es, dan akses pasar yang terbatas. Hasil tangkapan besar, tapi pendapatan tetap tipis.
Karena itu, KNMP di Cirebon didesain sebagai ekosistem lengkap dari hulu ke hilir. Kawasan ini nantinya akan dilengkapi tempat pendaratan dan pelelangan ikan yang layak, pabrik es, cold storage, ruang pengolahan, sanitasi, air bersih, pengelolaan limbah, hingga rantai dingin dan sarana pemasaran.
Di sisi hulu, nelayan akan didorong menggunakan teknologi yang lebih produktif dan ramah lingkungan: alat tangkap yang selektif, mesin kapal hemat BBM, informasi daerah tangkapan, prakiraan cuaca, hingga perangkat keselamatan.
Kunci kesejahteraan, menurut Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University iniada pada pengolahan.
"Ikan tidak hanya dijual segar, tapi bisa menjadi fillet, abon, bakso ikan, kerupuk, produk siap masak dan beku yang daya simpannya lama dan harganya jauh lebih tinggi," jelasnya.
Untuk itu, KNMP juga akan fokus pada pelatihan, standardisasi mutu, pengemasan, sertifikasi halal dan perizinan, hingga pemasaran digital untuk menembus pasar modern, hotel, restoran, dan katering.
Tak kalah penting adalah penguatan kelembagaan. Koperasi dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan harus dikelola profesional, transparan, dan akuntabel agar punya posisi tawar kuat di hadapan pembeli.
Belanja Masalah di Lapangan
Prof. Rokhmin mengungkapkan, pembangunan di Cangkol ini berawal dari aspirasi warga yang sempat tidak mendapat tindak lanjut. Melalui reses dan kunjungan lapangan, aspirasi itu ia kawal langsung di Komisi IV DPR RI hingga terealisasi.
"Reses itu bukan formalitas, tapi untuk 'belanja masalah'. Memahami kondisi riil masyarakat dan memastikan kebijakan negara menjawab kebutuhan rakyat," ujarnya.
Ia pun meminta pembangunan dikawal ketat agar tepat waktu, tepat mutu, dan bebas penyimpangan. Ukuran keberhasilan KNMP, tegasnya, bukan seberapa megah bangunannya atau seberapa besar anggaran terserap.
"Keberhasilannya harus diukur dari meningkatnya produktivitas, menurunnya biaya melaut, tumbuhnya industri olahan, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya pendapatan keluarga nelayan. Kekayaan laut harus jadi kemakmuran pesisir," pungkasnya.

Komentar