Rabu, 16 September 2026 | 16:32
NEWS

Kunjungan Prof. Rokhmin ke Luhaifeng Group Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Biru Indonesia-China Senilai Miliaran Dolar

Kunjungan Prof. Rokhmin ke Luhaifeng Group Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Biru Indonesia-China Senilai Miliaran Dolar
Prof. Rokhmin Dahuri mengunjungi Luhaifeng Group, China (foto.rd institute)

ASKARA - Di sela-sela kesibukannya sebagai pembicara kunci di 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) di Qingdao, China, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. melakukan langkah strategis.  Anggota DPR RI itu, Rabu (16/9), melakukan kunjungan lapangan ke jantung industri perikanan modern China, Luhaifeng Group.

Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah upaya menjembatani dua kekuatan ekonomi biru terbesar di Asia.

Jika data FAO 2026 yang dipaparkan Prof. Rokhmin menunjukkan produksi akuatik global telah mencapai 235 juta ton dan akuakultur kini menjadi mesin pertumbuhan utama, maka Luhaifeng Group adalah wujud nyata dari revolusi tersebut.

Peluang Emas untuk Indonesia

Melalui kunjungan ini, Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini melihat secara langsung praktik ecological marine ranching yang sedang gencar dikembangkan China untuk mengubah laut menjadi "lumbung biru kehidupan".

Indonesia, dengan potensi ekonomi akuakultur raksasa senilai USD 210 Miliar per tahun seperti yang ia paparkan di forum, memiliki modal yang jauh lebih besar. Potensi ini meliputi 24 juta hektar marikultur laut, 3 juta hektar budidaya pesisir, dan 2 juta hektar air tawar.

"Kita tidak boleh hanya menjadi penonton revolusi pangan biru. China sudah membuktikan marine ranching yang terintegrasi dengan teknologi AI, IoT, dan cold chain adalah masa depan. Indonesia dengan kekayaan biodiversitas laut terkaya di dunia harus menjadi pemain utama," ujar Prof. Rokhmin dalam keterangannya, Rabu (16/9).

Kunjungan ini membuka pintu kerja sama strategis Indonesia-China di empat pilar utama: ekonomi biru, akuakultur berkelanjutan, ecological marine ranching, dan hilirisasi produk kelautan bernilai tambah tinggi seperti farmasi, nutrasetikal, kosmetik, dan bioenergi.

Ini bukan sekadar transfer teknologi, tapi tentang bagaimana Indonesia bisa membangun "Luhaifeng-Luhaifeng" versi Indonesia di Sabang hingga Merauke untuk kedaulatan pangan dan energi berkelanjutan.

Apa Itu Luhaifeng Group?

Luhaifeng Group bukan perusahaan perikanan biasa. Berdiri sejak tahun 2001 di Qingdao, perusahaan ini telah berevolusi menjadi gurita bisnis kelautan terintegrasi terbesar di Qingdao.

Dipimpin oleh Chairman Liu Chunhui, Luhaifeng membangun ekosistem bisnis dari hulu ke hilir:

1. Armada Penangkapan Samudera: Mengoperasikan 14 kapal penangkap ikan pelagis raksasa 1200 HP dan 6 kapal pukat cincin tuna, plus 6 kapal angkut berpendingin hingga minus 60 derajat Celcius yang menjelajah Atlantik, Hindia, dan Pasifik.  

2. Marine Ranching - Lumbung Biru Terbesar: Inilah yang paling mencuri perhatian. Luhaifeng mengelola lebih dari 50.000 mu area laut, menjadikannya National Marine Ranch terbesar di Qingdao. Mereka membangun lebih dari 280 keramba cerdas tahan angin dan gelombang di laut dalam untuk membudidayakan ikan kerapu, salmon, dan ikan langka lainnya. Yang luar biasa, hanya dengan 20 orang karyawan, mereka mampu mengelola 14 juta kilogram ikan dalam setahun.  

Mereka juga membangun 200 hektar terumbu buatan untuk pengembangbiakan teripang dan abalon secara ekologis bebas polusi.

3. Industri Pengolahan Raksasa: Memiliki workshop pengolahan seluas 120.000 meter persegi dengan kapasitas olah lebih dari 50.000 ton dan ekspor lebih dari 30.000 ton per tahun. Produknya mulai dari anglerfish, tuna, hingga fillet belut panggang yang telah mengantongi sertifikasi Uni Eropa, HACCP, ISO9001, dan FDA Amerika Serikat. Perusahaan ini adalah pemasok utama belut hidup dan produsen fillet tuna terbesar untuk pasar Jepang.  

4. Rantai Dingin & Pariwisata: Dari kapal cold chain hingga wisata memancing mewah, diving, dan pengalaman budaya desa nelayan dengan 36 kapal pancing standar dan pusat layanan wisata seluas 7.000 meter persegi.  

Dengan lebih dari 20 anak perusahaan, Luhaifeng adalah contoh sempurna dari konsep yang selalu digaungkan Prof. Rokhmin: produktivitas, inovasi teknologi, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan bersamaan.

 

Komentar