Prof. Rokhmin: Kampung Nelayan Merah Putih Harus Bangun Ekosistem Perikanan Terintegrasi, Bukan Sekadar Fisik Darat
ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan bahwa Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik di darat.
Menurutnya, KNMP harus menjadi jawaban komprehensif atas berbagai persoalan klasik yang selama ini membelit kehidupan nelayan Indonesia.
"Kami di Komisi IV DPR RI menegaskan bahwa Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) jangan hanya berfokus pada pembangunan fasilitas darat, tetapi harus menjawab persoalan nelayan secara menyeluruh," ujar Prof. Rokhmin dalam unggahan di akun Instagram pribadinya @rokhmindahuriid, Kamis (6/8).
Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu menjelaskan, selama ini banyak program pemberdayaan nelayan yang gagal karena pendekatannya yang parsial. Dibangun dermaga, balai pertemuan, atau gudang, namun nelayan tetap miskin karena tidak memiliki akses teknologi penangkapan yang modern, cold storage yang memadai, hingga kepastian pasar.
Oleh karena itu, ia mendorong agar KNMP dirancang untuk membangun ekosistem usaha perikanan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. "Ekosistem yang dimaksud meliputi modernisasi teknologi penangkapan ikan, sistem penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan, jaminan kepastian pasar dengan harga yang adil, serta penguatan rantai dingin (cold chain) dan sistem distribusi yang memotong rantai tengkulak," ujarnya.
Nah, sarannya, untuk Kampung Nelayan terutama, karena tujuan utamanya adalah peningkatan kesejahteraan nelayan, maka komponen kegiatannya jangan hanya fasilitas darat. "Kalau sekarang kan hanya pembangunan cold storage, pabrik es, BBM nelayan, kemudian tambat labuh kapal dan seterusnya," katanya.
Menurutnya, harus ada 4 komponen tambahan:
1. Teknologi Penangkapan yang efisien sekaligus ramah lingkungan, supaya hasil tangkapnya lebih besar dan penghasilannya lebih besar.
2. Handling Ikan dari laut sampai ke pelabuhan perikanan. Karena problem struktural nelayan sampai saat ini salah satunya adalah nelayan tidak membawa es, tidak membawa cool box, tidak ada cold storage di dalam kapal. Jadi 20 persen hasil tangkapan di laut terbuang karena busuk.
3. Harus ada Pembeli atau Buyer. Jangan sampai kita membangun cold storage, pabrik es, tapi pembelinya nggak datang. Sama saja nanti derita untuk nelayan, begitu mendaratkan ikan nggak ada pembelinya.
4. Angkutan Berpendingin. Mobil yang berpendingin dari kampung nelayan itu sendiri ke daerah-daerah pemasaran. Misalnya di kampung saya Cirebon, harusnya Kampung Nelayan itu memiliki armada angkutan berpendingin untuk memasarkan ikan dari Cirebon ke Bandung, ke Kuningan dan daerah-daerah market yang lain
Tak hanya itu, Prof. Rokhmin juga menyoroti aspek tata kelola. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan KNMP melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) harus dijalankan secara profesional.
"Pengelolaannya melalui KDMP juga harus dijalankan oleh SDM yang profesional, kompeten, dan berintegritas agar program tepat sasaran serta benar-benar meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan," tegasnya.
Menurut Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu, kunci keberhasilan KNMP ada pada sumber daya manusia. Tanpa SDM yang berintegritas, program sebagus apapun akan rentan diselewengkan dan tidak memberikan dampak nyata.

Komentar