Dari Xiamen, Prof. Rokhmin Dahuri Ingatkan Pentingnya Jujur dan Doa Penyelamat di Zaman Penuh Fitnah
ASKARA- Di sela agenda internasionalnya di China, Anggota DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. menyampaikan sebuah tausiyah yang mendalam dan menggetarkan hati. Tausiyah itu ditulisnya dari Xiamen, China, pada Sabtu, 19 September 2026.
Bukan tentang ekonomi biru atau akuakultur yang biasa ia suarakan di forum dunia, kali ini Prof. Rokhmin Dahuri berbicara tentang kondisi jiwa manusia di zaman ini.
Ia membuka dengan sebuah kalimat yang langsung menusuk:
"Jika engkau mampu hidup di dunia ini, pada zaman seperti sekarang, dengan jujur dan bersih, tanpa berdusta dan menipu, maka engkau termasuk segelintir orang yang jumlahnya terhitung sedikit. Maka, teguhlah, semoga Allah menjagamu," tegas Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.
Kita Hidup di Zaman yang Berat
Dalam tausiyahnya, Anggota Komisi IV ini menggambarkan dengan sangat jujur potret zaman yang sedang kita jalani.
Kita hidup pada zaman ketika fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, telah meluas.
Zaman ketika keakuan dan sikap mementingkan diri sendiri merajalela.
Zaman ketika semakin banyak orang yang mencari keuntungan duniawi dengan agama mereka.
Zaman ketika segelintir orang telah melampaui batas, lalu makan dan minum dengan mengorbankan kaum lemah dan orang-orang miskin.
Zaman ketika banyak orang telah berkorban, sementara sebagian orang yang menyimpang justru menikmati hasilnya di atas darah dan penderitaan mereka.
" Kita hidup pada zaman ketika orang-orang yang ikhlas semakin sedikit, sementara manusia memperdagangkan segala sesuatu," tulis anggota Dewan Pakar ICMI Pusat dan Anggota Dewan Pakar MN-KAHMI.
Kalimat itu terasa begitu relevan dengan kondisi hari ini, di mana kejujuran menjadi barang langka, dan ketulusan menjadi mata uang yang hampir punah.
Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?
Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004 itu tidak hanya mendiagnosis penyakit zaman, ia juga memberikan obatnya. Ia mengajak untuk memperbanyak sebuah doa agung yang diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabat Syaddad bin Aus, sebagai harta karun di saat manusia sibuk menimbun harta.
Rasulullah SAW bersabda:
«يا شَدَّادُ بنَ أَوْسٍ! إذا رأيتَ النَّاسَ قدِ اكْتَنَزُوا الذَّهَبَ والفِضَّةَ، فاكْتَنْزْ هَؤُلاءِ الكَلِماتِ:
اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ الثَّباتَ في الأمرِ، والعزيمةَ على الرُّشدِ، وأسألُكَ مُوجِباتِ رحمتِكَ، وعزائمَ مغفرتِكَ، وأسألُكَ شُكرَ نعمتِكَ، وحُسنَ عبادتِكَ، وأسألُكَ قلبًا سليمًا، ولسانًا صادقًا، وأسألُكَ من خيرِ ما تعلمُ، وأعوذُ بكَ من شرِّ ما تعلمُ، وأستغفرُكَ لما تعلمُ؛ إنَّكَ أنتَ علَّامُ الغيوبِ».
Artinya:
“Wahai Syaddad bin Aus! Apabila engkau melihat manusia telah menimbun emas dan perak, maka simpanlah olehmu untaian kalimat berikut ini:
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan (agama), tekad yang kuat untuk menempuh jalan yang benar, dan aku memohon kepada-Mu segala hal yang mendatangkan rahmat-Mu serta keteguhan untuk memperoleh ampunan-Mu.
Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.
Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur.
Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas segala sesuatu yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala perkara gaib.” (HR. Thabrani, shahih)
Doa ini, menurut Prof. Rokhmin, adalah kompas keselamatan. Di saat semua orang mengejar emas, perak, jabatan, dan viralitas, seorang mukmin justru diminta menimbun keteguhan hati, lisan yang jujur, dan hati yang bersih.
Tausiyah yang disampaikan dengan penuh kerendahan hati sebagai Al-Fakir ini menjadi pengingat, bahwa di tengah hiruk pikuk forum-forum dunia, kekuasaan, dan teknologi, kebutuhan manusia yang paling dasar tetaplah sama: kejujuran dan penjagaan Allah SWT.

Komentar