Minggu, 20 September 2026 | 08:09
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri: Konsolidasi Bukan Sekadar Berkumpul, Melainkan Menyatukan Kesadaran untuk Perubahan Nyata

Prof. Rokhmin Dahuri: Konsolidasi Bukan Sekadar Berkumpul, Melainkan Menyatukan Kesadaran untuk Perubahan Nyata
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS (foto.rd institute)

ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan makna hakiki dari konsolidasi dalam membangun bangsa.

Dalam keterangannya dari Xiamen, China, Sabtu, 20 September 2026, Prof. Rokhmin menyampaikan refleksi bertajuk "KONSOLIDASI PERSEPSI: Satu Frekuensi, Satu Komando Menuju Aksi Strategis dan Berdampak Dalam Mewujudkan Indonesia Maju, Adil-Makmur, Berdaulat, dan Diberkahi Tuhan YME".

Menurutnya, konsolidasi bukan sekadar kegiatan berkumpul secara fisik.

"Konsolidasi bukan sekadar berkumpul, tetapi menyatukan kesadaran, mempertemukan persepsi, menguji gagasan, dan menemukan arah bersama. Kekuatan yang tercerai oleh ego akan kehilangan daya, sementara kekuatan yang terorganisasi mampu mengubah kegelisahan menjadi energi dan energi menjadi perubahan," tegas Anggota Komisi IV DPR RI.

Ia menjelaskan, konsep "Satu Frekuensi, Satu Komando" yang ia gagas tidak dimaknai sebagai penyeragaman berpikir atau kepatuhan buta.

"Satu frekuensi bukan berarti menyeragamkan pikiran. Perbedaan tetap menjadi ruang dialektika, yang disatukan adalah visi, nilai, orientasi, dan tujuan. Sedangkan satu komando bukan kepatuhan buta, melainkan kesatuan arah, disiplin koordinasi, dan konsistensi dalam menjalankan keputusan bersama," ujarnya.

Prof. Rokhmin menekankan bahwa setiap konsolidasi harus berpijak pada realitas dan kepentingan rakyat, terutama kelompok kecil dan terpinggirkan. Aksi strategis, lanjutnya, tidak boleh berhenti pada wacana dan kegaduhan, tetapi harus melahirkan solusi terukur di sektor pendidikan, ekonomi, lapangan kerja, hukum, pelayanan publik, dan kualitas hidup.

Untuk itu, ia menawarkan empat pilar perubahan: revolusi mental, reformasi, restorasi, dan resolusi.

"Kita membutuhkan revolusi mental, reformasi, restorasi, dan resolusi, yakni memperbaiki cara berpikir, membenahi sistem, memulihkan nilai dan kepercayaan, serta menyelesaikan persoalan melalui dialog, hukum, dan mekanisme konstitusional. Keberanian harus tetap bermartabat, kritik harus tetap objektif, perjuangan harus tetap humanis, demokratis, dan konstruktif," jelasnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 = 2004 itu, juga menegaskan bahwa konsolidasi kekuatan bukan untuk berhadapan dengan sesama anak bangsa, melainkan untuk menghadapi persoalan bersama. Prinsip solidaritas, soliditas, resonansi, dan rekognisi harus menjadi fondasi untuk menjadikan rakyat sebagai subjek perubahan.

"Maka setiap aksi harus memiliki arah, sasaran, strategi, ukuran dampak, dan keberlanjutan. Reaksi harus berubah menjadi aksi, aksi menjadi resolusi, resolusi menjadi transformasi," tambahnya.

Menutup pernyataannya, Prof. Rokhmin mengingatkan pentingnya kebersihan niat dan kekuatan spiritual dalam setiap ikhtiar kebangsaan.

"Kita bekerja dengan strategi, bergerak dengan solidaritas, memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kehendak Allah. Doa tidak menggantikan ikhtiar, tetapi doa menguatkan ikhtiar. Tawakal tidak menghentikan langkah, tetapi tawakal memberi keteguhan untuk terus berjalan," pungkasnya.

Menurut Prof. Rokhmin, konsolidasi yang sejati pada akhirnya bukan diukur dari berapa banyak orang yang berkumpul, tetapi dari berapa banyak kesadaran yang menyatu, persoalan yang terselesaikan, dan kehidupan masyarakat yang berubah menjadi lebih baik.

Komentar