Sabtu, 19 September 2026 | 11:39
NEWS

Di Forum Internasional Qingdao, Prof. Rokhmin Dahuri Gagas Transformasi Akuakultur dan Marine Ranching untuk Masa Depan Pangan Dunia

Di Forum Internasional Qingdao, Prof. Rokhmin Dahuri Gagas Transformasi Akuakultur dan Marine Ranching untuk Masa Depan Pangan Dunia
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.askara)

ASKARA - Indonesia kembali menegaskan kepemimpinannya dalam pembangunan kelautan berkelanjutan di panggung dunia. Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota Komisi IV DPR RI, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, sekaligus President of the Indonesian Aquaculture Society, tampil sebagai pembicara kunci dalam 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) yang digelar di Qingdao West Coast New Area, China, 16-18 September 2026.

Forum bergengsi ini mempertemukan sekitar 680 peserta dari berbagai negara, termasuk 200 tamu internasional dan 12 organisasi internasional. Jumlah ini meningkat signifikan dari tahun sebelumnya, menandakan GODF menjadi barometer baru tata kelola laut global.

Prof. Rokhmin tampil dalam Parallel Forum I yang bertema “Blue Granary: Green Transformation of Traditional Marine Industries” dengan presentasi berjudul “Aquaculture and Marine Ranching Development in Indonesia: Promoting Sustainable Production of Food, Pharmaceuticals, Bioenergy and Biomaterials.”

Pangan Dunia Kini Bertumpu pada Laut

Di hadapan delegasi dunia, Prof. Rokhmin memaparkan data terbaru FAO 2026 yang mengejutkan. Produksi perikanan dan akuakultur dunia pada 2024 telah mencapai 235 juta ton, terdiri dari 195 juta ton hewan akuatik dan 40 juta ton alga. Fakta ini menegaskan bahwa masa depan pangan dunia tidak lagi di darat, melainkan di laut.

"Indonesia memiliki modal luar biasa. Kita adalah produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah China, dengan produksi 15,75 juta ton atau 11,12 persen dari produksi global," ungkapnya.

Namun, menurutnya, Indonesia tidak boleh terjebak pada keunggulan jumlah semata.
"Indonesia harus mentransformasikan keunggulan komparatif sumber daya kelautan menjadi keunggulan kompetitif melalui science, technology, innovation, sustainable aquaculture, ecological marine ranching, biotechnology, dan industrialisasi hilir. Dengan demikian laut tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga pharmaceutical products, bioenergy, biomaterials, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan," tegasnya.

Tawarkan Konsep Bay-Based Ecological Marine Ranching

Gagasan paling menarik yang ditawarkan Rokhmin adalah pembangunan Bay-Based Ecological Marine Ranching. 

Konsep ini mengintegrasikan kawasan konservasi dan nursery ground, restorasi habitat, penambahan stok ikan, marikultur berkelanjutan, hingga pusat ekonomi biru berbasis masyarakat dalam satu ekosistem teluk yang utuh. Pendekatannya berbasis pada daya dukung lingkungan, sirkulasi air, konektivitas habitat, beban polusi, dan keanekaragaman hayati.

Prof. Rokhmin juga mendorong penguatan kerja sama konkret Indonesia-China di bidang riset, industri benih unggul, smart aquaculture, offshore aquaculture, digital monitoring, bioteknologi, hingga cold-chain system dan perdagangan internasional.

"Tentu pengalaman China dalam marine ranching sangat maju. Tapi penerapannya di Indonesia harus disesuaikan dengan karakter ekosistem tropis kita, konektivitas terumbu karang-mangrove-lamun, serta kepentingan nasional dan sosial masyarakat pesisir kita," jelasnya.

Melalui forum ini, Indonesia membawa pesan kuat: laut bukan sekadar ruang eksploitasi, melainkan sumber kehidupan, pangan, inovasi, dan masa depan peradaban manusia yang harus dikelola secara produktif dan berkelanjutan.

Komentar