Senin, 07 September 2026 | 00:23
OPINI

Kelirumologi Jembatan Ambruk

Kelirumologi Jembatan Ambruk
Ilustrasi kelirumologi jembatan ambruk (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANMA

ASKARA - Pangandaran berduka. Minggu sore, 30 Agustus itu seharusnya hari bahagia. Pita merah sudah digunting. Kamera sudah siap. Warga sudah berkumpul dengan harapan: jembatan baru ini akan jadi penghubung ekonomi, pariwisata, dan doa. Tapi detik setelah gunting memotong pita, doa runtuh bersama beton. Jembatan ambruk tatkala Ibu Bupati dan para petinggi pertama kali melewati sang jembatan.

Tidak ada cukup kata untuk menggambarkan rasanya. Malu? Iya. Sedih? Pasti. Marah? Wajar. Karena yang roboh bukan hanya struktur baja dan semen. Yang roboh adalah kepercayaan publik pada janji "pembangunan infra struktur untuk rakyat".

PRIHATIN KITA BERSAMA

Kita prihatin pada para pekerja, warga, dan tamu yang jadi korban. Ada yang luka. Ada yang trauma. Ada anak-anak yang tadinya bersorak, pulang dengan ketakutan.

Kita prihatin pada nama baik Pangandaran. Daerah yang kita kenal dengan pantai indah, keramahan, dan potensi wisata luar biasa, kini disorot karena hal yang tidak seharusnya terjadi.

Kita prihatin pada uang rakyat. Setiap rupiah APBD, APBN, atau dana desa adalah titipan. Titipan untuk sekolah, puskesmas, jalan, dan jembatan yang kokoh. Bukan untuk monumen kegagalan yang berdiri beberapa menit.

Ini bukan sekadar soal keliru atau tidak keliru. Ini soal tanggung jawab. Tata kelola perencanaan, pengawasan, material, dan integritas. Jembatan tidak "tiba-tiba" ambruk. Ada rangkaian keputusan yang keliru di dalamnya.

HARAPAN: JANGAN TERJADI LAGI

1. Usut tuntas, bukan usut sekenanya

Bentuk tim independen. Buka semua dokumen. Siapa perencana, siapa pengawas, siapa kontraktor. Hukum harus bicara, bukan hanya "evaluasi internal".

2. Audit semua proyek infra struktur

Jangan tunggu ada korban lagi. Cek ulang jembatan, sekolah, gedung pemerintah yang baru dibangun di Jawa Barat dan daerah lain. Keselamatan tidak bisa ditawar.

3. Libatkan warga dan ahli

Pembangunan bukan urusan seremonial. Warga berhak tahu spek, anggaran, dan jadwal. Insinyur sipil, bukan hanya protokoler, yang harus pegang gunting pita.

4. Budaya "asal jadi" harus mati

Stop mentalitas kejar tayang demi pencitraan. Lebih baik telat 3 bulan tapi berdiri 30 tahun, daripada cepat 1 bulan tapi roboh di hari pertama.

Masyarakat Pangandaran dan kita semua berhak dapat infrastruktur yang aman. Anak cucu kita berhak menyeberang jembatan tanpa takut.

Semoga para korban segera pulih. Semoga para pemimpin belajar.

Dan semoga ini jadi jembatan terakhir yang ambruk saat diresmikan.

Karena setelah ini, yang harus kita bangun bukan hanya besi, baja dan beton.

Tapi kepercayaan.

 

Komentar