Keunggulan Ekologis Jamu
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Kita bangga punya jamu. Kita bangga punya warisan leluhur yang meramu jahe, temulawak, kunyit, dan kencur jadi obat. Kita bangga bahwa akhir 2023, jamu sudah resmi diakui UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia
Tapi kebanggaan itu akan runtuh kalau "obat tradisional" diartikan sebagai cula badak, sirup hiu, penis harimau, daging trenggiling, dan kuda laut kering.
Ini bukan lagi soal tradisi. Ini soal kepunahan.
MUDARATNYA: OBAT YANG MEMBUNUH
1. Membuat Satwa Terancam Punah
Cula badak dipercaya bisa menyembuhkan demam. Padahal isinya cuma keratin, sama seperti kuku kita. Akibatnya? Badak Jawa dan Badak Sumatera kini tinggal ratusan ekor.
Sirip hiu diburu untuk sup "penambah stamina". Trenggiling ditangkap habis-habisan karena sisiknya dianggap obat kanker. Kuda laut dikeringkan untuk asma. Penis harimau dijual untuk "kejantanan".
Harganya mahal bukan karena khasiatnya, tapi karena langkanya. Dan kelangkaan itu kita yang ciptakan.
2. Tidak Ada Bukti Ilmiah
WHO dan ratusan penelitian sudah membuktikan: cula badak tidak menyembuhkan kanker. Sirip hiu tidak menyembuhkan kanker. Yang ada hanyalah efek plasebo dan racun merkuri yang menumpuk di tubuh hiu.
Kita menukar nyawa satwa dengan janji kosong.
3. Merusak Ekosistem
Hiu menjaga keseimbangan laut. Harimau menjaga hutan. Trenggiling memakan rayap. Kalau satu rantai putus, dampaknya ke kita juga: banjir, hama, dan rusaknya laut.
LALU BAGAIMANA DENGAN JAMU ?
Inilah kabar baiknya.
Kelebihan obat tradisional Indonesia adalah TIDAK bergantung pada satwa. Warisan Nusantara justru berbasis nabati. Leluhur kita meracik:
- Jahe & kencur untuk masuk angin
- Temulawak & kunyit untuk liver dan nafsu makan
- Daun sirih & sambiloto untuk antiseptik
- Kencur & beras kencur untuk stamina
Tidak ada resep dari zaman Kutai maupun Majapahit yang menyuruh meminum darah ular atau menumbuk cula badak. Jamu adalah kearifan yang ramah lingkungan. Dia tumbuh di pekarangan, bukan hasil perburuan. Bangsa lain lain mungkin punya tradisi memakai satwa. Tapi bangsa Indonesia punya pilihan yang lebih baik: tanaman.
HARAPAN KITA
1. Edukasi: Stop percaya mitos "makin langka makin mujarab". Itu dagangan, bukan ilmu.
2. Regulasi: Perkuat hukum. Penjual cula, sirip, dan sisik trenggiling harus diproses, bukan diberi panggung.
3. Bangga dengan Jamu Nabati: Dorong litbang untuk jamu-jamu kita. daftarkan, standarisasi, dan ekspor. Ini yang bisa mendunia tanpa harus membunuh. Penyakit bisa disembuhkan. Tapi spesies yang punah tidak akan kembali.
Mari jaga warisan peradaban Nusantara. Mari sehat dan bugar dengan cara yang tidak membuat makhluk lain menderita. Karena obat tradisional sejati Nusantara tidak datang dari kepunahan.

Komentar