IKN, Prostitusi, dan Panggung Kemunafikan Politik
ASKARA - Saat media sibuk membahas menara kembar di Ibu Kota Nusantara (IKN), kita lupa memeriksa fondasi moral yang keropos.
Temuan puluhan PSK di tengah megaproyek ini seakan menampar wajah para politisi yang suka berpidato soal "kemajuan bangsa".Di balik slogan hijau dan smart city, ternyata ada transaksi birahi yang jauh lebih "smart" dan cepat laris.
Indonesia sepertinya tak pernah kehabisan drama. Kali ini, panggung utama bukan di Senayan atau di pinggir jalan protokol Jakarta, melainkan di jantung Ibu Kota Nusantara, sebuah kawasan yang katanya dirancang untuk masa depan.
Masa depan siapa? Entah. Yang jelas, masa depan para PSK sepertinya lebih menjanjikan di sana, mengingat laris manisnya "dagangan" mereka, sampai-sampai sang Menteri Cak Imin pun gelagapan, berulang kali mengucap "gawat, gawat".
Lucu rasanya melihat politisi yang biasanya lantang bicara tentang moralitas tiba-tiba pura-pura kaget. Padahal, siapa yang membuka gerbang urbanisasi dan arus pekerja migran ke IKN?
Siapa yang mempromosikan kawasan itu sebagai magnet ekonomi? Ketika manusia diburu janji-janji pekerjaan, ribuan orang mengalir ke sana membawa harapan, tetapi juga membawa potensi masalah sosial yang sengaja diabaikan. Prostitusi hanyalah puncak gunung es dari kelalaian tata kelola sosial.
Sementara spanduk "Kota Masa Depan" berkibar di tiap sudut proyek, para PSK dengan cerdik menangkap peluang. Jika buruh bangunan sibuk menancapkan tiang pancang, para "pekerja hiburan malam" justru menancapkan strategi bertahan hidup. Ironisnya, negeri yang gemar mengutuk maksiat dari mimbar masjid justru menyediakan ladang subur untuk tumbuhnya praktik-praktik semacam ini. Semua demi slogan: "pembangunan harus jalan terus".
Cak Imin, sang menteri yang terkenal dengan retorika menggemaskan, mendadak memanggil Satpol PP dan minta "pengecekan langsung".
Seolah-olah, sebelum ada berita ini, beliau benar-benar tak tahu apa-apa. Mungkin beliau lupa, penanganan prostitusi bukan sekadar razia, bukan sekadar memaksa perempuan-perempuan itu kembali ke kampung. Ada faktor ekonomi, ketimpangan sosial, dan urbanisasi serampangan yang mendorong mereka ke jalan itu.
Di saat para pejabat berlomba-lomba posting foto meninjau proyek IKN sambil menebar senyum setengah malaikat, ada perempuan-perempuan yang diam-diam menunggu di penginapan murah.
Mereka menunggu para pekerja, para kontraktor, bahkan mungkin "petinggi" yang ingin melampiaskan kesepian. Tapi, siapa yang peduli? Toh, selama tidak terekam kamera, semua baik-baik saja. Moralitas hanya dijadikan lampion hias, dinyalakan bila perlu, dimatikan kalau sudah memalukan.
Lebih menyedihkan lagi, praktik prostitusi ini dijadikan bahan dagangan politik. Lihat saja, beberapa politisi mendadak heroik: "Kami akan berantas prostitusi di IKN!" Padahal, dalam waktu yang sama, mereka juga sibuk menandatangani proyek-proyek bernilai triliunan yang bisa jadi memicu kerawanan sosial serupa.
Semangat memberantas prostitusi itu mirip slogan diet politisi: terdengar lantang, tapi di balik layar tetap makan gorengan sambil ngopi.
Jika IKN benar-benar ingin dijadikan simbol Indonesia masa depan, sudah saatnya pemerintah berhenti main pura-pura. Prostitusi di sana bukan hanya problem moral, melainkan alarm keras soal ketidakadilan sosial yang diabaikan.
Urbanisasi, penggusuran, dan jurang kesejahteraan menciptakan pasar gelap yang tidak akan pernah habis kalau akarnya tidak dibereskan. Menangkap PSK sama saja menembak bayangan sendiri.
Sebagai warga negara, kita seharusnya tak hanya menertawakan atau mengecam. Kita harus sinis, kritis, dan mengajukan pertanyaan: apakah pembangunan selama ini benar-benar untuk rakyat? Atau hanya untuk segelintir orang yang bisa bayar meja VIP?
Cak Imin boleh saja teriak "gawat", tapi rakyat sudah lama tahu bahwa kegawatan itu adalah rutinitas. Yang lebih gawat lagi: rakyat perlahan terbiasa.
Akhirnya, kita hanya jadi penonton serial panjang berjudul "Panggung Kemunafikan Politik", yang episode barunya selalu siap setiap kali kamera wartawan dinyalakan.
Maka, selamat datang di IKN, kota impian yang di satu sisi menatap langit masa depan, tapi di sisi lain menampung kelamnya transaksi malam. Semoga di antara gedung-gedung tinggi itu, nurani kita tidak ikut roboh. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar