Jumat, 04 September 2026 | 13:44
NEWS

Meikel Damopolii, Tetap Tenang Saat Angin Berembus

Meikel Damopolii, Tetap Tenang Saat Angin Berembus
Karikatur Meikel Damopolii (Dok Askara)

ASKARA -  Setiap perjalanan memiliki ujiannya sendiri. Begitu pula perjalanan seorang manusia ketika dipercaya memikul tanggung jawab yang lebih besar. Ada masa ketika langkah mendapat apresiasi, tetapi ada pula saat ketika langkah yang sama dipertanyakan.

Meikel Damopolii, yang akrab disapa Teba, sedang berada dalam fase itu.

Sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kota Manado dan Wakil Ketua DPRD Kota Manado, Teba berada di ruang yang penuh dinamika. Posisi tersebut tentu membawa tanggung jawab sekaligus konsekuensi. Semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula perhatian yang mengikuti.

Menjelang Musyawarah Daerah Golkar Manado, suasana internal mulai bergerak. Persaingan kepemimpinan adalah bagian dari dinamika sebuah organisasi. Setiap kader memiliki pilihan, harapan dan cara pandang masing-masing. Semua itu sebenarnya wajar dalam kehidupan politik.

Di tengah dinamika tersebut, berbagai isu kemudian beredar dan dikaitkan dengan Teba. Ada yang menyangkut proyek, aktivitas pertambangan hingga persoalan pribadi. Namun, sampai ada bukti dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan, semua itu tetap harus ditempatkan sebagai isu, bukan kebenaran.

Teba memilih menghadapi keadaan itu dengan tenang.

Ia mengatakan memahami bahwa menjelang Musda, berbagai dinamika bisa muncul. Bahkan ketika merasa dirinya sedang menjadi sasaran, ia tidak memilih memperbesar persoalan.

"Kalau memang tidak benar, kenapa saya harus tanggapi berlebihan," ujarnya, Jumat (4/9/2026).

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa di balik seorang politisi yang terlihat tegar, ada pula sisi manusia yang harus menanggung beban dari setiap pemberitaan dan pembicaraan tentang dirinya.

Namun Teba tampaknya memilih untuk tidak menjadikan perasaan itu sebagai alasan untuk membalas.

Ia memilih berjalan.

Ia memilih menunggu proses.

Dan ia memilih menyerahkan pertarungan kepada forum Musda.

"Jadi, kita lihat saja nanti di Musda. Di situ tempat bertarung yang sebenarnya," katanya.

Sikap seperti ini tidak harus dipahami sebagai tanda bahwa seseorang tidak memiliki persoalan. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada hal-hal yang diketahui, ada perasaan yang dirasakan, tetapi tidak semuanya perlu dikeluarkan ke ruang publik.

Di situlah kesabaran menemukan maknanya.

Dalam politik, seseorang memang harus siap berbeda. Tetapi perbedaan tidak seharusnya membuat kita kehilangan empati kepada sesama manusia. Seorang lawan politik tetaplah manusia. Seorang kawan politik pun tetap memiliki ruang untuk berbeda.

Karena itu, menjelang Musda, yang paling dibutuhkan bukan semakin kerasnya suara, melainkan semakin sehatnya proses.

Teba tentu bukan sosok yang berada di atas kritik. Sebagai pemimpin partai dan pimpinan DPRD, ia justru harus siap dinilai. Tetapi penilaian akan jauh lebih bermakna jika berdiri di atas fakta, rekam jejak dan kinerja, bukan sekadar kabar yang belum teruji.

Musda akan menjadi tempat bagi kader untuk menentukan pilihan. Apa pun hasilnya nanti, proses itu seharusnya tidak meninggalkan permusuhan.

Sebab politik hanya sebuah fase. Persaudaraan dan rasa saling menghormati jauh lebih panjang umurnya.

Mungkin benar, semakin tinggi sebuah pohon, semakin kuat angin yang menerpanya. Tetapi kekuatan sebuah pohon bukan hanya karena ia mampu menahan angin. Kekuatan itu juga terlihat ketika ia tetap memberi teduh kepada siapa pun yang berada di bawahnya.

Barangkali itulah yang sedang diuji dari Meikel Damopolii, bukan sekadar seberapa kuat ia mempertahankan posisi, tetapi seberapa tenang ia menjaga dirinya ketika berada di tengah terpaan.

 

Komentar