Organisasi GANTI Perjuangkan Hak dan Kesejahteraan Masyarakat Nelayan dan Petani
ASKARA - Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi besar dalam sektor perikanan dan pertanian. Namun, banyak nelayan dan petani masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya akses terhadap teknologi, modal, dan pasar. Selain itu, perubahan iklim dan kebijakan yang kurang berpihak juga menjadi hambatan bagi kesejahteraan mereka.
Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GANTI) adalah sebuah organisasi yang berfokus pada advokasi dan pemberdayaan nelayan dan petani di Indonesia. Didirikan dengan tujuan untuk memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan nelayan dan petani.
Ketua Umum GANTI, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MSi memaparkan, GANTI didirikan dengan tujuan untuk memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan nelayan dan petani di Indonesia. Sebagai negara kepulauan agraris tropis terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor perikanan dan pertanian.
Namun, banyak nelayan dan petani masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya akses terhadap teknologi, modal, dan pasar. Selain itu, perubahan iklim dan kebijakan yang kurang berpihak juga menjadi hambatan bagi kesejahteraan mereka.
"GANTI berperan sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi serta mengembangkan potensi masyarakat nelayan dan petani. Hadir untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan memberikan advokasi, edukasi, dan dukungan," ujar Prof Rokhmin Dahuri dalam keterangannya, Senin (4/11).
Prof Rokhmin Dahuri menjelaskan, organisasi sayap PDIP itu akan memfasilitasi di dua sektor tersebut secara terpadu mulai dari sarana dan prasarana, produksi, pengolahan hingga menjamin pasar.
Sektor tani katanya meliputi petani pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Sedangkan sektor nelayan meliputi perikanan tangkap laut, perikanan tangkap air tawar dan budidaya.
GANTI hadir untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan memberikan advokasi, edukasi, dan dukungan. Organisasi ini berperan sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi serta mengembangkan potensi masyarakat nelayan dan petani.
"Dengan berbagai kegiatan advokasi, pemberdayaan, dan edukasi, GANTI berupaya menciptakan perubahan positif dan berkelanjutan bagi masyarakat nelayan dan petani," kata kata Prof. Rokhmin Dahuri yang juga anggota Komisi IV DPR RI itu.
Sedangkan misi dan visi GANTI adalah untuk memperjuangkan hak-hak nelayan dan petani di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Yaitu:
Pemberdayaan: Meningkatkan kapasitas nelayan dan petani melalui pelatihan dan pendampingan.
Edukasi: Menyediakan informasi dan pengetahuan yang relevan tentang teknologi, praktik pertanian dan perikanan berkelanjutan.
Kolaborasi: Membentuk kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan sektor swasta, untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan petani.
Kegiatan utama GANTI antara lain:
Pelatihan dan Workshop: GANTI sering mengadakan pelatihan dan workshop untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan nelayan dan petani tentang teknologi pertanian dan perikanan terbaru.
Advokasi Kebijakan: Mengajukan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi nelayan dan petani.
Program Pemberdayaan Ekonomi: Mengembangkan program-program yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan petani, seperti koperasi dan usaha mikro.
Kampanye Kesadaran: Mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sektor perikanan dan pertanian serta tantangan yang dihadapi oleh nelayan dan petani.
Sejak didirikan, kata Prof Rokhmin Dahuri, GANTI telah berhasil mencapai beberapa prestasi, antara lain: Peningkatan akses nelayan dan petani terhadap teknologi modern, Pengembangan program-program pemberdayaan ekonomi yang berhasil meningkatkan pendapatan nelayan dan petani, Partisipasi aktif dalam forum-forum nasional dan internasional untuk menyuarakan aspirasi nelayan dan petani Indonesia.
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, selain mensejahterakan nelayan dan petani, GANTI juga berpandangan bahwa sebagai negara kepulauan agraris tropis terbesar di dunia. Seharusnya Indonesia bukan hanya mampu memberikan pangan ke rakyatnya saja, tetapi Indonesia mempunyai potensi bisa mengekspor pangan untuk dunia.
"Namun demikian , kenyataannya alih alih menjadi eksportir dan berswasembada pangan, malah saat ini Indonesia menjadi pengimpor bahan pangan terbesar di dunia," sebutnya.
GANTI memiliki peran penting dalam memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan nelayan dan petani di Indonesia. "Dengan berbagai kegiatan advokasi, pemberdayaan, dan edukasi, GANTI terus berupaya untuk menciptakan perubahan positif dan berkelanjutan bagi masyarakat nelayan dan petani," sebut Guru Besar IPB University itu.
Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong itu prihatin terhadap tingkat kesejahteraan petani dan nelayan di Indonesia yang berada di bawah rata-rata.
GANTI, katanya, berupaya meningkatkan potensi hasil kelautan dan perhatian menjadi sektor unggulan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan perdagangan bebas lainnya. Ia menegaskan petani dan nelayan di Indonesia harus menunjukkan menunjukkan diri sebagai "pemenang".
Guna meningkatkan daya saing tinggi, Prof Rokhmin Dahuri mengungkapkan GANTI menyusun program unggulan melalui teknologi maupun sistem pengelolaan. Menurutnya, sektor sumber daya alam terbarukan mudah dihasilkan untuk meningkatkan daya saing seperti pertanian, kehutanan dan kelautan.
"Terlebih pengembangan produk kehutanan dan perikanan harus diolah menjadi produk jadi agar bernilai tinggi sehingga mencapai daya saing tinggi," tuturnya.
Maka, ia menargetkan penghasilan petani maupun nelayan sebesar Rp4 juta per bulan. Selain itu, GANTI akan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan pemerintah melalui berbagai program. "GANTI dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan," katanya.

Komentar