Sabtu, 22 Agustus 2026 | 07:16
NEWS

Dinamika Muhammadiyah, Pemimpin Besar Tahu Kapan Berganti

Dinamika Muhammadiyah, Pemimpin Besar Tahu Kapan Berganti
Ilustrasi

ASKARA - Pergantian pemimpin sering dianggap sebagai ancaman bagi pengaruh yang telah dibangun bertahun-tahun. Karena itu, kesediaan seorang pemimpin memberi ruang kepada generasi berikutnya bukan sekadar persoalan personal, melainkan ujian bagi kesehatan sebuah organisasi. Dari sinilah dinamika Muhammadiyah menjelang Muktamar 2027 menarik dibaca sebagai pelajaran tentang amanah, regenerasi, demokrasi, dan keberlanjutan gerakan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan tantangan masyarakat.

Ada sesuatu yang menarik dari cara Muhammadiyah memperlakukan kepemimpinan. Dalam tradisi organisasi yang panjang, seorang pemimpin tentu memiliki pengaruh, pengalaman, jaringan, dan rekam jejak yang tidak kecil. Namun, kebesaran seorang pemimpin semestinya tidak diukur dari berapa lama ia bertahan di pusat kekuasaan, melainkan dari seberapa kuat organisasi tetap berjalan ketika suatu saat ia tidak lagi berada di sana.

Di sinilah isu regenerasi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar pergantian nama dalam struktur kepemimpinan.

Muhammadiyah sedang menuju sebuah momentum besar. Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan berlangsung di Sumatera Utara pada 2027. Muktamar bukan semata forum untuk menentukan siapa yang duduk di kursi pimpinan. Ia merupakan ruang permusyawaratan untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, membaca perubahan zaman, menyusun agenda ke depan, sekaligus memastikan bahwa estafet gerakan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.

Dalam konteks itu, materi yang beredar mengenai sikap Haedar Nashir yang tidak lagi memasukkan dirinya dalam jajaran pleno periode mendatang menarik untuk direnungkan, meskipun pernyataan spesifik tersebut masih memerlukan pembuktian melalui rekaman atau transkrip primer. Yang lebih penting dari sekadar memastikan siapa yang akan masuk atau tidak masuk struktur adalah pesan yang dapat ditarik dari persoalan tersebut: jabatan organisasi seharusnya tidak diperlakukan sebagai kepemilikan pribadi.

Sebab, organisasi yang sehat tidak boleh bergantung secara permanen kepada satu figur.

Seorang pemimpin boleh memiliki pengaruh besar, tetapi pengaruh itu harus dikembalikan kepada nilai dan sistem. Seorang tokoh boleh sangat dihormati, tetapi penghormatan tidak semestinya berubah menjadi kultus. Seorang ketua boleh memiliki pengalaman panjang, tetapi pengalaman tersebut seharusnya menjadi modal untuk menyiapkan penerus, bukan alasan untuk menutup pintu bagi generasi baru.

Di sinilah kepemimpinan berubah dari sekadar kemampuan memimpin menjadi kemampuan melepaskan.

Melepaskan jabatan bukan berarti melepaskan pengabdian. Berakhirnya masa kepengurusan bukan berarti berakhirnya kontribusi. Justru seorang pemimpin yang matang dapat menemukan bentuk pengabdian baru setelah tidak lagi memegang kewenangan struktural. Ia tetap dapat memberi gagasan, membimbing kader, menjaga nilai, dan menjadi sumber keteladanan tanpa harus selalu berada di kursi pengambil keputusan.

Cara pandang semacam ini penting karena salah satu penyakit organisasi adalah ketika jabatan dianggap identik dengan pengabdian. Seolah-olah seseorang baru berguna ketika mempunyai posisi. Padahal, organisasi besar justru membutuhkan banyak orang yang bersedia bekerja tanpa harus selalu terlihat sebagai pemimpin.

Muhammadiyah mempunyai pengalaman panjang yang memungkinkan gagasan tersebut dibaca bukan sebagai teori kosong. Gerakan ini membangun amal usaha, lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas sosial, dakwah, serta berbagai ruang kaderisasi yang melibatkan banyak generasi. Struktur kepemimpinan hanyalah salah satu bagian dari ekosistem besar tersebut.

Karena itu, menghidupkan Muhammadiyah tidak harus selalu berarti menjadi pengurus.

Ada orang yang menghidupkan Muhammadiyah melalui ruang kelas. Ada yang menghidupkannya melalui rumah sakit. Ada yang bekerja di masjid, lembaga sosial, perguruan tinggi, sekolah, media, komunitas, penelitian, maupun kegiatan kemanusiaan. Ada pula yang mungkin tidak pernah menduduki jabatan penting, tetapi sepanjang hidupnya konsisten menjaga nilai, melayani masyarakat, dan mendidik generasi setelahnya.

Justru di sanalah ukuran keberlanjutan sebuah gerakan.

Pemimpin yang hanya mampu membuat dirinya diperlukan akan meninggalkan ketergantungan. Sebaliknya, pemimpin yang mampu melahirkan banyak orang yang siap menggantikannya sedang membangun kemandirian organisasi.

Maka kaderisasi tidak boleh dimulai ketika kursi kepemimpinan mulai kosong. Kaderisasi harus berlangsung ketika kursi itu masih diduduki. Generasi muda harus diberi kesempatan belajar mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, memimpin program, menghadapi kritik, mengelola perbedaan, dan bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang mereka buat.

Kader tidak lahir dari pidato tentang kaderisasi. Kader lahir dari kepercayaan yang benar-benar diberikan.

Muhammadiyah memiliki modal besar untuk itu. Tradisi perkaderan melalui organisasi otonom, perguruan tinggi, sekolah, pesantren, serta berbagai lembaga persyarikatan menyediakan ruang yang luas untuk menyiapkan generasi penerus. Tantangan berikutnya bukan sekadar memperbanyak jumlah kader, melainkan memastikan mereka memiliki ilmu, integritas, keluasan wawasan, kemampuan membaca perubahan, kecakapan digital, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kerendahan hati dalam menjalankan amanah.

Sebab estafet kepemimpinan bukan hanya soal siapa yang lebih muda.

Estafet adalah tentang siapa yang lebih siap membawa nilai yang sama ke medan zaman yang berbeda.

Di titik inilah keteladanan kepemimpinan Muhammadiyah menjadi relevan untuk dibaca lebih luas. Bukan karena Muhammadiyah harus dianggap sempurna, dan bukan pula karena semua pemimpinnya harus dipuji tanpa kritik. Justru organisasi yang dewasa adalah organisasi yang dapat mengapresiasi teladan sekaligus tetap membuka ruang evaluasi.

Kebesaran organisasi tidak terletak pada kemampuan mempertahankan figur selama mungkin. Kebesaran terletak pada kemampuan membuat perjuangan jauh lebih panjang daripada usia orang-orang yang pernah memimpinnya.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam sebuah estafet: seorang pemimpin tidak sedang kehilangan tempat ketika memberi ruang kepada penerusnya. Ia sedang memastikan bahwa apa yang ia perjuangkan tidak berhenti ketika dirinya selesai bertugas.

Komentar