Sabtu, 12 September 2026 | 18:29
COMMUNITY

Dari Daun Kelor, Muhammadiyah Membaca Zaman

Dari Daun Kelor, Muhammadiyah Membaca Zaman
Ilustrasi

ASKARA — Di tengah dominasi warna biru dan kuning di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu, 12 September 2026, sehelai daun kelor mengambil posisi yang tidak biasa. Ia menjadi pusat logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Tanaman sederhana itu kini memikul pesan besar: bagaimana organisasi berusia lebih satu abad membaca perubahan, merawat ketangguhan, dan memastikan dirinya tetap bermanfaat bagi Indonesia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berdiri di depan logo yang baru diluncurkan. Di layar, bentuk daun kelor berpadu dengan angka 114 dalam corak postmodern. Haedar mengingatkan, logo bukan sekadar ornamen visual. Di dalamnya ada nilai, makna, dan gagasan yang hendak dibawa sebuah gerakan.

Pilihan terhadap kelor bukan tanpa alasan. Tanaman itu tumbuh subur di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Palu, Sulawesi Tengah, tempat Tanwir Muhammadiyah 2026 akan digelar. Kelor bahkan dikenal sebagai miracle tree, pohon yang sederhana, mudah tumbuh, tetapi hampir seluruh bagiannya memberi manfaat.

Dari situlah kelor mendapatkan makna yang melampaui rupa. Haedar membacanya sebagai simbol kesederhanaan dan ketangguhan: kemampuan untuk tetap hidup dalam berbagai keadaan tanpa kehilangan nilai. Ia juga membalik ungkapan lama “dunia tak selebar daun kelor” menjadi pesan tentang keluasan wawasan, pikiran, pergaulan, dan jelajah gerakan Muhammadiyah.

Tetapi simbol selalu membawa konsekuensi. Ketika kelor dipilih untuk menggambarkan Muhammadiyah, sifat-sifat tanaman itu sekaligus menjadi cermin bagi Persyarikatan. Pada usia 114 tahun, tantangannya bukan lagi sekadar menjadi organisasi besar, melainkan memastikan kebesaran itu tetap menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Filosofi kelor bahkan menyentuh persoalan internal organisasi. Ketua PWM Sulawesi Tengah Muh Amin Parakkasi sebelumnya melihat keteraturan batang, cabang, ranting, hingga daun kelor sebagai gambaran pentingnya ketertiban organisasi. Analogi itu menemukan konteksnya ketika Muhammadiyah terus mendorong modernisasi tata kelola melalui sistem SatuMU dan Data Organisasi Muhammadiyah.

Di sinilah sebuah logo bertemu dengan persoalan yang jauh lebih konkret.

Tanwir di Palu pada November mendatang bukan sekadar rangkaian perayaan usia ke-114. Forum itu akan membicarakan program strategis Muhammadiyah untuk 25 tahun ke depan. Artinya, Persyarikatan sedang mencoba melihat dirinya hingga seperempat abad mendatang, ketika wajah Indonesia mungkin telah berubah oleh kecerdasan buatan, transformasi pendidikan, perubahan demografi, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, dan pergeseran relasi sosial.

Tema “Bersama Satukan Bangsa” membuat tantangan itu semakin luas. Persatuan tidak cukup berhenti sebagai slogan di tengah masyarakat yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan politik, identitas, dan arus informasi. Haedar menempatkan dialog, pencarian titik temu, dan moderasi sebagai jalan menghadapi perbedaan yang semakin tajam.

Palu sendiri membawa pesan yang tidak kalah kuat. Kota itu pernah menghadapi gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 2018, kemudian bangkit membangun kehidupan. Ada pertemuan simbolik antara Palu dan kelor: keduanya berbicara tentang daya tahan, kemampuan bertumbuh kembali, dan kehidupan yang tidak menyerah kepada keadaan.

Karena itu, peluncuran logo di Yogyakarta hari itu seharusnya dibaca sebagai awal, bukan pencapaian. Setelah panggung dibongkar dan logo berpindah ke baliho, batik, layar digital, dan media sosial, pekerjaan sebenarnya justru dimulai.

Muhammadiyah telah memilih kelor untuk menceritakan dirinya: sederhana tetapi bernilai, tangguh tetapi adaptif, kecil tetapi bermanfaat, serta berakar lokal dengan pandangan yang luas.

Tanwir di Palu akan menjadi salah satu tempat untuk menguji bagaimana filosofi itu diterjemahkan menjadi arah gerakan.

Dari Yogyakarta menuju Palu, daun kelor itu akhirnya membawa pertanyaan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Setelah 114 tahun bertumbuh, tantangan Muhammadiyah bukan lagi sekadar bagaimana menjadi besar, melainkan bagaimana kebesaran itu tetap terasa manfaatnya hingga ke ranting kehidupan masyarakat yang paling jauh.

Komentar