Sabtu, 12 September 2026 | 08:05
COMMUNITY

PFIJ Panjatkan Doa, Delapan Orang Hilang di Selat Sunda

PFIJ Panjatkan Doa, Delapan Orang Hilang di Selat Sunda
Pewarta Foto Indonesia Jakarta (PFIJ) menggelar doa bersama dan aksi solidaritas di belakang Pos Polisi Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat malam (Dok PFJI)

ASKARA - Di tengah riuhnya kehidupan Jakarta, ratusan jurnalis berhenti sejenak untuk menundukkan kepala. Mereka memanjatkan doa bagi delapan orang yang hingga Jumat (11/9/2026) masih belum diketahui keberadaannya setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas jurnalistik.

Pewarta Foto Indonesia Jakarta (PFIJ) menggelar doa bersama dan aksi solidaritas di belakang Pos Polisi Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat malam. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 18.30 WIB itu berlangsung dalam suasana khidmat.

Bagi para jurnalis yang hadir, malam itu bukan sekadar aksi solidaritas. Ada harapan yang terus dijaga: semoga delapan orang yang sedang dicari tim SAR dapat ditemukan dalam keadaan selamat dan kembali kepada keluarga masing-masing.

Lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut dilaporkan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menggunakan speedboat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan.

Berdasarkan informasi yang mengacu pada laporan Basarnas, komunikasi terakhir salah satu anggota rombongan tercatat sekitar pukul 14.42 WIB, ketika titik lokasi dibagikan kepada rekan di Lampung. Setelah itu, kabar mereka tidak lagi terdengar.

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni, jurnalis lepas.

Mereka bersama tiga kru kapal yang terdiri atas nakhoda, anak buah kapal (ABK), dan pemandu.

Hingga Jumat malam, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian. PFI juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan mendorong agar pencarian diperluas, termasuk menyisir sejumlah pulau di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau seperti Pulau Sertung dan Pulau Panjang.

Di Jakarta, rekan-rekan mereka memilih cara lain untuk ikut berjuang: berdoa.

Doa-doa itu mungkin tidak terdengar sampai ke tengah Selat Sunda. Namun bagi keluarga dan sahabat yang menunggu, doa menjadi salah satu cara untuk menjaga harapan agar tidak padam.

Di balik pekerjaan sebagai jurnalis, ada manusia yang memiliki keluarga, orang-orang yang mencintai, serta rumah yang selalu menunggu kepulangan. Tugas jurnalistik membawa mereka ke berbagai tempat, termasuk wilayah yang memiliki risiko tinggi.

Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa berita yang sampai kepada masyarakat sering kali lahir dari perjalanan panjang dan keberanian para jurnalis di lapangan.

PFIJ juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial mengenai kejadian tersebut. Informasi yang muncul di Instagram, TikTok maupun platform digital lainnya perlu diverifikasi melalui Basarnas, kepolisian dan sumber resmi lainnya sebelum digunakan sebagai fakta pemberitaan.

Malam semakin larut ketika doa bersama itu selesai. Namun harapan belum selesai.

Para jurnalis yang hadir berharap operasi SAR terus berjalan dengan maksimal dan segera menemukan delapan orang tersebut dalam keadaan selamat.

Sebab malam ini, bukan hanya keluarga yang menunggu.

Ada satu keluarga besar bernama pers yang sedang menanti kepulangan mereka.

 

Komentar