ASKARA - Menjadi pemimpin tidak cukup hanya dengan berani tampil. Kemampuan menyampaikan gagasan, mendengarkan orang lain dan membangun kepercayaan diri juga perlu dilatih sejak dini.
Semangat itulah yang mewarnai Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS masa bakti 2026–2027 di SMPN Buti, Papua Selatan. Kegiatan yang berlangsung Sabtu (3/10/2026) di ruang multimedia sekolah itu diikuti 41 siswa.
Di bawah arahan Pembina OSIS Bertha Simamora, S.Pd., para siswa mendapatkan pembekalan public speaking dari Wilhelmina Welliken, S.Sos., seorang praktisi komunikasi di Papua Selatan yang berpengalaman sebagai presenter radio dan televisi lokal, MC, moderator, sekaligus jurnalis.
Bertha mengatakan, pembekalan tersebut dipersiapkan sebagai bagian penting dari LDK agar siswa yang nantinya tergabung dalam kepengurusan OSIS memiliki bekal untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
“Kami berharap materi ini dapat menjadi bekal bagi siswa-siswi yang nantinya tergabung dalam OSIS masa bakti 2026–2027,” ujar Bertha.
Dukungan juga disampaikan Wakasek Kesiswaan SMPN Buti, Matheis Laritmas, S.Pd. Menurutnya, public speaking merupakan salah satu keterampilan yang relevan bagi siswa karena dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus membangun life skill.
“Melalui materi public speaking akan mendorong kemampuan kognitif anak. Mereka bisa mencerna secara lebih mendalam bagaimana harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara atau bertindak,” kata Matheis.
Suasana pembelajaran pun tidak berlangsung satu arah. Para siswa diberi kesempatan tampil dan berbicara langsung di depan kelas. Sebagian sudah terlihat cukup fasih, sementara sebagian lainnya masih tampak malu-malu.
Namun, justru dari keberanian untuk mencoba itulah proses belajar dimulai.
Wilhelmina memberikan pemahaman dasar mengenai komunikasi, termasuk mengenali posisi seseorang ketika berada dalam sebuah aktivitas komunikasi, apakah sebagai komunikator yang menyampaikan pesan maupun komunikan yang menerima pesan.
Pemahaman tersebut dinilai penting agar siswa tidak hanya berani berbicara, tetapi juga mampu memahami pesan, mendengarkan dan berkomunikasi secara tepat.
Selain teknik berbicara, para siswa juga diajak memahami pentingnya membangun nilai-nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi berlangsung dinamis. Siswa mulai berani mengemukakan pendapat dan berlatih berbicara tanpa terlalu dibayangi rasa malu.
Bagi sebagian siswa, pengalaman tersebut bahkan membuka keberanian untuk mengenali minat mereka sendiri.
Teresia, salah seorang peserta, mengaku senang mengikuti materi tersebut. Ia mengatakan ingin belajar menjadi seorang master of ceremony (MC).
Kegiatan sederhana itu pun menjadi bagian dari proses menyiapkan generasi muda SMPN Buti agar tidak hanya siap menjadi pengurus OSIS, tetapi juga memiliki keberanian berbicara, berpikir sebelum bertindak dan mampu menyampaikan gagasan dengan baik.
Sebab kepemimpinan sering kali dimulai dari hal sederhana: berani berdiri, berbicara dan didengarkan.