Minggu, 06 September 2026 | 10:02
COMMUNITY

Di Tengah Dunia Bising, Mereka Memilih Berdoa

Di Tengah Dunia Bising, Mereka Memilih Berdoa
Paus Leo XIV bertemu dengan komunitas Sacramentine Nuns (Dok Vatican)

ASKARA - Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan penuh suara, ada orang-orang yang memilih jalan berbeda: berhenti sejenak, masuk dalam keheningan, dan menghabiskan hidup untuk berdoa.

Mereka adalah para Sacramentine Nuns atau Perpetual Adorers of the Most Blessed Sacrament. Kehidupan mereka sepenuhnya diabdikan untuk adorasi Sakramen Mahakudus, siang dan malam. Pilihan hidup yang sunyi itu mendapat perhatian khusus dari Paus Leo XIV saat bertemu dengan sejumlah anggota komunitas tersebut, Sabtu.

Bagi Paus Leo, keheningan mereka bukanlah ketiadaan. Justru di dalam keheningan itulah mereka menghadirkan kesaksian tentang kerinduan manusia kepada Tuhan.

Paus menyebut kehadiran para biarawati tersebut sebagai kesaksian yang bercahaya tentang kemurahan hati Allah, yang menanamkan dalam hati manusia keinginan untuk mencari dan merenungkan wajah-Nya.

“Pencarian terus-menerus akan wajah Allah, yang secara khusus menjadi ciri kehidupan monastik, memiliki dimensi khusus dalam panggilan yang kalian terima,” ujar Paus Leo.

Sacramentine Nuns didirikan di Roma pada 1807 oleh Beata Maria Maddalena dari Inkarnasi. Para biarawati mengikuti Regula Santo Agustinus dan menjalani kehidupan kontemplatif dengan pusat perhatian pada Ekaristi.

Mereka yang bertemu dengan Paus merupakan bagian dari Federasi Roh Kudus, yang menaungi sekitar 30 biara, sebagian besar berada di Meksiko. Federasi tersebut berdiri sekitar 50 tahun lalu dan mencakup hampir separuh biara kongregasi Sacramentine yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Bagi Paus Leo, adorasi Ekaristi bukan hanya bentuk devosi pribadi. Di dalamnya terdapat pesan yang jauh lebih luas: persatuan.

Ia mengingatkan pemikiran Santo Agustinus bahwa roti dan anggur di atas altar merupakan sakramen kesatuan umat beriman dalam Kristus. Karena itu, Gereja membutuhkan spiritualitas Ekaristi yang sekaligus menjadi spiritualitas persatuan dalam kasih.

Para biarawati, kata Paus, dipanggil menjadi “penenun persekutuan” melalui benang-benang doa dan kerja, adorasi Ekaristi serta kehidupan persaudaraan di dalam biara.

Pesan itu terasa sederhana, tetapi dalam. Dunia mungkin membutuhkan semakin banyak suara untuk didengar, tetapi Gereja juga membutuhkan orang-orang yang bersedia diam untuk mendengarkan Tuhan.

Dalam kehidupan yang tampaknya jauh dari hiruk-pikuk dunia, para Sacramentine Nuns justru diyakini memancarkan keindahan wajah Kristus kepada dunia melalui doa mereka.

Mengakhiri pertemuan, Paus Leo XIV mengajak para biarawati menjalani hidup bakti dengan harapan yang diperbarui dan kerinduan untuk mencapai kekudusan.

Ia mengingatkan, kesetiaan pada kebijaksanaan Injil yang tua sekaligus selalu baru merupakan jalan terbaik bagi mereka yang, dengan tuntunan Roh Kudus, mengabdikan hidup untuk mengasihi Allah dan sesama.

Sebab terkadang, dunia tidak hanya membutuhkan lebih banyak suara. Dunia juga membutuhkan keheningan yang berdoa.

 

Komentar