Minggu, 27 November 2022 | 16:56
OPINI

Menjalani Hidup Setelah 40 Tahun, So What ?

Menjalani Hidup Setelah 40 Tahun, So What ?
Ilustrasi 40 Tahun (int)

Oleh: Sigit Jati Waluyo, Content Creator

“Life begins at forty”, ungkapan itu sudah sering kita dengar. Mengapa harus usia ke- 40 ? Banyak yang memperkirakan, bahwa pada usia ke- 40 orang biasanya sudah mapan, atau stabil, baik dari segi karir, finansial, dan aspek lainnya.

Sedangkan dari segi usia, kedewasaan dapat dibagi ke dalam tiga fase: pertama, fase dewasa muda yaitu pada usia 20 – 40 tahun. Pada fase ini cenderung disibukkan dengan ambisi mengejar karir, mencari uang sebanyak mungkin, dan pencapaian lainnya.

Kedua, fase dewasa menengah yaitu pada usia 40 – 60 tahun. Pada rentang usia ini kemungkinan banyak yang sudah mapan secara finansial, dan karir. Tetapi, bila pada usia 40 tahun kestablian itu belum dicapai, maka ungkapan,”Life begins at forty” bisa menjadi motivasi untuk meraih kesuksesan karir, finansial, maupun kehidupan sosial yang membahagiakan.

Ketiga, fase dewasa lansia yaitu pada usia 60 tahun ke atas. Pada fase ini kondisi fisik dan kesehatan mungkin sudah kurang prima dan mulai sakit-sakitan, maka membutuhkan dukungan keluarga dan orang-orang tercinta untuk menjalani kehidupan.

Tetapi fakta membuktikan, bahwa ternyata banyak orang yang sukses pada masa dewasa lansia, entah itu pengusaha, seniman, ilmuwan/ akademisi, dan sebagainya. Contoh:  Thomas Alva Edison yang hingga usia 80 tahun mampu menghasilkam empat ribuan paten/ hak cipta, serta memiliki perusahaan General Electric yang memasarkan hasil patentnya hingga kini.

Bila menyelami lebih dalam, mereka yang telah stabil secara karir dan finansial pada usia 40 tahunan mempunyai beberapa karakterisitk, antara lain: pertama, prioritas hidup mulai berubah. Ia tidak lagi mengedapankan ego personal melainkan mulai memprioritaskan rumah tangga, kesejahteraan keluarga, dan membantu orang lain.

Kedua, kepercayaan diri meningkat. Artinya mampu membuat piilhan lebih selektif, dan jeli dalam mengambil risiko. Ketiga, tidak suka main drama. Maksudnya, berpijak ada pertimbangan yang kalkulatif dan tidak sembarangan dalam memutuskan pilihan.

Keempat, bersikap apa adanya, dalam arti berani mengungkapkan pendapatnya tanpa ragu. Kelima, berani mengatakan “tidak” tanpa berbelit-belit. Termasuk, atas hal-hal yang secara prinsip bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjungnya.

Perosalan mendasarnya, setelah kita mapan secara finansial, karir yang stabil, dan pencapaian positif lainnya, apakah hidup ini sudah selesai ? Apa tugas dan kewajiban kita di dunia ini ? Bukankah manusia itu selain makhluk individu, juga makhluk sosial dan makhluk Tuhan ? Kalau kehidupan kalau sudah mapan secara ekonomi dan sosial,  so what ?

Disinilah kita menemukan, bahwa kehidupan adalah suatu yang selalu menarik untuk didiskusikan, sebab kehidupan itu sendiri merupakan bagian dari keberadaan manusia yang tidak pernah tuntas untuk diselidiki. Sebab manusia adalah makhluk yang mencari makna, artinya memberikan makna atas proses kehidupan yang dijalaninya.

Berkenaan hal ini, sudah banyak tulisan tentang apa yang dilakukan setelah kita sukses dan stabil pada usia 40 tahunan, utamanya dari sisi kesehatan. Sementara, sharing ini akan lebih menitikberatkan fase kehidupan manusia secara filosofis

Mencintai Kebijaksanaan

Merefleksikan perjalanan hidup manusia terdapat kenyataan bahwa: pertama, kehidupan itu merupakan suatu proses yang berlangsung secara terus-menerus. Kedua, kehidupan setiap makhluk hidup pasti mempunyai tujuan.

Paling tidak dari struktur biologisnya dapat diketahui bahwa tujuan makhluk hidup itu adalah untuk penyempurnaan diri dan menjaga kelangsungan spesiesnya. Sedangkan untuk merealisasikan diri menjadi semakin sempurna dan utuh, manusia terus berproses secara terus-menerus, Kesimpulan ini berangkat dari fakta bahwa manusia tidak pernah merasa hidupnya sudah sempurna.

Ia mengalami hidupnya selalu ditarik ke atas yang mengarah kepada kesempurnaan, yaitu kebijaksanaan, keutamaan, atau kebaikan. Dengan kata lain, manusia tidak pernah merasa, bahwa dirinya sudah sempurna. Dari sinilah kita perlu melihat esensi kehidupan manusia secara filosofis. Sebab, filsafat sejak awal telah bergulat dengan upaya menyingkap kehidupan manusia yang menyimpan banyak misteri.

Filsafat berasal dari akar kata philo dalam bahasa Yunani yang berarti mencintai dan sophia yang berarti kebaikan, keutamaan atau kebijaksanaan. Jadi philosophia berarti mencintai kebijaksanaan. Berkenaan hal ini manusia bertugas mencari dan mencintai kebijaksanaan, yaitu seni, bagaimana manusia mengembangkan hidupnya agar lebih bahagia paripurna.

Kehidupan bahagia yang paripurna di dunia itu diawali dengan cara mencintai kebijaksanaan, keutamaan, atau kebaikan. Salah satu contoh konkret dalam mencintai kebijaksanaan adalah dengan berusaha secara konsisten menjalani kehidupan yang mendasarkan pada proses kerelaan untuk melepaskan, memberi dan menerima.

Melepaskan

Menjalani kehidupan sebagai proses melepaskan berarti hidup dengan kesadaran bahwa kehidupan adalah proses pelepasan secara terus-menerus hingga akhirnya tiba pada suatu pelepasan yang radikal, yakni terlepasnya badan dan jiwa.

Oleh karena itu sebelum dipaksa oleh kematian untuk melepaskan hal-hal yang mengikat, adalah bijaksana untuk melepaskannya secara sadar dengan suka rela. Orang yang sudah dewasa butuh melepaskan masa kecilnya. Jika orang sudah tua, maka ia butuh melepaskan masa mudanya. Setiap orang butuh melepaskan masa lalunya, apapun bentuknya.

Setiap orang butuh melepaskan kekuasaannya, dalam berbagai bentuknya. Contoh dalam dunia kerja; Manusia tidak dapat terus mempertahankan kekuasaan dengan pimpinan selamanya. Sebab perusahaan pun memerlukan perbaikan dengan cara menerima pandangan atau pemikiran yang baru untuk mencapai kinerja yang tinggi.

Jadi, penggantian kepemimpinan merupakan fase yang tak bisa dihindari. Juga, misalnya kita memutuskan melakukan kegitan sosial akan berisiko pada pengurangan waktu untuk mennikmati hiburan.

Secara singkat, setiap orang butuh melepaskan diri dari kemelekatan terhadap: kenikmatan, kekuasaan, kekayaan dan lain-lain yang menghalanginya untuk menjadi lebih lepas bebas atau merintangi manusia untuk lebih mencintai kebijaksanan

Memberi

Menghidupi kehidupan dengan memberi berarti hidup dengan kesadaran untuk rela berbagi dengan yang lain. Setiap orang dapat; Memberi cinta kasihnya kepada orang lain; Memberi perhatiannya; Memberi kepada orang lain hak-hak mereka; Memberi maaf dan pengampunan; Memberi kegembiraan dan harapan serta; Membei damai. Dan sebagainya. Memberi atau kerelan berbagi merupakan hakikat cinta.

Menerima

Sementara menjalani kehidupan dengan menerima berarti hidup dengan kesadaran untuk mau memikul tanggung jawab. Bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap: diri dan hidupnya; sesama manusia; semua makhluk hidup; kelesatrian alam dan; kelangsungan hidup di planet bumi ini.

Dari sharing ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Manusia adalah makhluk yang mencari makna, artinya memberikan makna atas proses kehidupan yng dijalaninya. Jadi, setelah sukses dalam karir, finansial dan pencapaian lainnya, kehidupan manusia tidak selesai begitu saja. Usia 40 tahunan menjadi babak baru kehidupan yang terarah pada upaya mencari dan mencintai kebijaksanaan. Yaitu, seni bagaimana orang dapat memperkembangkan hidupnya agar lebih bahagia paripurna.

2. Proses mencari dan mencintai kebijaksanaan dilakukan konsisten dan kerelaan dengan cara yaitu: pertama, melepaskan kemelekatan (kenikmatan, kekuasan, kekayaan, dan sebagainya). Kedua, terus memberi. Artinya, kesadaran untuk selalu rela berbagi dengan orang alin. Ketiga, menjalani kehidupan menerima, yaitu memikul tanggung jawab untuk merawat hidup dan kehidupan ini, baik menyangkut diri sendiri, orang lain dan alam semesta.

3. Sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk beragama, maka cinta dan bakti kita kepada Tuhan pun mesti diterapkan dalam kehidupan individu, keluarga, sosial, dan alam semesta.

Sekian, semoga bermanfaat.

Komentar