Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04
OPINI

Piala Dunia Sepak Bola dan Pentingnya Persatuan Bangsa

Piala Dunia Sepak Bola dan Pentingnya Persatuan Bangsa
FIFA World Cup 2026 (foto.int)

Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed

ASKARA - Belakangan ini media sosial kembali diramaikan berbagai unggahan dan tagar yang mengaitkan Indonesia dengan Singapura. Para buzzer sibuk berdebat, saling menyerang, saling menyalahkan, bahkan terkadang saling menghina.

Namun bagi sebagian masyarakat, pertanyaan yang paling mendasar justru belum terjawab, sebenarnya apa inti persoalannya?

Hubungan Indonesia dan Singapura memang bukan cerita baru. Sebagai dua negara bertetangga yang memiliki hubungan ekonomi, politik, dan sosial yang sangat erat, dinamika dan gesekan sesekali pasti terjadi. Kadang karena persoalan ekonomi, kadang karena kebijakan, kadang pula karena perbedaan kepentingan nasional.

Namun di tengah hiruk-pikuk tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan, bagaimana caranya kita tetap fokus pada kepentingan Indonesia?

Dalam sejarahnya, pernah terjadi gesekan antara Singapura, salah satunya dengan aktivis Indonesia yang sedang memperjuangkan sebuah gagasan besar bagi bangsa ini. 

Aktivis tersebut adalah Sarman, yang hingga hari ini tetap konsisten dan tidak pernah lelah mencari peluang agar Indonesia suatu saat dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia sepak bola.

Bagi sebagian orang, mimpi itu mungkin terdengar terlalu besar. Namun semua pencapaian besar bangsa selalu berawal dari orang-orang yang berani bermimpi.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan semata urusan sepak bola. Dampaknya sangat luas. Jutaan wisatawan mancanegara akan datang ke Indonesia.

Industri perhotelan, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif, UMKM, hingga sektor pariwisata akan bergerak secara signifikan. 

Sponsor internasional berdatangan, investasi meningkat, infrastruktur berkembang, dan nama Indonesia semakin dikenal di panggung dunia.

Pendek kata, manfaatnya bukan hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.

Karena itu, ketika ada anak bangsa yang memperjuangkan gagasan besar tersebut, seharusnya kita tidak terburu-buru menjatuhkan atau mencibir. Boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai niat baik bagi kemajuan bangsa.

Di sinilah pentingnya persatuan.
Sebab sejarah membuktikan bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan pendapat, melainkan bangsa yang mampu menyatukan berbagai perbedaan untuk mencapai tujuan bersama.

Pepatah lama tetap relevan hingga hari ini, "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".

Kalau mau berpikir secara logis, banyak negara yang menghadapi tantangan jauh lebih berat dibanding Indonesia tetapi tetap dipercaya menjadi penyelenggara Piala Dunia.

Salah satu contohnya adalah Meksiko. Negara tersebut selama bertahun-tahun menghadapi persoalan migrasi ilegal menuju Amerika Serikat, kejahatan terorganisasi, kartel narkotika, kesenjangan sosial, serta tantangan keamanan yang tidak ringan. 

Namun demikian, dunia tetap menilai bahwa negara tersebut memiliki kemampuan untuk menjadi tuan rumah ajang olahraga terbesar di dunia.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia memiliki stabilitas politik yang relatif baik, pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, masyarakat yang ramah, budaya yang kaya, serta pengalaman menyelenggarakan berbagai event internasional. 

Kita sukses menggelar Asian Games, berbagai kejuaraan dunia, hingga Piala Dunia U-17 yang mendapat apresiasi dari banyak pihak.

Artinya, peluang itu sebenarnya ada. Yang sering kali menjadi kendala justru bukan kemampuan bangsa ini, melainkan kurangnya soliditas dalam memperjuangkan kepentingan nasional secara bersama-sama.

Terlalu sering energi bangsa habis untuk saling menjatuhkan.

Terlalu sering perbedaan pandangan berubah menjadi permusuhan.

Terlalu sering kita lebih sibuk mencari kesalahan sesama anak bangsa daripada mencari solusi.

Padahal negara-negara maju tidak dibangun oleh kelompok yang selalu sepakat, melainkan oleh masyarakat yang mampu bekerja sama meskipun memiliki banyak perbedaan.

Karena itu, pemerintah boleh berganti. Presiden boleh berganti. Menteri boleh berganti. 

Tetapi cita-cita besar Indonesia harus tetap berjalan.

Kita berharap pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dengan dukungan seluruh elemen bangsa, termasuk para aktivis sepak bola yang sejak dahulu konsisten memperjuangkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia, mimpi besar tersebut semakin mendekati kenyataan.

Harapan itu sesungguhnya tidak hanya hidup dalam diri para aktivis. Harapan itu hidup di hati jutaan suporter Indonesia yang dikenal dunia karena loyalitasnya, kreativitasnya, dan kecintaannya terhadap sepak bola.

Dari Aceh hingga Papua, dari stadion megah hingga lapangan kampung yang sederhana, jutaan suporter Indonesia masih menunggu satu momen bersejarah, melihat dunia datang ke Indonesia untuk menyaksikan Piala Dunia.

Mungkin hari itu belum datang sekarang.

Mungkin jalannya masih panjang.

Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari keyakinan bahwa mimpi tersebut layak diperjuangkan.

Dan ketika suatu hari bendera Merah Putih berkibar sebagai tuan rumah Piala Dunia, keberhasilan itu bukan milik satu orang, bukan milik satu organisasi, bukan milik satu pemerintahan.

Itu adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita lebih banyak membangun daripada menjatuhkan.

Lebih banyak bersatu daripada bertengkar.

Lebih banyak memikirkan masa depan bangsa daripada sibuk memperbesar perbedaan.

Karena pada akhirnya, Indonesia yang kuat hanya dapat lahir dari rakyat yang mampu berdiri bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Viva Indonesia.

Jayalah sepak bola Indonesia.
Dari mimpi, menuju prestasi.

Dari persatuan, menuju Piala Dunia.

Komentar