Awas! Londo Ireng!
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Dulu kita dijajah Londo. Kulit putih, hidung mancung, bawa tongkat, menenteng buku filsafat Erasmus. Rakyat disuruh tanam paksa, kerja rodi, bayar pajak. Kita lawan. Teriak "Merdeka!"
Sekarang 80 tahun kemudian, kita merdeka. Selamat! Tapi anehnya, ada spesies baru yang muncul. Namanya: Londo Ireng.
Ciri-ciri Londo Ireng
1. Kulitnya Indonesia, kelakuannya Londo
Londo Ireng tidak datang dengan kapal dan meriam. Dia datang dengan dasi, mobil dinas, dan PowerPoint. Jargonnya "abdi rakyat", tapi rapatnya di hotel bintang 5. Kalau pidato: "Kita harus berkorban untuk bangsa." Korbannya ya... kita.
2. Hobinya "Edukasi" rakyat
Zaman Londo dulu ada "Politik Etis": katanya mendidik pribumi. Londo Ireng versi modern juga sama. "Kami mendidik kalian biar paham regulasi." Padahal regulasinya dibikin muter 7 keliling biar rakyatnya pusing dan akhirnya nyerah, terus bayar "jasa percepatan" atau pajak pertambahan nilai padahal nilainya nihil.
3. Tanam Paksanya ganti nama
Dulu tanam paksa kopi dan tebu. Sekarang tanam paksa proyek. Wajib beli, wajib ikut, wajib dukung. Kalau tidak, nanti "tidak kondusif". Bedanya: dulu hasilnya dibawa ke Amsterdam. Sekarang hasilnya mampir dulu ke rekening lalu dicuci di luar negeri, baru sebagian kecil nyampe ke rakyat. Lebih efisien
Kenapa Londo Ireng Lebih Bahaya?
Karena Londo asli kita bisa kenali dari jauh. Hidungnya beda. Bahasanya beda.
Londo Ireng? Susah. Dia ngomong bahasa kita, makan sambal, selfie di pasar. Tapi begitu masuk ruangan, otaknya langsung switch ke mode: "Bagaimana caranya tetap berkuasa ?"
Londo dulu menjajah 350 tahun. Londo Ireng bisa menjajah 5 tahun sekali, dan kita yang milih sendiri. Yang paling lucu: Londo Ireng paling anti dibilang Londo. Dikit-dikit "Ini fitnah! Ini buzzer! Ini tidak Pancasilais!" Padahal kelakuannya: jual sumber daya, impor kebijakan, dan minta rakyat "sabar".
Obatnya Apa?
Obatnya bukan ganti Londo Ireng dengan Londo Ireng yang baru. Itu sama saja ganti aki soak dengan aki soak. Obatnya: kita berhenti jadi "pribumi" yang nurut. Mulai jadi warga yang berani bertanya :
"Pak, proyek ini buat siapa?"
“Bu, APBD-nya larinya kemana?"
"Mas, janjinya masih inget nggak?"
Selama kita masih tepuk tangan ketika dikasih bansos 200 ribu, selama itu juga Londo Ireng akan terus hidup. Sehat, gemuk, dan rajin upload kegiatan "turun ke rakyat".
Merdeka itu bukan cuma usir penjajah berkulit putih.
Merdeka itu kalau kita berani bilang: "Hei Londo Ireng, cukup."

Komentar