Sabtu, 01 Agustus 2026 | 03:53
OPINI

Logika Makan Logika

Logika Makan Logika
Ilustrasi logika makan logika (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Ada seekor ular di dalam otak manusia. Namanya logika. Dan ular itu lapar. Ia makan ekornya sendiri. Itulah Logika Makan Logika. Mirip Jeruk Makan Jeruk.

1. Paradoks di Ruang Tamu Akal

Logika lahir untuk menertibkan kekacauan. "Jika A, maka B". "Semua manusia mati. Sokrates manusia. Maka Sokrates mati." Rapi. Bersih. Adil. Tapi begitu logika menoleh ke dirinya sendiri, ia bingung.

Kalimat: "Kalimat ini salah." Jika benar, berarti ia salah. Jika salah, berarti ia benar.

Logika memakan dirinya. Ia bertanya "apa yang benar?" lalu menggigit tangannya sendiri karena tidak menemukan jawaban yang tidak berdarah. Naskah ini tanpa judul maka judul buku ini adalah tanpa judul.

2. Saat Alat Menjadi Tuhan

Masalahnya bukan pada logika. Masalahnya saat kita menyembah logika.

Kita pakai logika untuk membuktikan cinta: "Dia chat tiap hari, berarti sayang."

Kita pakai logika untuk membenarkan kejam: "Demi efisiensi, 10 orang harus dikorbankan." Kita pakai logika untuk menolak misteri: "Kalau tidak bisa diukur, berarti tidak ada.Bisa juga Yang Maha Kuasa sedemikian Maha Kuasa sehingga Kuasa membuat batu sedemikian berat sehingga Yang Maha Kuasa sendiri tidak Kuasa mengangkatnya

Di titik itu logika tidak lagi jadi lampu. Ia jadi pisau. Ia memotong hal-hal yang tidak muat di rumusnya: intuisi, iman, keindahan, luka batin. Logika makan logika lain. Ia mengklaim "aku satu-satunya jalan" lalu menelan semua jalan lain.

3. Takdir

Saya tidak percaya takdir namun takdir saya adalah tidak percaya takdir maka terpaksa saya percaya takdir sebab tidak percaya takdir merupakan takdir saya.

4. JamunyaKeraguan

Filsuf besar tidak mati karena logika. Mereka hidup karena ragu pada logika. Sokrates bilang "Aku tahu bahwa aku tidak tahu". Itu logika yang menelan kesombongannya sendiri.  Kierkegaard bilang "lompatan iman". Itu logika yang mengakui ada jurang yang tidak bisa dijembatani silogisme. Einstein bilang "imajinasi lebih penting dari pengetahuan". Itu logika yang menunduk pada keajaiban. Keraguan bukan musuh logika. Keraguan adalah pagar. Agar logika tidak makan dirinya sendiri sampai habis.

Homo Ludens. Bermain dengan logika sebenarnya perlu sebagai tatihan kebugaran otak maupun meningkatkan daya kreatifitas. Namun bagi yang tidak paham : bermain dengan logika rawan dianggap sebagai perilaku mubazir , Seperti anjing muter-muter mengejar ekornya sendiri atau ular melahap ekornya sendiri sampai akhirnya len

Penutup

Manusia akan selalu butuh logika. Tanpa logika kita tersesat di hutan hoaks dan emosi. Tapi manusia juga butuh diam. Butuh seni. Butuh ruang untuk berkata "aku tidak mengerti, dan itu tidak apa-apa."

Karena jika logika tidak pernah berhenti makan, pada akhirnya yang tersisa hanya tulang-belulang: fakta tanpa makna, data tanpa jiwa, benar tanpa baik.

Biarkan logika bekerja. Tapi jangan biarkan ia makan dirinya sendiri.

Kadang jawaban paling logis adalah "Aku tidak tahu. Mari kita jalan bersama saja."

 

Komentar