Doomscrolling: Ketika Jempol Terus Bergerak, tetapi Pikiran Semakin Lelah
Oleh: Anggun Aulia
(Mahasiswa Universitas Pamulang)
ASKARA - Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu informasi, tetapi tanpa terasa sudah menghabiskan waktu puluhan menit dengan terus menggulir layar? Awalnya, mungkin kita hanya ingin mengetahui kabar terbaru. Namun, satu berita membawa kita menuju berita lainnya, satu video mengarah pada video berikutnya, hingga akhirnya kita dipenuhi informasi tentang konflik, kecelakaan, kriminalitas, masalah ekonomi, bencana, hingga berbagai persoalan kehidupan orang lain.
Kebiasaan tersebut semakin dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu perilaku terus-menerus mengonsumsi informasi negatif melalui media digital, meskipun informasi itu membuat seseorang merasa cemas, lelah, atau tidak nyaman.
Fenomena ini semakin mendapat perhatian dalam penelitian di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan pada Juni 2026 dalam Jurnal Pendidikan Tambusai membahas doomscrolling dan dampaknya terhadap kesehatan mental mahasiswa. Penelitian tersebut mengaitkan perilaku doomscrolling dengan algoritma media sosial, Fear of Missing Out (FoMO), serta berbagai dampak seperti kecemasan, overthinking, gangguan konsentrasi, dan kelelahan mental.
Fenomena serupa bahkan sedang dikaji pada kelompok usia yang lebih muda. Pada September 2026, tim peneliti dari Universitas Siliwangi melakukan penelitian mengenai fenomena doomscrolling pada remaja SMA dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Hal ini menunjukkan bahwa doomscrolling bukan lagi sekadar istilah populer di internet, melainkan perilaku digital yang cukup serius untuk diteliti secara akademis.
Namun, muncul pertanyaan menarik: mengapa seseorang tetap melihat informasi yang membuatnya tidak nyaman? Mengapa kita sulit berhenti menggulir layar, bahkan ketika pikiran sebenarnya sudah merasa lelah?
Jawabannya mungkin terletak pada cara media sosial bekerja, sekaligus pada sifat dasar manusia yang selalu ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.
Media sosial memang menawarkan kemudahan luar biasa dalam memperoleh informasi. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di kota lain, bahkan negara lain. Informasi mengenai pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hiburan, hingga peristiwa dunia tersedia dalam satu layar kecil yang selalu berada dalam genggaman.
Masalahnya, arus informasi tersebut hampir tidak pernah berhenti.
Ketika satu informasi selesai dilihat, platform langsung menawarkan informasi berikutnya. Fitur seperti infinite scrolling membuat pengguna tidak perlu lagi menekan tombol untuk berpindah halaman. Layar dapat terus digulir tanpa batas yang jelas. Akibatnya, manusia kehilangan salah satu tanda sederhana yang biasanya memberi tahu bahwa suatu aktivitas telah selesai.
Dalam membaca buku, misalnya, kita mengetahui kapan sebuah halaman atau bab berakhir. Dalam menonton film, ada bagian penutup yang menandakan cerita telah selesai. Namun, media sosial hampir tidak memiliki titik akhir.
Selama jari masih bersedia bergerak, konten berikutnya selalu tersedia.
Di sinilah doomscrolling dapat berkembang tanpa disadari.
Seseorang mungkin awalnya membaca berita mengenai kondisi ekonomi karena ingin mengetahui situasi terbaru. Setelah itu, muncul berita kriminalitas, konflik, bencana, atau isu sosial lainnya. Rasa penasaran membuat pengguna membuka satu informasi lagi, kemudian satu lagi. Tanpa terasa, pikiran terus menerima informasi yang sebagian besar bermuatan negatif.
Penelitian yang dipublikasikan pada Februari 2026 mengenai mahasiswa menggambarkan bahwa kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti dapat berkaitan dengan digital fatigue atau kelelahan digital. Kebiasaan tersebut sering terjadi pada waktu senggang maupun menjelang tidur. Seseorang yang awalnya hanya ingin melihat kabar terbaru justru terjebak dalam arus informasi yang membuat pikirannya semakin penuh.
Menariknya, doomscrolling bukan hanya persoalan banyaknya waktu yang digunakan untuk memegang telepon pintar. Permasalahan yang lebih dalam terletak pada jenis informasi yang dikonsumsi dan bagaimana informasi tersebut memengaruhi kondisi emosional seseorang.
Konten negatif secara alami memiliki daya tarik tersendiri bagi manusia. Informasi mengenai ancaman, bahaya, atau masalah sering membuat seseorang merasa perlu mengetahuinya agar dapat mengantisipasi sesuatu yang mungkin terjadi.
Dalam kehidupan nyata, kemampuan memperhatikan ancaman memang memiliki fungsi penting. Namun, ketika mekanisme tersebut bertemu dengan media sosial yang menyediakan informasi tanpa batas, rasa waspada dapat berubah menjadi konsumsi informasi yang berlebihan.
Seseorang mungkin berpikir bahwa dengan terus membaca berita terbaru, ia akan merasa lebih siap menghadapi keadaan. Kenyataannya, semakin banyak informasi yang diterima belum tentu membuat seseorang semakin tenang.
Sebaliknya, seseorang dapat merasa dunia jauh lebih buruk daripada keadaan yang sebenarnya karena sebagian besar informasi yang muncul di layarnya berisi masalah.
Algoritma media sosial juga memiliki peran penting. Platform digital mempelajari jenis konten yang membuat pengguna berhenti, menonton, membaca, memberikan komentar, atau membagikannya. Ketika seseorang sering berinteraksi dengan suatu jenis konten, platform dapat menyajikan lebih banyak konten dengan pola serupa.
Akibatnya, pengguna dapat memasuki lingkaran informasi yang semakin sempit.
Jika seseorang sering melihat berita tentang kriminalitas, misalnya, ia dapat menerima lebih banyak berita kriminalitas. Jika ia sering membaca konflik dan kontroversi, konten serupa dapat terus muncul. Lama-kelamaan, halaman media sosial seseorang dapat memberikan gambaran seolah-olah dunia hanya dipenuhi masalah.
Penelitian terhadap siswa SMP yang diterbitkan pada Juni 2026 juga menemukan bahwa faktor internal, seperti bias kognitif dan lemahnya kontrol diri, serta faktor eksternal, seperti algoritma digital dan FoMO, dapat berperan dalam munculnya perilaku doomscrolling.
FoMO atau Fear of Missing Out menjadi bagian penting dari fenomena ini. Banyak pengguna merasa harus terus mengetahui informasi terbaru agar tidak tertinggal dari percakapan orang lain.
Ketika sebuah isu sedang ramai dibicarakan, muncul dorongan untuk mengetahui siapa yang terlibat, apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana reaksi publik, dan apa perkembangan terbarunya. Setiap pembaruan terasa penting, bahkan ketika informasi tersebut sebenarnya tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan kita.
Media sosial kemudian menciptakan situasi yang aneh. Kita dapat mengetahui konflik seorang figur publik yang tidak pernah kita temui, perdebatan orang asing di kota yang belum pernah kita kunjungi, atau masalah kehidupan seseorang yang bahkan tidak mengetahui keberadaan kita.
Jumlah informasi bertambah, tetapi kemampuan manusia untuk memproses informasi tetap terbatas.
Akibatnya, pikiran dapat mengalami kelelahan.
Doomscrolling juga sering terjadi pada malam hari. Banyak orang menjadikan ponsel sebagai benda terakhir yang mereka lihat sebelum tidur. Niat awalnya sederhana: membuka media sosial selama beberapa menit. Namun, karena tidak ada akhir yang jelas dari arus konten, beberapa menit dapat berubah menjadi waktu yang jauh lebih panjang.
Penelitian kualitatif mengenai perilaku digital mahasiswa pada malam hari yang dipublikasikan pada Maret 2026 bahkan membahas doomscrolling sebagai perilaku yang dapat mengganggu kesejahteraan mental mahasiswa.
Persoalannya tidak berhenti pada waktu tidur yang berkurang.
Setelah menerima begitu banyak informasi, otak masih harus memproses berbagai cerita, konflik, gambar, dan emosi yang muncul. Tubuh mungkin sudah berbaring, tetapi pikiran belum benar-benar beristirahat.
Tidak mengherankan jika seseorang dapat menutup media sosial dengan perasaan yang berbeda dari saat membukanya.
Ia mungkin awalnya merasa santai, tetapi setelah menggulir layar selama satu jam, justru merasa khawatir terhadap masa depan, membandingkan kehidupannya dengan orang lain, takut terhadap berbagai kemungkinan buruk, atau merasa seolah-olah banyak masalah harus dipikirkan sekaligus.
Ironisnya, ketika kecemasan muncul, seseorang terkadang kembali membuka media sosial untuk mencari distraksi.
Siklus pun dimulai kembali.
Namun, menyebut media sosial sebagai satu-satunya penyebab tentu terlalu sederhana. Media sosial pada dasarnya juga memberikan banyak manfaat. Melalui platform digital, masyarakat dapat memperoleh informasi penting dengan cepat, menemukan komunitas, belajar keterampilan baru, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, hingga menjaga komunikasi dengan orang lain.
Permasalahan bukan terletak pada keberadaan informasi, melainkan pada ketidakmampuan menentukan kapan kita sudah menerima informasi yang cukup.
Di era digital, kemampuan berhenti mungkin justru menjadi salah satu bentuk literasi yang paling penting.
Literasi digital selama ini sering dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi, mencari informasi, atau membedakan informasi benar dan salah. Padahal, literasi digital juga seharusnya mencakup kemampuan mengatur hubungan kita dengan teknologi.
Seseorang perlu mengetahui kapan harus mencari informasi dan kapan harus menjauh sejenak darinya.
Hal sederhana dapat dilakukan dengan menetapkan waktu khusus untuk membaca berita atau membuka media sosial. Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan agar perhatian tidak terus-menerus ditarik kembali ke layar. Pengguna juga dapat lebih selektif memilih akun yang diikuti dan berhenti mengikuti sumber yang terus memicu kecemasan tanpa memberikan manfaat nyata.
Yang tidak kalah penting adalah mengenali kondisi diri sendiri.
Jika setelah membaca suatu konten kita merasa semakin cemas, marah, takut, atau lelah, mungkin masalahnya bukan karena kita belum mengetahui cukup banyak informasi. Bisa jadi, justru kita telah menerima terlalu banyak informasi untuk diproses dalam satu waktu.
Berhenti menggulir bukan berarti tidak peduli terhadap keadaan dunia.
Menjaga jarak dari arus informasi selama beberapa waktu juga tidak berarti seseorang menjadi tidak berwawasan. Sebaliknya, batas tersebut memungkinkan manusia kembali melihat informasi dengan pikiran yang lebih jernih.
Kita tidak harus mengetahui setiap peristiwa yang terjadi saat itu juga.
Tidak semua berita harus dibaca.
Tidak semua perdebatan harus diikuti.
Tidak semua tren harus diketahui sebelum tidur.
Teknologi seharusnya membantu manusia memahami dunia, bukan membuat manusia merasa harus mengawasi seluruh dunia setiap saat.
Doomscrolling memperlihatkan salah satu paradoks kehidupan digital modern. Kita hidup pada masa ketika informasi begitu mudah diperoleh, tetapi justru kesulitan menentukan kapan harus berhenti mencarinya. Kita memiliki akses terhadap lebih banyak pengetahuan daripada generasi sebelumnya, tetapi pada saat yang sama harus belajar melindungi perhatian dari banjir informasi yang tidak pernah selesai.
Karena itu, tantangan terbesar di era media sosial mungkin bukan sekadar bagaimana memperoleh informasi sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana memilih informasi yang benar-benar layak mendapatkan perhatian kita.
Pada akhirnya, jempol memang dapat terus menggulir layar tanpa batas. Namun, pikiran manusia tetap memiliki batas.
Mengetahui kapan harus berhenti bukan berarti kalah terhadap perkembangan teknologi. Justru di situlah manusia kembali mengambil kendali.
“Tidak semua yang muncul di layar membutuhkan perhatian kita. Terkadang, menutup layar adalah cara sederhana untuk membuka kembali ruang bagi pikiran.”

Komentar