Sabtu, 25 Juli 2026 | 01:56
NEWS

Kardinal Suharyo Serukan Pertobatan untuk Para Pemimpin Bangsa

Kardinal Suharyo Serukan Pertobatan untuk Para Pemimpin Bangsa
(Dari kiri ke kanan) Pastor Clarence Devadass, Kardinal Pablo Virgilio David, Kardinal Mario Grech, Kardinal Ignatius Suharyo, dan Pastor Thomas Ulun Ismoyo (Dok Askara)

ASKARA - Pertobatan (conversion) menjadi pesan utama yang mengemuka dalam Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia (Federation of Asian Bishops' Conferences/FABC) yang berlangsung di Jakarta. Seruan tersebut tidak hanya ditujukan bagi Gereja Katolik di Asia, tetapi juga menjadi undangan moral bagi seluruh elemen masyarakat, terutama para pemimpin dan pengambil kebijakan di berbagai negara Asia.

Hal itu disampaikan Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, dalam konferensi pers Sidang Pleno FABC XII bertema Listening, Discernment and Emerging Directions di Jakarta, Jumat (24/7/2026). Turut hadir sebagai narasumber Kardinal Pablo Virgilio David selaku Wakil Presiden FABC, Kardinal Mario Grech sebagai Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup, serta P. Clarence Devadass, Sekretaris Eksekutif Komisi Sinodalitas FABC.

Menurut Kardinal Suharyo, sejak pembukaan Sidang Pleno pada Selasa (21/7/2026), sekitar 120 uskup dan kardinal dari 22 konferensi waligereja dan wilayah gerejawi di Asia telah mengikuti rekoleksi, diskusi, debat, serta berbagi pengalaman pastoral. Para peserta juga memperoleh berbagai perspektif dari para ahli mengenai tantangan global yang dihadapi Asia saat ini.

"Dalam diskusi, satu kata yang terus diulang sampai tiga kali adalah conversion, conversion, conversion. Saya memaknai ini sebagai sebuah undangan, bukan hanya bagi Gereja Katolik, tetapi bagi siapa pun yang berada pada posisi strategis dalam menentukan arah perjalanan bangsa dan negara," kata Kardinal Suharyo.

Ia menegaskan, ajakan pertobatan tersebut bukanlah pesan politik, melainkan seruan dalam ranah moral. Menurutnya, para peserta sidang banyak menyoroti berbagai persoalan yang masih menjadi tantangan di negara-negara Asia, seperti penghormatan terhadap martabat manusia, kemiskinan, korupsi, kesenjangan sosial, hingga kerusakan lingkungan akibat eksploitasi alam.

Kardinal Suharyo menjelaskan, nilai-nilai ajaran sosial Gereja seperti penghormatan terhadap martabat manusia, mengutamakan kebaikan bersama, solidaritas, perhatian kepada kaum miskin, serta tanggung jawab merawat bumi menjadi arah pembicaraan dalam Sidang Pleno FABC. Menurutnya, mereka yang paling merasakan dampak dari kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial adalah masyarakat yang kurang beruntung.

"Ini bukan perintah, tetapi undangan moral bagi siapa saja yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menjalankan pertobatan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kesadaran moral yang semakin kuat, diharapkan kehidupan bersama di Asia menjadi lebih adil, manusiawi, dan berorientasi pada kebaikan bersama," ujar Kardinal Suharyo.

Sidang Pleno XII FABC sendiri menjadi forum penting bagi para pemimpin Gereja Katolik Asia untuk mendengarkan, melakukan penegasan bersama (discernment), serta merumuskan arah pelayanan Gereja dalam menjawab tantangan zaman, sekaligus memperkuat kontribusi moral Gereja bagi kehidupan masyarakat Asia.

 

Komentar