Gila atau Waras
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Gila atau waras adalah konsep maka nisbi sebab dapat berbeda-beda tergantung pada konteks budaya, sosial, dan medis. Secara umum, gila atau tidak gila dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir, merasa, dan berperilaku secara rasional dan adaptif dalam lingkungan sekitarnya. Konsep gila telah ada sejak zaman kuno, dengan berbagai definisi dan penjelasan. Pada zaman kuno, gila dianggap sebagai hukuman dari dewa atau akibat dari kekuatan supernatural. Pada abad ke-19, konsep gila mulai didefinisikan secara medis dan psikologis, dengan penekanan pada gangguan mental dan perilaku.
Mengukur dan memastikan gila atau waras dapat dilakukan melalui beberapa cara:
1. Diagnosis Psikiatri: Dokter psikiatri menggunakan kriteria diagnosis dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) untuk menentukan apakah seseorang memiliki gangguan mental atau tidak. Mirip tes gula darah untuk menentukan diabetes atau tidak dan jika diabetes lalu jenis apa
2. Tes Psikologis: Tes psikologis seperti tes IQ, tes kepribadian, noda tinta Rohrschach, tes neuropsikologis dapat membantu mengidentifikasi gangguan mental atau kognitif.
3. Observasi Perilaku: Observasi perilaku seseorang dalam lingkungan sekitarnya dapat membantu mengidentifikasi pola perilaku yang tidak normal alias beda dari standard norma;
4. Wawancara Klinis: Wawancara klinis dengan dokter psikiatri atau psikolog dapat membantu mengidentifikasi gejala-gejala gangguan mental.
Pada usia lanjut Carl Gustav Jung dianggap gila oleh beberapa orang akibat minatnya yang semakin besar pada alam gaib, paranormal, okultisme, dan pseudosains. Namun, perlu diingat bahwa Jung adalah seorang psikiater dan psikolog yang sangat berpengaruh, dan karyanya masih dipelajari dan dihargai oleh banyak orang. Jung sendiri mengakui bahwa minatnya pada alam gaib dan paranormal mulai berkembang setelah ia mengalami beberapa pengalaman pribadi yang tidak biasa, termasuk mimpi dan visi yang sangat meyakinkan. Ia percaya bahwa pengalaman-pengalaman ini dapat memberikan wawasan tentang alam bawah sadar dan proses individuasi. Beberapa karya Jung yang dianggap kontroversial, seperti "The Red Book" dan "Memories, Dreams, Reflections", menunjukkan minatnya pada alam gaib dan paranormal. Namun, perlu diingat bahwa Jung sendiri tidak pernah mengklaim bahwa karyanya adalah sains atau bahwa ia memiliki kemampuan paranormal.
Gagasan baru kerap dianggap gila semisal Columbus berlayar ke arah Barat demi mencari India, Kafka dan Joice menggagas konsep sastra baru, Einstein dengan teori nisbinya, Wittgenstein dengan pendekatan holistik-praktis terhadap bahasa, dodekafoni Schoenberg, kubisme Picasso, Jepang dengan proyek piramida Shimizu Mega City, prakarsa Jokowi mermbangun IKN, gagasan saya mendirikan MURI, mempergelar wayang orang di Sydney Opera House, resital pianoforte dan komposisi diri sendiri di Carnegie Hall, Jamu goes to UNESCO, Kelirumologi, Kedaulatan Filsafat Indonesia. Saya kerap meragukan kewarasan diri saya sendiri akibat setiap hari memaksakan diri menulis minimal satu naskah dengan tema saling beda.
Ada beberapa kesamaan antara kegilaan dan pemikiran quantum yang dapat membuat kita mempertanyakan batas antara keduanya.
Kesamaan antara kegilaan dan pemikiran quantum
1. Tidak linear: Pemikiran quantum dan kegilaan seringkali tidak linear, tidak logis, dan tidak dapat diprediksi karena loncat-loncat ke sana-sini.
2. Melanggar norma: Pemikiran quantum dan kegilaan seringkali melanggar norma-norma yang ada, sehingga terkesan absurd atau tidak masuk akal.
3. Mengubah perspektif: Pemikiran quantum dan kegilaan dapat mengubah perspektif kita tentang realitas, sehingga kita melihat dunia dengan cara yang berbeda.
4. Tidak pasti: Pemikiran quantum dan kegilaan seringkali tidak pasti, sehingga kita tidak dapat memprediksi hasilnya.
Beberapa contoh antara lain :
1. Albert Einstein: Einstein adalah contoh seorang ilmuwan yang memiliki pemikiran quantum yang revolusioner, tetapi juga dianggap gila oleh beberapa orang pada saatnya.
2. Niels Bohr: Bohr adalah contoh lain dari ilmuwan yang memiliki pemikiran quantum yang inovatif, tetapi juga dikenal karena kegilaan sepak terjang.
3. Edwin Schroedinger: Eksperimen pemikiran Schrödinger dengan kucingnya adalah contoh dari pemikiran quantum yang terkesan gila, tetapi sangat penting dalam ikhtiar memahami prinsip-prinsip quantum.
Meskipun ada kesamaan antara kegilaan dan pemikiran quantum, bukan berarti kegilaan secara langsung terkait dengan kemampuan untuk memahami quantum. Namun, kegilaan dapat membantu kita untuk berpikir di luar kotak, melanggar norma-norma baku, mencairkan pendapat beku dan melihat dunia dengan cara yang berbeda demi membantu kita memahami konsep-konsep quantum maupun apapun yang kompleks serta liar berkeliaran di alam semesta.

Komentar