Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:17
OPINI

Aneka Ragam versi Ramayana

Aneka Ragam versi Ramayana
Ilustrasi aneka ragam versi Ramayana (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Ramayana memiliki aneka ragam versi saling beda di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Ramayana versi India/Walmiki, dan Sri Lanka memiliki perbedaan yang signifikan sebagai berikut.

* Ramayana versi India ditulis oleh Walmiki dianggap sebagai yang asli dan paling tua. Dalam versi ini, Rama adalah tokoh protagonis yang baik dan suci, sedangkan Rahwana adalah antagonis yang sangat jahat. Saking jahatnya, Rahwana dihukum tidak bisa mati sambil abadi menderita kepala dijepit dua gunung sampai masa kini

* Ramayana versi Sri Lanka juga dikenal sebagai "Rawan Wada" atau saya pribadi menyebut “Rahwanayana”, memiliki pemutar-balikkan kisah yang saling bertolak belakang. Dalam versi Alengka, Rahwana adalah tokoh protagonis yang berbudi luhur dan mulia, sedangkan Rama adalah sosok antagonis yang jahat, pengecut, penuh angkara murka. Ramayana versi Sri Lanka, dipengaruhi oleh tradisi lokal dan keyakinan yang bertolak belakang terhadap India. Dalam tradisi Sri Lanka, Rahwana dianggap sebagai raja yang bijak, demi rehabilitasi citra Rahwana yang dirusak oleh Walmiki.

* Ramayana versi Thailand  memiliki perbedaan dalam cerita dan karakter akibat telah disebarluaskan dan diadaptasi ke dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda di Asia Tenggara dan Selatan. Setiap kebudayaan memiliki interpretasi dan penafsiran masing-masing sehingga menghasilkan versi-versi yang saling berbeda. Misalnya di dalam Ramayana Thailand, Hanuman adalah seorang perempuan yang perkasa dan setia, diperankan oleh penari perempuan. Dalam beberapa kasus, Hanuman juga bisa diperankan penari lelaki yang memiliki kemampuan memainkan peran perempuan -- seperti Mei Lanfang di Opera Beijing -- namun dianggap kurang umum.

Tradisi Khon Thailand memiliki aturan yang ketat tentang peran dan kostum,. Tradisi Khon dan Ramakien di Thailand analog tradisi Wayang dan Mahabharata-Ramayana di Indonesia. Khon (teater) = Wayang (teater) sementara Ramakien (wiracarita) = Mahabharata-Ramayana (wiracarita). Khon dan Wayang memiliki kesamaan dalam hal menggunakan wiracarita India sebagai sumber inspirasi, menggunakan teater tradisional sebagai media berkisah, menggunakan topeng, kostum, dan gerakan formal untuk menampilkan cerita,  memiliki nilai-nilai kebudayaan dan spiritual yang kuat. Misalnya Rama punya banyak isteri seperti Arjuna dalam Mahabharata.

Di Thailand, Ramayana relatif lebih popular ketimbang Mahabharata karena   Ramayana telah diperkenalkan ke Thailand sejak abad ke-10 melalui perdagangan dan hubungan kebudayaan dengan India. Cerita ini kemudian diadaptasi dan di-Thailand-kan menjadi Ramakien. Juga karena Ramayana memiliki cerita yang lebih sederhana maka lebih mudah dipahami ketimbang Mahabharata yang memiliki plot lebih  kompleks. Ramayana memiliki tema yang relevan dengan nilai-nilai kebudayaan Thailand, seperti kesetiaan, keberanian, dan pertempuran antara kebaikan melawan kejahatan. Kerajaan Thailand telah lama menggunakan Ramayana sebagai sumber inspirasi untuk memperkuat legitimasi dan kekuasaan mereka. Bahkan Rama merupakan gelar bagi para raja Thailand dinasti Chakri.

Mahabharata, memiliki karakter dan alur kisah lebih rumit dan kompleks maka tidak sepopuler Ramayana di Thailand. Namun, beberapa elemen Mahabharata telah diserap ke dalam kebudayaan Thailand, seperti karakter-karakter yang muncul dalam cerita rakyat Thailand. Sementara Nusantara kreatif menggubah lelakon khusus menjembatani Ramayana dengan Mahabharata yaitu Arjuna Sasrabahu didampingi Bambang Sumantri bersama adinda buruk rupa, Sukrasana yang tidak eksis di India maupun Sri Lanka dan Thailand. Melalui jalur penyebaran Buddhisme, pengaruh Ramayana juga merambah masuk ke dalam sukma legenda-legenda lokal tradisional Tibet dan Jepang. Di Bhutan, Ramayana disebut sebagai 'Ling Gesar Gyalpo'.

Bahkan di kompleks candi Prambanan, relief cerita Ramayana dipahat mengelilingi dinding bagian dalam Candi Siwa (candi utama) dan dilanjutkan di Candi Brahma yang keduanya merupakan dewa utama Hinduisme. Kisahnya dibaca dengan cara pradaksina (melingkar dari kiri ke arah kanan). Sementara sendratari Ramayana dipergelar di pelataran candi Prambanan.

 

Komentar