Mandrill versus Baboon
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Di Afrika ada dua “jenderal monyet” yang mukanya sangar: mandrill dan baboon. Sama-sama dari famili Cercopithecidae, sama-sama punya pantat merah. Tapi strategi “survival of the fittest”-nya beda kayak langit dan sabana
Mandrill = gabungan “man” + “drill”. “Man” karena mukanya mirip manusia berjenggot. “Drill” dari kata Inggris kuno buat “monyet besar Afrika”. Nama ilmiahnya Mandrillus sphinx. “Sphinx” karena muka biru-merahnya misterius kayak patung Mesir. Artinya: “Manusia misterius berjenggot”.
Baboon = dari bahasa Prancis Kuno babouin → Latin babuīnus. Akar katanya dari kata Mesir Kuno babi = nama dewa monyet Thoth. Jadi baboon = “Keturunan Dewa Thoth”. Artinya: “Monet suci penjaga ilmu”. Pantes kelakuannya pinter ngakalin manusia.
Mandrill hidup di hutan hujan Afrika Barat. Gelap, lembab, kelompoknya bisa 800 ekor. PR-nya: mengatur 800 monyet tanpa tiap hari perang? Jawabannya: warna sebagai KTP. Jantan mandrill punya muka biru + hidung merah + pantat pelangi. Itu bukan bulu, tapi kulit telanjang + pembuluh darah. Warna ngejreng = dia sehat, banyak makan, bebas parasit. Sakit dikit, warna langsung pudar. Nggak bisa bohong. Ini “handicap principle”-nya Darwin. Bikin warna mahal itu susah, jadi cuma jantan fittest yang sanggup. Betina pilih jantan paling biru-merah karena gen anaknya bagus. Predator macan tutul juga diuntungkan: tinggal nyergap yang pucat = yang lemah. Alam beres. Kelompok utuh, gen kuat yang nyebar. Itu fittest.
Baboon tinggal di sabana + pegunungan. Terbuka, terang, predator singa + macan tutul + hyena di mana-mana. Kelompoknya kecil, 20-150 ekor. PR-nya: gimana kabur hidup-hidup tiap hari? Jawabannya: otot + taring + lari. Baboon tidak butuh warna RGB. Warna ngejreng di padang terbuka = undangan makan siang buat singa. Jadi evolusi pilih yang sederhana: pantat merah bata aja, cukup buat sinyal birahi. Sisanya fokus ke paha kuat buat sprint 55 km/jam dan taring 5 cm buat ngelawan. Baboon fittest karena fleksibel. Dia makan apa aja: umbi, serangga, sampah, telur burung. Nggak pilih-pilih. Otaknya pinter ngakalin pagar kebun manusia. Yang fleksibel = yang selamat pas musim kemarau. Itu fittest versi baboon.
Mandrill versus baboon menyadarkan kita: “fittest” bukan berarti “paling kuat” atau “paling cantik”. Fittest = paling pas sama soalnya. Soal mandrill: “Atur 800 monyet di hutan gelap”. Jawab: warna neon. Soal baboon: “Kabur dari singa di padang terang”. Jawab: otot dan otak. Sama-sama lulus ujian. Cuma beda jurusan. Mandrill jurusan Psikologi Sosial. Baboon jurusan Ilmu Survival.
Mandrillus sphinx ngajarin: jujur itu indah. Warna luar harus cocok sama isi dalam. Papio babuinus ngajarin: adaptif itu selamat. Nggak usah gaya, yang penting lolos. Kita manusia? Kita hybrid mandrill-baboon. Kita dandan kayak mandrill, tapi otak ngakalnya kayak baboon. Dua-duanya keren. Dua-duanya bukti bahwa alam itu seniman paling jenius.

Komentar