Rabu, 17 Juni 2026 | 20:34
OPINI

Kontroversi Graham Hancock

Kontroversi Graham Hancock
Ilustrasi kontroversi Graham Hancock (Dok Gemini-Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Graham Hancock, seorang jurnalis dan penulis asal Inggris, telah menjadi   figur paling memikat sekaligus memicu polarisasi semesta arkeologi. Melalui buku-buku terlarisnya seperti Fingerprints of the Gods hingga serial dokumenter Netflix Ancient Apocalypse, Hancock berhasil membius jutaan orang. Namun, di balik popularitasnya yang masif, ia menjadi musuh nomor satu bagi komunitas arkeologi arus utama.

Kontroversi Hancock berakar pada hipotesis tunggal yang radikal: adanya sebuah peradaban global yang sangat maju pada masa Zaman Es (sekitar 12.800 tahun lalu). Menurutnya, peradaban ini hancur seketika akibat bencana banjir besar yang dipicu oleh hantaman komet. Hancock mengeklaim bahwa para penyintas dari peradaban maju ini kemudian berkeliling dunia. Mereka membagikan pengetahuan astronomi, arsitektur, dan pertanian kepada pemburu-pengumpul lokal. Bagi Hancock, kemiripan arsitektur megah kategori belive-it-or-not di berbagai belahan dunia adalah bukti nyata dari warisan peradaban yang hilang tersebut.

Bukti paling krusial dalam teori Hancock adalah Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Hancock mendedikasikan episode pertama serial Netflix-nya khusus untuk membahas situs ini. Opini Hancock tentang Gunung Padang sangat radikal. Berdasarkan riset geolog Indonesia, Dr. Danny Hilman Natawidjaja, Hancock meyakini bahwa Gunung Padang bukan bukit alami, melainkan piramida buatan manusia tertua di dunia yang dibangun berlapis-lapis hingga berusia 25.000 tahun. Hancock menggunakan situs ini sebagai senjata utama untuk mengeklaim bahwa wilayah Sundaland (Nusantara purba) adalah pusat dari peradaban maju Zaman Es yang hilang tersebut.

Komunitas sains dan arkeologi main-stream menolak mentah-mentah teori Hancock, menyematkan label pseudoarkeologi (arkeologi semu). Alasan utamanya adalah ketiadaan bukti empiris. Arkeolog menegaskan bahwa Gunung Padang adalah situs punden berundak dari era megalitikum (sekitar 2.000 SM), sementara struktur di bawahnya merupakan formasi batuan lava alami, bukan buatan manusia. Skandal meledak ketika jurnal ilmiah Archaeological Prospection resmi menarik kembali (retraksi) makalah Danny Hilman yang didukung Hancock karena anggapan ditemukan kesalahan fatal dalam penafsiran penanggalan karbon. Para akademisi menuduh Hancock melakukan cherry-picking—hanya mengambil data yang mendukung narasinya. Jika arkeolog belum bisa menjelaskan sepenuhnya misteri suatu situs, Hancock langsung menyimpulkan bahwa teknologi canggih masa lalu adalah jawabannya. Hancock sering memosisikan diri sebagai jurnalis independen yang tertindas oleh "dogma akademis". Narasi ini sangat disukai publik yang skeptis terhadap institusi formal. Sebaliknya, para arkeolog merasa frustrasi karena menilai tayangan Hancock mendegradasi profesi mereka dan menyesatkan publik.

Graham Hancock adalah pendongeng hebat yang berhasil memicu rasa ingin tahu global terhadap masa lalu bumi. Namun, tanpa adanya bukti ilmiah yang valid, opini Hancock tentang Gunung Padang maupun peradaban kuno lainnya tetap berada di ranah fantasi sejarah, bukan ilmu pengetahuan. Pada hakikatnya, dapat dikatakan bahwa pendahulu Graham Hancock dalam bidang arkeologi mahluk luar angkasa adalah Eric von Daeniken yang tersohor dengan buku hipotesis angkasawan purba kaliber best-seller berjudul kontroversial “Chariot of the Gods” yang juga sukses membelah opini publik.

Secara subyektif, saya berpendapat bahwa ada yang lebih penting ketimbang melibatkan diri ke dalam Kontroversi Graham Hancock. Sebagai warga Indonesia, saya mengharap para arkeolog segera menghentikan kemelut polemik usia situs Gunung Padang untuk bersatupadu menominasikan situs Gunung Padang ke UNESCO demi setara Borobudur resmi diakui sebagai warisan kebudayaan dunia. MERDEKA!

 

Komentar