Rasa Memliki Problem
Oleh: Sigit Jati Waluyo, content creator
ASKARA - Organisasi masyarakat tumbuh dan berkembang selayaknya manusia. Dari sinilah muncul kebutuhan, mengapa manusia berorganisasi. Jadi, interaksi antar manusia menjadi sesuatu yang mutlak dan dari pengalaman itu manusia belajar, bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia membutuhkan bantuan orang lain. Maka, manusia masuk dalam kelompok-kelompok, sebab jika sendiri saja seorang individu tidak mungkin hidup secara wajar. Lalu proses sosial terjadi ketika manusia banyak berkenalan dan berhubungan dengan orang lain. Kemudian memilih aktif dalam komunitas/ organisasi tertentu, entah itu kelompok hobiis, bisnis, olahraga, komunitas kekerabatan, komunitas agama, kelompok profesi, komunitas budaya, kelompok politik, dan sebagainya.
Pada awalnya para individu hanya sekedar kumpul-kumpul, atau mengisi waktu luang, tetapi seiring waktu berjalan dilihat, bahwa komunitas atau organisasi perlu dikembangkan lebih serius, yaitu menjadi kelompok sosial. Kelompok sosial merupakan suatu organisasi yang mempunyai ciri-ciri seperti: pertama, kesadaran bahwa setiap anggota mempunyai peran penting dalam organisasi. Kedua, adanya interaksi sosial yang intensif, yang membuat kegiatan kelompok terus berkembang. Ketiga, adanya nilai-nilai yang dihayati dan diperjuangkan. Keempat, ada struktur organisasi, peraturan, serta pola perilaku yang disepakati, termasuk menyangkut hak dan kewajiban anggota. Kelima, bersistem dan berproses. Artinya organisasi berjalan mengikuti sistem yang teratur. Jadi, apabila satu komponen tidak berfungsi, maka komponen lain akan terganggu.
Lalu dalam perjalanan hidupnya, organisasi (bisnis dan non bisnis) tidak pernah sepi dari berbagai problem yang mendera. Suatu masalah berhasil diselesaikan, masalah lain muncul dan silih berganti. Sesungguhnya, berbagai permasalahan itu bukanlah sesuatu yang merugikan, tetapi membuktikan adanya dinamika dan daya adaptif organisasi dalam menghadapi tantangan. Adanya masalah justru menjadi peluang bagi organisasi untuk maju. Tetapi, bagaimana segala permasalahan itu disikapi akan bergantung kepada segenap penghuni rumah, atau warga organisasi itu sendiri. Tentu, tanggung jawab terbesar berada di pundak pemegang keputusan (decision maker). Tetapi perlu mengkomunikasikan masalah tersebut kepada para anggota orgaisasi, sebab mereka mempunyai kewajiban membantu penyelesaian masalah secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam proses mengatasi masalah-masalah akan muncul berbagai bentuk interaksi sosial, entah itu berupa kerja sama, persaingan, pertikaian, dan akomodasi (kerjasama yang intensif). Namun patut dicatat, bahwa keempat bentuk interaksi sosial tersebut tidak selalu terjadi berurutan. Pada sisi lain, saat menghadapi situasi lingkungan yang terus berubah, para individu/ anggota organisasi akan berusaha menyesuaiakan diri dan pilihannnya yaitu: pertama, individu mengikuti situasi lingkungan. Artinya, lingkunganlah yang membentuk kepribadian individu dan konsekuensinya, individu harus siap melakukan banyak kompromi. Kedua, individu secara aktif mempengaruhi dan mengubah lingkungannya. Disini individu tampil sebagai “agent of change”, yang siap membawa nilai-nilai, vitalitas (daya hidup) dan semangat baru dalam berorganisasi
Tetapi semua perubahan/ pembangunan yang dicita-citakan takkan terwujud jika individu/ anggota orgsanisasi bersikap apatis, atau enggan terlibat aktif. Sementara, sewaktu di dunia bisnis kita sering mendengar ungkapan sense of belonging (rasa memiliki). Umumnya ditafsirkan, bahwa sense of belonging adalah bekerja sebaik-mungkin, agar berdampak positif bagi kinerja perusahaan dan kesejahteraan warga organisasi. Pemahaman seperti itu tidaklah salah, tetapi kurang mendalam, sebab sense of belonging yang sesungguhnya adalah “rasa memiliki problem” komunitas/ organisasi itu sendiri. Rasa memiliki problem inilah yang mestinya juga menjadi spirit bagi aktivis sosial, baik dalam lingkup komunitas/ organisasi yang kecil maupun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Seperti telah dipaparkan, bahwa kehidupan manusia selalu lekat dengan masalah, yang menuntut keterlibatan warga organisasi/ masyarakat untuk mengatasinya. Misalnya : Ketiadaan program pemberdayaan masyarakat miskin ; Semakin banyak anak-anak yang tidak menjunjung sopan-santun; Rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengatasi masalah di lingkungannya; Pimpinan tidak memiliki terobosan untuk mengatasi berbagai masalah pembangun; Komunitas agama kurang mengembangkan kegiatan doa dan kesalehan sosial; Rendahnya toleransi beragama; Korupsi yang merajalela; Hukum yang tumpul dan tidak berkeadilan; Tingginya ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat; dan sebagainya. Pertanyaannya, adakah “rasa memiliki problem” terhadap masalah-masalah tersebut, atau kita justru masa bodoh?
Sejuan, semoga bermanfaat.

Komentar