Rabu, 17 Juni 2026 | 15:31
OPINI

Mengapa Semakin Banyak Orang yang Tidak Sopan ?

Mengapa Semakin Banyak Orang yang Tidak Sopan ?
Ilustrasi sopan santun (int)
Oleh: Sigit Jati Waluyo, Content creator: 
 
ASKARA - Barangkali, saat ini tidak sulit untuk menemukan anak-anak yang berperilaku kasar atau tidak sopan dalam keseharian pergaulan mereka. Tetapi, apakah kekasaran itu hanya dimonoli anak-anak? Tampaknya tidak demikian. Sering kita saksikan di media, ada saja orang-orang yang menunjukkan sikap dan perilaku yang melanggar sopan santun. Seperti: berkata-kata kasar, melakukan ujaran kebencian, menghina, memfitnah, menyebarkan informasi hoaks, dan sebagainya. Bahkan yang membuat kita mengelus dada, ada tokoh masyarakat yang terkenal pun melakukan hal serupa.  Malah terkadang presiden jadi sasarannya. Ini sudah melewati batas sopan santun. Bukankah salah satu bentuk sopan santun adalah menghormati pemimpin? Kita boleh mengkritik, boleh tidak suka, tidak setuju kepada orang lain, termasuk pemimpin kita, tetapi haruskah diungkapkan dengan kata-kata yang kasar? Budaya sopan santun masyarakat seakan hilang begitu saja. Agar nilai-nialai sopan santun tetap terpelihara, barangkali pendidikan budi pekerti perlu lebih digiatkan utamanya dalam lingkungan keluarga, sekolah, komunitas agama, maupun lembaga penting lainnya.
 
Mengapa kita mesti menjunjung sopan santun? Sebab manusia itu bukanlah robot, tetapi makhluk yang berakal-budi. Manusia memiliki akal, kecerdasan, dan kepandaian. Tetapi manusia juga memiliki moral, akhlak, nilai-nilai luhur, hati nurani ataupun budi pekerti dan oleh karenanya manusia disebut sebgai makhluk berakal-budi. Sehingga sesama manusia semestinya saling menghormati dengan mempraktikkan sopan santun tanpa perlu melihat statusnya. Sejak kecil kita telah diajarkan menghormati orang tua, orang yang lebih tua, menghormati orang lain, guru, ulama, pemimpin, dan sebagainya. Kita pun telah mendapatkan pendidikan budi pekerti di dalam keluarga, sekolah, komunitas agama, lingkungan kerja, dan sebagainya. Adakah pendidikan budi pekerti yang belum kita terima sehingga kita enggan menjalankan sopan santun? Bagaimana sopan santun itu diajarkan dan dari mana memulainya?
 
Hakikat Sopan Santun
Mungkin, titik awal pendidikan dan pengajaran sopan santun dimulai dari spirit, “Hargailah sesama manusia seperti menghargai dirimu sendiri”. Jika kita ingin orang lain berbuat baik kepada kita, terlebih dahulu berbuat baiklah kepada orang lain. Jika ingin dihormati oleh orang lain, hormatilah dulu orang lain. Ini menegaskan, bahwa ukuran atau dasar perilaku sopan santun adalah memberikan perhatian terhadap perasaan orang lain (consideration for others). Spirit tersebut diatas menjadi acuan, bahwa sopan santun merupakan landasan membangun hubungan yang baik dan selaras dengan sesama. 
 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sopan santun identik dengan budi pekerti yang baik; tata krama; peradaban dan; kesusilaan. Sopan santun berarti sikap atau perilaku tertib sesuai dengan adat istiadat, norma-norma, atau nilai-nilai yang berlaku dalam pergaulan antar manusia setiap hari. Ciri utama sopan santun yaitu: sikap saling menghormati, bertutur kata baik, bersikap rendah hati, serta suka menolong. Sopan santun sering dimaknai sebagai sifat lemah lembut yang dimiliki oleh setiap orang yang dapat dilihat dari sudut pandang bahasa maupun tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kesopan-santunan yang benar  lebih menonjolkan pribadi yang baik dan menghormati siapa saja. Boleh jadi, kesopan-santunan akan mengorbankan diri sendiri demi orang lain atau kepentingan masyarakat. Dalam praktik, sopan santun mengedepankan asas kepantasan, kepatutan, dan kebiasaan baik yang seharusnya berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. 
 
Bagaimana menjaga dan mengembangkan sopan santun dalam kehidupan di masyarakat, barangkali tips-tips berikut bisa menjadi bahan pertimbangan.
 
1. Menghormati dan menghargai orang lain, sebagaimana kita menghormati dan menghargai diri sendiri.
2. Menjunjung tinggi toleransi dan menghargai sesama tanpa membeda-bedakan agama, ataupun faktor lainnya.
3. Tidak menyepelekan orang lain, dan bersifat melindungi (mengayomi).
4. Menjaga empati, yaitu berusaha memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain.
5. Tidak berbicara bohong, berkata-kata kotor, kasar, dan sombong.
6. Selalu bersiap menolong dan ramah kepada sesama.
7. Menghargai pertolongan dan pengorbanan orang lain.
8. Dapat menahan amarah dan tidak mudah tersinggung.
9. Menjaga kesabaran, seperti perilaku mau mengantri.
10. Percaya diri, namun tetap rendah hati.
11. Berbicara dan berpendapat secara jujur, baik dan benar.
12. Luwes beradaptasi, tanpa meghilanglan identitas pribadi, ataupun menyimpang dari orientasi dan nilai hidup yang telah dipilih.
13. Jika mendapatkan tugas, berupaya menyelesaikan sebaik-mungkin.
14. Tidak menyalahgunakan kedudukan, jabatan, ilmu pengetahuan, atau pun kekayaan. 
15. Tidak menonjolkan kehebatan fisik dan materi. 
16. Menghormati para pemimpin, guru, ulama dan tokoh masyarakat.
 
Sekian, semoga bermanfaat.

Komentar