Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:45
OPINI

Jurang Semiotika

Jurang Semiotika
Ilustrasi jurang semiotika (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Semua bermula ketika manusia pertama kali menatap batu dan bertanya: "Ini batu atau pesan?". Sejak saat itu, peradaban resmi terperosok masuk jurang bernama keren: SEMIOTIKA.

Awalnya sederhana. Aksara A artinya apel. B artinya bola. Titik.Lalu datanglah para filsuf. Mereka mengangguk bijak dan berkata: "Tidak semudah itu, Ferguso."Maka A bukan lagi apel. A adalah penanda. Apel adalah petanda. Dan rasa rindu pada apel masa kecil adalah mitos tingkat tiga. Dari situ segalanya kacau.

Batu bukan lagi batu. Ia adalah "teks geologi".

Air bukan air. Ia adalah "narasi hidrologi tentang dahaga kapitalisme".

Angin? Itu "wacana yang bertiup tanpa izin BPJS".

Pertanyaannya kemudian naik kelas: Apakah semua benda dan tak benda di alam semesta adalah objek semiotika?

Jawaban akademis: Ya.

Jawaban warung kopi: Ya, asal ada yang mau menafsir dan dibayar.

Menurut Wittgenstein dan Magritte , pada alam semiotika, tidak ada yang netral. Meja bukan meja. Meja adalah simbol status, simbol rapat, simbol tempat menaruh proposal yang tidak pernah dibaca.

Sunyi bukan sunyi. Sunyi adalah penanda dari "saya sedang merenung tapi sebenarnya scroll TikTok". Bahkan kosong pun punya makna. Kosong artinya "ruang untuk diisi oleh interpretasi baru".

Masalahnya, kalau semua adalah tanda, lalu di mana letak bendanya?

Kalau nasi goreng hanya "konstruksi sosial tentang lapar", lalu kenapa perut tetap keroncongan? Kalau cinta hanya "relasi penanda-petanda", lalu kenapa putus tetap sakit?

Di sinilah epistemologi menampar.Ilmu menuntut kita membedakan: mana yang ada karena dirinya sendiri, mana yang ada karena kita beri nama.

Semiotika menjawab dengan santai: "Yang ada karena kita beri nama itu justru yang paling berkuasa."

Maka alam semesta pun disidang.

Gunung dipanggil: "Kamu simbol keagungan atau tumpukan magma?"

Gunung diam. Karena gunung tahu, begitu ia bicara, ia langsung jadi teks.

Kesimpulannya begini:

Ya, aksara bisa ditelaah. Ya, benda bisa ditelaah. Ya, yang tak benda seperti mimpi, pajak, dan janji politik juga bisa ditelaah. Singkatnya, selama bisa ditunjukdisebutatau dirasakan, maka ia bisa disemiotikakan. Dan selama masih ada manusia yang gabut dan punya waktu luang, maka riwayat semiotika tidak akan pernah selesai.

Kapan-kapan, pasti akan ada orang yang menulis disertasi: "Tafsir Filosofis Terhadap Bunyi Kulkas Jam 2 Pagi sebagai Kritik Gerakan Modernitas versus Post-Modernitas."

 

Komentar