Rentan Bencana, Pakar Kebumian Sebut Indonesia Abai Terhadap Risiko
ASKARA - Bencana alam tentu menjadi hal yang tidak diinginkan siapapun namun apa jadinya jika bencana itu yang mengundang adalah dari diri kita sendiri.
Pakar Kebumian Profesor Jan Sopaheluwakan menjabarkan sebab musabab terjadi sebuah bencana.
Prof. Jan nampak rapih dengan kemeja bercorak kotak-kotak kuning perpaduan hitam saat mengunjungi Kantor Askara di Menara Era, Jakarta Pusat, Rabu (26/2). Dia pun berkenan membahas bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia. Salah satunya banjir yang langganan menerjang Jakarta dan sekitarnya sejak awal tahun 2020.
Prof. Jan mengatakan, pada dasarnya sesuatu yang merugikan dengan melibatkan manusia maupun aset bisa disebut dengan bencana, hal ini bisa timbul dari tiga penyebab yakni ketidaktahuan, ketidakpedulian, dan keserakahan. Sayangnya dari ketiga hal tersebut, selain menciptakan bencana tidak semua orang mampu melakukan antisipasi dampaknya.
"Cuma tinggal sekarang seberapa canggih kita mengantisipasi dan mengerti ancaman atau risiko atau mengerti atau mencoba memahami ketidakpastian itu. Kita kan sekarang berhubungan dengan ketidakpastian, berhubungan dengan kompleksitas, berhubungan dengan sesuatu yang volatile, yang cepat berubah. Tapi kita juga perlu beradaptasi. Kira-kira begitulah secara umum," paparnya.
Prof. Jan lebih merinci, ketidaktahuan adalah seperti halnya ketika seseorang hanya memandang sebuah objek tidak secara keseluruhan, orang tersebut bahkan berani mengambil risiko yang tidak diketahuinya. Pasalnya, mengetahui sesuatu dengan penuh akan meminimalisir faktor bencana yang akan dialaminya.
"Katakanlah dia tinggal di suatu tempat, dia hanya tahu oh ini rumahnya bagus, IMB-nya dan sebagainya. Tapi dia tidak tahu bahwa daerah itu adalah rawa yang tadinya diuruk karena hal itu ditutupi developer dan sebagainya," ujarnya.
Banyak orang yang tidak tahu atau tidak ingin tahu apa yang menjadi keputusannya, bahkan hal ini menyatu pada dua hal lain yakni ketidakpedulian serta keserakahan. Misalnya seseorang telah mengetahui bahwa tanah tersebut awalnya adalah rawa yang sudah pasti merupakan dataran rendah maka seharusnya melakukan tindakan antisipasi dari kemungkinan banjir ataupun bencana lainnya.
Lebih disayangkan lagi jika seseorang tersebut juga mudah dipersuasif atau dipengaruhi yang didorong faktor keserakahan. Seperti halnya termakan promosi atau buaian kalimat menggoda oleh marketing.
"Ada dalam sebuah program televisi disebutkan bahwa Kelapa Gading kan kalau disebut rawa tikus tidak seksi jualnya. Dibilang lah kalau di situ kepala naga segalanya pokoknya. Hal-hal bagaimana ya pokoknya untuk marketing," kata Prof. Jan.
Adapun, dari faktor keserakahan adalah apa yang menjadi wacana publik saat ini jauh panggang dari api karena sudah diwarnai dengan kepentingan. Hal ini tidak lain menjadi abai terhadap segala risiko bencana dari unsur kepentingan tersebut.
"Menurut saya publik ini katakanlah elit politik kita ini sudah dis-oriented. Kira-kira seperti itu setting big picture-nya," beber Prof. Jan.
Masih berhubungan dengan tiga hal tersebut, dia pun membahas terkait dengan kenahasan. Diketahui, dari kenahasan ini merupakan bencana seperti kecelakaan, kekerasan, konflik, krisis hingga kasus narkoba, korupsi dan sebagainya.
Adapun kenahasan yang terjadi secara berangsur berupa bencana alam mulai dari gempa, tsunami, gunung merapi. Semua itu tidak akan terjadi secara tiba-tiba kecuali seseorang tersebut menghindari tipikal ketidaktahuan, ketidakpedulian dan keserakahan.
"Bencana tidak pernah terjadi secara tiba-tiba, pasti ada pendahuluannya, ada tanda-tanda alam kecuali sekarang ilmu pengetahuan dan tekonologi belum mampu adalah gempa. Nah gempa kita tahu pasti terjadi tapi tidak tahu kapan, artinya tanda-tanda awalnya sampai sekarang pengetahuan dan teknologi dia bisa memprediksi tapi jaraknya hanya detik. Nah kalau banjir ini kan tidak, tanda-tanda awalnya jauh-jauh hari dan tidak tiba-tiba datang," papar Prof. Jan.
Persoalan terjadinya banjir, selain masuk dalam tiga hal tersebut, Prof. Jan menilai jika orang Indonesia hanya sedikit yang ingin melakukan antisipasi dan pemantauan. Dengan kata lain, sesuatu yang disebut bencana adalah karena ketidakmampuan dalam mengatasi.
"Nah bangsa kita ini bukan budaya memantau, bangsa kita ini abai terhadap risiko. Bangsa atau organisasi ini terlalu telat melakukan pemantauan. Nah dari pemantauan itu indikasi-indikasi awal bisa dilihat, apakah ini meningkat, datar dan menurun sebagainya," jelasnya.
"Di situlah pentingnya untuk mengatasi ketidaktahuan, ketidakpedulian, dan keserakahan. Maka intelejensi harus dibangunkan sistem pemantauan, kita nilai ini sudah melebihi atau sebagainya," tandas Prof. Jan.

Komentar