Kepulauan Batu Nias Dijarah
Hutan Dijarah Bertahun-tahun, Negara Baru Datang Saat Rakyat Menjerit
ASKARA - Langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menghentikan sejenak perjalanan kunjungan kerja di Pulau Nias bukan sekadar gestur spontan. Ia adalah simbol: bahwa negara, jika mau, bisa berhenti sejenak untuk mendengar jeritan warganya, dan lebih jauh, jeritan alam yang selama ini kerap diabaikan.
Aksi damai warga Kepulauan Batu bukanlah suara yang lahir tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari keresahan panjang atas hutan yang terus menyusut, bukit yang terkelupas, dan rasa cemas akan bencana yang sewaktu-waktu bisa datang. Dugaan kerusakan lingkungan oleh perusahaan yang beroperasi puluhan tahun tanpa pemulihan ekologis memunculkan pertanyaan mendasar: di mana negara selama ini berdiri?
Indonesia telah berulang kali belajar dengan cara yang mahal. Dari Batang Toru hingga berbagai wilayah rawan bencana lainnya, alam selalu memberi peringatan. Sayangnya, peringatan itu sering baru didengar setelah korban berjatuhan. Kepulauan Batu kini berada di persimpangan yang sama: antara pembiaran atas nama investasi, atau keberanian mengambil keputusan demi keselamatan manusia dan ekosistem.
Warga tidak sedang menolak pembangunan. Mereka menuntut keadilan ekologis. Ketika reboisasi tak kunjung dilakukan, ketika izin merangsek hingga ke perkampungan, dan ketika pengawasan terasa tumpul, maka kegelisahan publik adalah keniscayaan. Lebih dari itu, kegelisahan ini adalah alarm dini yang seharusnya ditangkap serius oleh pemerintah.
Apresiasi patut diberikan kepada Wapres yang bersedia mendengar langsung. Namun mendengar saja tidak cukup. Editorial ini menegaskan: negara diuji bukan pada kata-kata, melainkan pada keberanian bertindak. Evaluasi izin, audit lingkungan yang transparan, hingga penegakan hukum tanpa pandang bulu adalah keniscayaan, bukan pilihan.
Kepulauan Batu tidak boleh menunggu bencana untuk mendapat perhatian. Jika hari ini negara berhenti untuk mendengar, maka esok hari negara harus berjalan lebih jauh untuk melindungi. Karena ketika alam murka, ia tak memilih korban, dan penyesalan selalu datang paling akhir.

Komentar