Romo Yos: Pulau Buru Mengajarkan Bangsa Merawat Sejarah Tanpa Dendam
ASKARA - Wakil Uskup Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), Romo Kolonel (Purn.) Sus. Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, Pr., mengajak masyarakat Indonesia memaknai sejarah Pulau Buru sebagai pelajaran tentang kemanusiaan, rekonsiliasi, dan harapan. Pesan itu disampaikannya usai mengunjungi Desa Wanareja, Unit II, Kabupaten Buru, dalam rangkaian Sabatical Journey di Kepulauan Maluku.
Di desa yang kini menjadi salah satu lumbung padi Provinsi Maluku itu, Romo Yos bertemu Mbah Sutoyo, sekitar 86 tahun, salah seorang mantan tahanan politik (Tapol) yang masih tinggal di kawasan tersebut. Dari pertemuan itu, Romo Yos menyaksikan langsung jejak sejarah yang masih hidup dalam ingatan para pelakunya.
"Di sinilah dulu kami membuka hutan," tutur Mbah Sutoyo sambil memandang hamparan sawah yang kini membentang hijau.
Menurut Romo Yos, sulit membayangkan bahwa kawasan pertanian yang kini menghidupi ribuan keluarga itu dulunya merupakan hutan lebat yang dibuka oleh para tahanan politik melalui kerja keras selama masa rehabilitasi di Pulau Buru.
Ia menjelaskan, kawasan Inrehabilitasi Tahanan Politik (Inrehab) dibangun pemerintah pada periode 1969 hingga 1979. Dalam kurun waktu itu, sekitar 10.500 tahanan politik ditempatkan di 21 unit permukiman untuk membuka hutan, membangun irigasi, mendirikan rumah, dan mencetak lahan pertanian.
"Di sinilah ironi sejarah itu hadir. Mereka yang datang sebagai tahanan justru menjadi orang-orang pertama yang mengubah belantara menjadi lahan kehidupan," ujar Romo Yos, Jumat (24/7/2026).
Dalam refleksinya, Romo Yos menyoroti kehadiran Gereja Katolik yang memilih mengambil peran pastoral di tengah situasi tersebut. Pelayanan dimulai sejak 1969 oleh Pastor Werner Rovin, SJ bersama Bruder Yuwono Wiharjono, SJ, kemudian dilanjutkan para imam Serikat Yesus seperti Rm. Alex Dirjosusanto, SJ dan Rm. Yuwono Wiharjono, SJ.
Sementara pelayanan kepada umat Katolik di lingkungan militer dilakukan oleh Rm. Suto Panitro, Pr mewakili Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI).
"Bagi Gereja, kehadiran di Pulau Buru bukan untuk berpihak pada dinamika politik, tetapi menjaga martabat manusia. Belas kasih tidak pernah memilih pihak, melainkan hadir bagi siapa pun yang membutuhkan harapan," katanya.
Dalam kunjungan itu, Romo Yos juga bertemu Petrus Wail, warga kelahiran 1957 yang dibaptis menjadi Katolik pada 1976. Dari Petrus, ia mendengar kisah bagaimana para mantan tahanan politik turut mengajar anak-anak kampung menjelang berakhirnya program Inrehab.
"Saya belajar membaca dari mereka," kata Petrus kepada Romo Yos.
Menurut Romo Yos, kesaksian tersebut menunjukkan bahwa meskipun kehilangan kebebasan, banyak tahanan tetap memilih mengabdikan ilmu dan pengetahuannya bagi masyarakat. Di antara mereka terdapat guru, dosen, insinyur, seniman, penulis, dan tenaga profesional lainnya.
"Mereka boleh kehilangan kebebasan, tetapi tidak kehilangan panggilan untuk mencerdaskan kehidupan orang lain. Di situlah martabat manusia tetap bersinar," ujarnya.
Romo Yos juga mengingatkan bahwa perjalanan sejarah harus dipahami secara utuh. Menurut berbagai catatan yang ia himpun, tidak semua tahanan politik yang dikirim ke Pulau Buru terlibat langsung dalam aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI), dan banyak di antaranya menjalani masa penahanan tanpa melalui proses peradilan.
Baginya, sejarah Pulau Buru mengajarkan bahwa bangsa Indonesia tidak dipanggil untuk melupakan masa lalu, tetapi juga tidak boleh terus hidup dalam luka sejarah.
"Melawan lupa bukan berarti memelihara dendam. Melawan lupa berarti memberi tempat yang jujur bagi setiap kisah, menghormati martabat setiap manusia, serta belajar agar sejarah kelam tidak kembali terulang," tegasnya.
Di penghujung kunjungannya, Romo Yos memandang Pulau Buru sebagai simbol harapan. Dari tanah yang pernah dikenal sebagai tempat pengasingan, kini tumbuh hamparan sawah yang memberi kehidupan, sekaligus menjadi pengingat bahwa dari penderitaan dapat lahir pendidikan, iman, persaudaraan, dan pengharapan.
"Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi masa depan selalu dapat dibangun. Selama bangsa ini berani mengingat sejarah dengan jujur dan melangkah dengan harapan, Pulau Buru akan terus menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan kemanusiaan Indonesia," pungkasnya.

Komentar