Senin, 10 Agustus 2026 | 01:04
MILITER

KUNJUNGAN WAKIL USKUP OCI KE DENKAV 5/BLC

Di Balik Tembok Victoria: Merawat Ingatan, Meneguhkan Pengabdian

Di Balik Tembok Victoria: Merawat Ingatan, Meneguhkan Pengabdian
Wakil Uskup Umat Katolik TNI–Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI), Romo Kolonel (Purn.) Sus Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, S.Fil., M.Si., Pr foto bersama di Denkav 5/BLC (Dok OCI)

ASKARA - Tidak semua markas militer hanya menyimpan kisah tentang pasukan, persenjataan, dan pertahanan. Ada markas yang berdiri tepat di atas lapisan sejarah bangsa—tempat kekuasaan pernah berganti, darah pernah tertumpah, dan kedaulatan pernah dipertaruhkan.

Salah satunya adalah Benteng Nieuw Victoria di Ambon, yang kini menjadi bagian dari Markas Detasemen Kavaleri 5/Birgus Latro Cakti (Denkav 5/BLC).

Ke tempat bersejarah inilah Wakil Uskup Umat Katolik TNI–Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI), Romo Kolonel (Purn.) Sus Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, S.Fil., M.Si., Pr, belum lama ini, melaksanakan kunjungan pastoral dan silaturahmi.

Kehadirannya diterima dengan hangat oleh Komandan Denkav 5/BLC Mayor Kav Yulius, alumnus Akademi Militer 2012, bersama jajaran staf.

Kunjungan itu menjadi lebih bermakna karena berlangsung di sebuah tempat yang telah menyaksikan perjalanan hampir lima abad sejarah Ambon.

Dari Rempah, Benteng, hingga Perebutan Kekuasaan

Benteng Victoria mengawali kisahnya pada masa Portugis. Benteng yang semula bernama Nossa Senhora da Anunciada didirikan pada 1575, pada masa Gubernur Portugis Gaspar de Mello. Tanggal 25 Maret 1575 kemudian dikenal pula dalam narasi sejarah sebagai tonggak berdirinya Kota Ambon.

Namun tiga puluh tahun kemudian, sejarah berbelok arah.

Pada 23 Februari 1605, armada VOC di bawah Laksamana Steven van der Hagen mengambil alih benteng Portugis di Ambon. Penguasaan tersebut berlangsung tanpa pertempuran besar dan kemudian diikuti perubahan nama benteng menjadi Victoria—"kemenangan"—sebagai penanda kemenangan Belanda atas posisi Portugis di Ambon.

Nama *Nieuw Victoria muncul kemudian setelah benteng mengalami kerusakan dan pembangunan kembali, terutama berkaitan dengan gempa besar serta renovasi pada abad ke-18.

Pengambilalihan benteng bukan sekadar pergantian bendera di atas tembok pertahanan. Di baliknya sedang berlangsung perubahan geopolitik besar di kawasan timur Nusantara. Ambon kemudian berkembang menjadi salah satu basis utama VOC dalam mengendalikan perdagangan rempah, terutama cengkeh.

Karena itu, Victoria di Ambon dan Belgica di Banda dapat dibaca sebagai dua simpul dari satu sejarah besar: bagaimana rempah-rempah Maluku menarik bangsa-bangsa Eropa datang, membangun benteng, memperebutkan kekuasaan, lalu membentuk sistem monopoli perdagangan yang menentukan perjalanan kawasan ini selama berabad-abad.

Tetapi sejarah Victoria tidak berhenti pada Portugis dan VOC.

Ketika Darah Anak Bangsa Tertumpah

Hampir tiga setengah abad kemudian, benteng yang dahulu menjadi simbol perebutan kepentingan bangsa asing itu kembali menjadi saksi sebuah pergulatan. Kali ini bukan memperebutkan rempah, melainkan mempertahankan keutuhan Republik Indonesia yang masih sangat muda.

Pada 4 November 1950, Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi memimpin pasukan dalam operasi merebut Kota Ambon dari kekuatan Republik Maluku Selatan (RMS).

Usianya baru 24 tahun.

Ia tidak memimpin dari kejauhan. Slamet Rijadi berada di garis depan, bergerak mendekati Benteng Victoria dengan kendaraan lapis baja.

Ketika pasukannya telah berada dekat benteng, tembakan datang dari arah pertahanan lawan. Slamet Rijadi keluar dari kendaraan untuk memastikan keadaan. Saat itulah peluru menghantam tubuhnya.

Ia roboh.

Namun semangatnya tidak ikut tumbang.

Dalam keadaan terluka parah, ia masih menggerakkan anak buahnya untuk meneruskan serangan dan memasuki benteng:

“Mari, mari, kita terus masuk benteng!”

Malam itu, 4 November 1950, pukul 21.15, Ignatius Slamet Rijadi mengembuskan napas terakhir.

Di sinilah Victoria seperti memperoleh makna baru.

Jika dahulu temboknya menjadi simbol perebutan rempah dan kekuasaan bangsa asing, pada 1950 tanah di depannya dibasahi darah seorang anak bangsa yang memilih mempertaruhkan hidupnya demi mempertahankan Indonesia.

1575 – 1605 – 1950.
Tiga angka. Tiga zaman. Satu benteng.

Temboknya tetap berdiri, tetapi mereka yang datang dan pergi di hadapannya membawa kepentingan yang berbeda: dari perdagangan, monopoli dan kolonialisme, hingga perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik.

Dari Benteng Pertahanan Menjadi Markas Pengabdian

Setelah pergolakan RMS dapat ditumpas dan keamanan Ambon dipulihkan, perjalanan Benteng Victoria memasuki babak berikutnya. Kompleks bersejarah tersebut pernah menjadi bagian dari markas Kodam Pattimura dan kemudian digunakan oleh Detasemen Kavaleri 5/Birgus Latro Cakti.

Denkav 5/BLC mempunyai posisi tersendiri sebagai satuan kavaleri di wilayah Kepulauan Maluku, dengan kemampuan tempur yang bertumpu antara lain pada mobilitas, perlindungan, daya gerak, dan daya gempur kendaraan lapis baja.

Di tempat inilah masa lalu dan masa kini seakan berjumpa.

Jika berabad-abad silam tembok Victoria dibangun untuk mengamankan kepentingan perdagangan dan kekuasaan kolonial, hari ini prajurit-prajurit Indonesia berdiri di tempat yang sama untuk menjalankan tugas pertahanan negara di bawah Merah Putih.

Karena itulah kunjungan Wakil Uskup OCI ke Denkav 5/BLC bukan sekadar kunjungan kelembagaan.

Bagi Romo Kolonel (Purn.) Sus Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, S.Fil., M.Si., Pr, perjumpaan dengan Komandan Denkav Mayor Kav Yulius beserta jajaran menjadi bagian dari tugas pastoral OCI: hadir di tengah kehidupan prajurit, membangun komunikasi dengan satuan, serta memastikan pembinaan mental-rohani Katolik berjalan sebagai bagian dari pembentukan prajurit yang tangguh secara profesional sekaligus matang secara moral dan spiritual.

Sebab kekuatan pertahanan tidak hanya dibangun oleh kendaraan lapis baja, persenjataan, dan kemampuan taktis.

Pertahanan juga membutuhkan manusia yang memiliki nurani.

Prajurit yang kuat bukan hanya mereka yang mampu mengendalikan alat utama sistem persenjataan, melainkan mereka yang mampu mengendalikan dirinya sendiri; yang memahami bahwa senjata memperoleh kehormatannya bukan ketika digunakan untuk menunjukkan kekuasaan, tetapi ketika berada di tangan prajurit yang mengetahui untuk siapa dan untuk apa kekuatan itu dipergunakan: menjaga rakyat, mempertahankan kedaulatan, serta mengabdi kepada bangsa dan negara.

Maka kunjungan pastoral di balik tembok tua Victoria seperti mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: sejarah, pertahanan, dan iman.

Sejarah mengajarkan dari mana bangsa ini datang.
Pertahanan memastikan negeri ini tetap berdiri.
Dan iman menjaga agar kekuatan selalu memiliki nurani.

Benteng Victoria akhirnya bukan hanya objek wisata atau peninggalan masa kolonial. Ia adalah ruang ingatan bangsa.

Di tempat ini Portugis pernah datang. VOC pernah menancapkan kekuasaannya. Ignatius Slamet Rijadi pernah menumpahkan darahnya. Dan hari ini, prajurit-prajurit Indonesia berjaga di bawah Merah Putih.

Tembok boleh menua dan zaman terus berganti. Tetapi tugas setiap generasi tetap sama: menjaga apa yang telah diwariskan, merawat persatuan, dan memastikan pengorbanan para pendahulu tidak pernah kehilangan makna.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun masa depan, tetapi bangsa yang berani mendengarkan sejarahnya—lalu mengubah ingatan itu menjadi energi pengabdian.

 

- Dokpen OCI

 

Komentar