Stres Pascabencana Picu Hipertensi, Pengungsi Aceh Tengah Terancam
ASKARA - Ancaman hipertensi membayangi warga yang mengungsi akibat bencana longsor dan banjir di Aceh Tengah. Tim medis Baret ICMI Aceh Tengah menemukan hampir seluruh pengungsi dewasa hingga lanjut usia di sejumlah posko mengalami tekanan darah tinggi, yang dipicu oleh stres dan trauma pascabencana.
Temuan tersebut disampaikan Ketua Tim Medis Baret ICMI Aceh Tengah, dr. Fitri Fatimah, usai melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap warga di posko pengungsian.
“Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya. Dalam kondisi saat ini, faktor utama meningkatnya tekanan darah adalah stres dan trauma akibat kekhawatiran akan longsor dan banjir susulan,” ujar dr. Fitri Fatimah, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan, kerusakan rumah akibat longsor menjadi beban psikologis berat bagi warga. Ketidakpastian tempat tinggal dan masa depan membuat banyak pengungsi sulit berpikir jernih, yang berdampak langsung pada kondisi kesehatan mereka.
Menurut dr. Fitri, pengendalian hipertensi di lingkungan pengungsian saat ini paling efektif dilakukan dengan pemenuhan fasilitas dasar yang layak. “Ketersediaan air bersih, tempat tinggal yang bersih dan sehat, serta makanan bergizi yang dilengkapi sayur dan buah sangat dibutuhkan untuk menekan risiko hipertensi,” jelasnya.
Ia juga berharap pemerintah segera memberikan solusi nyata bagi warga yang masih bertahan di posko pengungsian. Pasalnya, kondisi posko dinilai tidak ideal untuk ditempati dalam jangka waktu lama, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, ibu menyusui, serta penderita penyakit kronis.
Dalam upaya memperluas pelayanan kesehatan, tim medis Baret ICMI Aceh Tengah telah menembus wilayah terisolir di Kecamatan Linge. Saat ini, tim tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah Aceh Tengah.

Komentar