Rabu, 29 Juli 2026 | 22:24
OPINI

DI BAWAH LANGIT TIMUR, SATU PENGABDIAN

Catatan Perjalanan Menyusuri Lanud Pattimura, Morotai, dan Tanimbar

Catatan Perjalanan Menyusuri Lanud Pattimura, Morotai, dan Tanimbar
Romo Kolonel (Purn) Yos Bintoro, Pr (Dok OCI)

ASKARA - Tidak semua perjalanan diukur oleh berapa mil laut yang ditempuh atau berapa jam pesawat berada di udara. Ada perjalanan yang justru diukur oleh berapa banyak tangan yang dijabat, berapa banyak kisah yang didengar, dan berapa banyak persaudaraan yang kembali diteguhkan.

Selama beberapa pekan di Maluku dan Maluku Utara, langkah saya membawa saya menyusuri tiga pangkalan udara yang dipisahkan laut, pulau, dan cuaca: Lanud Pattimura di Ambon, Lanud Leo Wattimena di Morotai, serta Lanud Marsma Ignatius Dewanto di Saumlaki. Ketiganya memiliki sejarah, karakter, dan tantangan yang berbeda. Namun semuanya dipersatukan oleh satu panggilan yang sama: menjaga langit Indonesia.

Ambon selalu terasa sebagai gerbang persaudaraan. Kehangatan menyambut sejak langkah pertama memasuki Lanud Pattimura. Sambutan Kadispers yang mewakili Komandan Lanud menghadirkan suasana kekeluargaan yang tulus. Saya semakin menyadari bahwa sebuah pangkalan udara bukan sekadar instalasi militer. Ia adalah rumah bagi para prajurit beserta keluarga yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa.

Perjalanan kemudian membawa saya ke Morotai. Nama pulau ini seakan mengajak setiap orang membuka kembali lembaran sejarah. Di sinilah jejak Perang Dunia II masih terasa, dan dari sinilah pula pernah dipersiapkan lapangan udara strategis menjelang Operasi Trikora. Morotai mengingatkan bahwa langit yang kini damai pernah dipenuhi deru pesawat tempur.

Namun hari ini suasananya berbeda. Yang terdengar bukan lagi gelegar peperangan, melainkan tawa anak-anak, doa-doa yang dipanjatkan, dan kesetiaan para prajurit menjalankan tugas menjaga kedaulatan. Sejarah memang tidak boleh dilupakan, tetapi juga tidak boleh terus dipelihara sebagai luka. Ia harus menjadi guru yang menuntun bangsa melangkah menuju masa depan.

Dari utara, perjalanan berlanjut ke selatan Nusantara, menuju Saumlaki di Kepulauan Tanimbar. Beranda selatan Indonesia ini berbatasan langsung dengan Australia dan menyimpan kekayaan laut, minyak bumi, serta gas alam yang menjadi harapan masa depan bangsa.

Di tempat yang terasa jauh dari hiruk-pikuk kota besar itulah saya justru menemukan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia hidup karena ada orang-orang yang tetap berjaga ketika sebagian besar dari kita sedang terlelap. Mereka berdiri tegak menjaga setiap jengkal udara dan lautan Nusantara dengan kesetiaan yang nyaris tak pernah terlihat.

Perjalanan ini membawa saya pada sebuah keyakinan baru. Menjaga langit ternyata tidak hanya dilakukan melalui radar, pesawat tempur, alutsista modern, atau sistem pertahanan yang semakin canggih. Langit Indonesia sesungguhnya juga dijaga oleh kepercayaan, persaudaraan, dan hati yang tetap setia mengabdi.

Karena itu, silaturahmi kepada para komandan satuan bukan sekadar kunjungan protokoler. Ia menjadi ruang untuk merawat jejaring kebangsaan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan bahwa di mana pun Merah Putih berkibar—di Ambon, Morotai, maupun Tanimbar—selalu ada semangat yang sama untuk menjaga Indonesia.

Pada akhirnya saya semakin percaya bahwa pertahanan yang paling kokoh tidak semata dibangun oleh kekuatan alutsista. Ia bertumpu pada manusia-manusia yang memaknai pengabdian kepada bangsa sebagai bagian dari pengabdian kepada Tuhan.

Di pulau-pulau terluar itu, para prajurit menjadi pagar hidup kedaulatan Indonesia, bersinergi dengan kekuatan laut dan darat. Bersama mereka hadir pula pelayanan rohani dari berbagai agama yang saling menguatkan dalam semangat persaudaraan. Dari sanalah saya belajar bahwa menjaga langit bukan hanya tugas militer. Ia adalah panggilan bersama untuk merawat harapan, memelihara persatuan, dan menjaga martabat kemanusiaan di seluruh Nusantara.

"Sebab di bawah langit Timur itulah saya belajar: yang paling kuat menjaga Indonesia bukan hanya sayap pesawat, melainkan hati yang setia mengabdi."

Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

 

Komentar