Selasa, 02 Maret 2021 | 18:05
TRAVELLING

Catatan Perjalanan

Gunung Wilis

Gunung Wilis
Puncak Gunung Willis (Yanni)

ASKARA - Gunung Wilis memang tidak terlalu populer di kalangan pendaki, tapi jalurnya sangat menantang untuk dicoba. Hutan alamnya masih sangat asri dan dingin, dengan trek beragam. Banyak air terjun pula.

Gunung Wilis adalah sebuah gunung berapi (istirahat) yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Wilis masuk dalam 6 kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk,  Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek.

Gunung Wilis memiliki beberapa puncak. Puncak Liman 2.563 mdpl dan Limas 2.349 mdpl yang banyak dikenal. Gunung Wilis bisa didaki dari beberapa jalur yaitu:

‌Pendakian via Mojo, Kediri
‌Pendakian via ds. Bajulan (Roro Kuning), Nganjuk
‌Pendakian via ds Ngliman (Sedudo), Nganjuk
‌Pendakian via Candi Penampihan, Sendang-Tulungagung
‌Pendakian via Ponorogo atau Madiun.

Kami berangkat berenam, setelah registrasi, foto bersama di basecamp pak Purwanto (Roro Kuning) ketinggian 720 mdpl, kami sarapan dulu di warung terdekat. Istirahat 30 menit dan kami memulai pendakian sekitar pukul 09.00 WIB.

Awal perjalanan yang bikin saya berkeringat dingin, mual dan tiba-tiba terasa drop. Kena jebakan sarapan, pecel kujadikan kambing hitam sekarang, hahaha. Entah kenapa setelah sarapan perut serasa diaduk-aduk. Saya tetap berusaha menguatkan diri untuk tetap membawa beban Carrier di pundak, sambil sedikit meringis menahan sakit.

Begitu menyiksa memang, trek awal melewati ladang penduduk yang terbuka, panasnya luar biasa, akhirnya di tengah perjalanan begitu masuk hutan sebelum sampai pada Pos 1 sayapun menyerah, beruntung ada teman yang begitu tanggap, sigap-kuat dan akhirnya menawarkan diri menolong saya ranpa saya minta, namanya Cak Kus. Untuk kedua kalinya saya mendaki tanpa kulkas saya. Pertama saat jelajah situs di Gunung Penanggungan, kedua di tempat ini.

Kami melanjutkan perjalanan mulai memasuki hutan pinus berkelok dan nanjak lumayan rindang, sembari saya lirik-lirik Cak Kus yang membawa 2 tas depan belakang, kasihan dia. Sebenernya saya tidak tega.

Sembari ngobrol bercanda, tidak terasa 1 jam kemudian sampailah kami di Pos 1 (Panjer 1.150 mdpl). Di tempat ini saya mulai merasa kembali sehat, becanda, berfoto ria. Lalu saya meminta kembali carrier saya, ternyata Cak Kus tetap bersikukuh membawanya. 
"Sudah pewe" katanya. 

Saat kami bersiap akan melanjutkan perjalanan, tanpa sengaja saya melihat mas Budi pucat, saat saya tanya ternyata kurang tidur semalam. Maka saya menawarkan diri membawa carriernya. (lucu juga ya, milik saya dibantu bawa karena tadi kondisi kesehatan, eeeh tiba-tiba saya menawarkan diri membawa punya teman yang lain).

Apakah benar ini lucu?
Ternyata tidak sama sekali!

Begitulah selayaknya bila merasa seperjalanan dan seperjuangan, perasaan saling membantu adalah sikap yang tepat dan sangat dibutuhkan.

Bukan memanfaatkan teman, bukan juga mencari muka dengan tujuan lain. Karena ini tidak sedang unjuk kebolehan ataupun kekuatan, dan bukan suatu perlombaan.

Kami sedang menuju suatu tujuan yang sama. Sikap peduli terhadap lingkungan dan teman, inisiatif berbuat tanpa menunggu keluhan. Perjalanan pun terasa ringan dan tanpa beban perasaan. Kuncinya adalah peka, gotong royong saling membantu.

Karena sekuat apapun kita biasanya, tidak juga bisa kita pastikan menjadi tetap kuat seterusnya. Buktinya saya sendiri.

Baru saja kami bersiap berangkat, tiba-tiba gerimis datang. Tidak masalah tetap lanjut jalan, karena kami semua sudah membawa jas hujan. Jalur sempit setapak, kanan-kiri ilalang tinggi dengan pohon pinus. Di bawah guyuran gerimis yang makin padat deras, perjalanan tetap dilanjutkan dengan gembira, tiba-tiba 30 menit kemudian hujan berhenti begitu saja.

Sampailah di Pos 2 (Gua Alap-Alap 1.350 mdpl). Di area ini mulai masuk sabana dan kami disambut banyak kupu-kupu berwarna kuning, ada ratusan, bikin hati gembira.

Lanjut terus perjalanan, kami melihat hamparan rumput ilalang yang cukup luas tapi ada sedikit yang sempit macam jalan sirotol, dan dari kejauhan terlihat beberapa tenda warna-warni serta tumpukan batu andesit, artinya kami sampai pada lokasi camp, yaitu pos 3 (Sekartaji 1.500 mdpl). Dan bersyukur hujan pun telah benar-benar berhenti. Waktu yang kami butuhkan dari basecamp hingga pos Sekartaji sekitar 4 jam.

Segera bongkar Carrier dan mendirikan tenda, kami bawa tenda kapasitas 2 dan 4 orang, maka memilih camp di area dekat candi yang memang hanya cukup 2 tenda. Di sini ternyata ada sumber air alami yang sudah dibuatkan pancuran dari sebilah bambu untuk mempermudah mengambilnya. Konon kabarnya meski kemarau, sumber ini tidak pernah mati (Semoga demikian untuk selanjutnya).

Pos Sekartaji ini didominasi batu-batuan besar berwarna hitam dengan area terbuka. Ada sedikit kumpulan rumpun bambu, sangat nyaman dan bikin kerasan bila camp di sini, air tersedia melimpah. Jangan lupa bawa bekal yang banyak karena bisa masak sepuasnya.

Sembari bikin kopi, ada yang mau teh, susu energen sekalian mempersiapkan makan malam yang telah kami bawa dari rumah, kami membicarakan untuk membuat kesepakatan bersama besok pagi mau summit jam berapa. Keputusan jatuh pada pukul 08.00 WIB.

Obrolan ringan kami lanjutkan, kang Kasturi yang mengerti tentang sejarah gunung Wilis bercerita bahwa gunung ini punya nama kuno "Pawinihan" (Pembibitan). Gunung ini dulunya sebagai tempat menempa para ksatria dan daerah perbukitan gunung Wilis infonya pernah dilalui oleh Jenderal Sudirman sebelum ke Yogya. Banyak situs, jadi hati-hati dalam bersikap dan becanda. Selalu eling dan waspada, tidak perlu sombong-sombong bikin celaka.

Mendekati senja ada rombongan pendaki lain datang lagi dan mendirikan tenda di area lebih luas di bawah kami.

Waktunya segera istirahat, mengumpulkan tenaga kembali untuk lanjut summit esok pagi.

Pukul 06.00 WIB kami sudah pada bangun, bikin sesuatu yang hangat dan mempersiapkan bekal menuju puncak. Tepat pukul 08.00 seperti kesepakatan semalam kami memulai perjalanan.

Langsung nanjak terjal dengan banyak bebatuan besar, setelahnya ada jalan menurun yang harus sedikit ngesot mberosot menuruni batuan, karena tali webbing telah hilang. 1.5 jam kemudian kami temukan pos 4 (Puspan 1.900 mdpl) dengan 1 batu besar, enak banget buat duduk di atasnya sambil ngopi di antara hamparan terbuka sabana. Dominasi Cantigi dan Pinus. Area Gunung Wilis seringkali kabut turun di siang hari. Jadi jangan lupa selalu bawa jas hujan meski saat kemarau.

Cukup istirahat sembari menunggu yang di belakang, lanjut kembali perjalanan. Pos 5 (Cemara Beser 2.150 mdpl) Ada 1 pohon Pinus besar di tengah jalan dan area jalur ini perlu konsentrasi, ada tanjakan terjal berbatu, sudah tersedia tali webbing saat kami naik (Semoga tidak hilang, kalaupun aus semoga sudah disediakan penggantinya).

Jalur menuju puncak, tetep nanjak manja dan makin banyak kami lihat pohon mati di hutan ini, akibat terbakar hebat dan cukup luas saat itu.

Dan tepat 3 jam perjalanan sampailah kami di Puncak gunung Wilis ini, yaitu Puncak Limas 2.349 mdpl. Puncak Limas mirip dengan puncak Salak 1 maupun puncak Argopuro. Dengan pohon-pohon sedikit rapat tanpa view di kejauhan yang bisa kita nikmati. Bersyukur akhirnya bisa sowan kemari ditemani kabut yang syahdu.

Beruntung walau mendaki saat menjelang Natal di bulan Desember, tidak terlalu banyak hujan maupun angin yang kami dapat, hanya kabut yang selalu menyelimuti. Pendakian berjalan lancar tanpa hambatan apapun. Semua selamat dan sehat.

Terima kasih saya haturkan kepada Cak Kus atas bantuannya, kang Kasturi sebagai penunjuk jalan yang sabar namun tegas, mas Budi Handogo untuk semangat luar biasa meski usia paling sepuh 62, yang telah jadi chef kopi dan pizza gunungnya yang selalu bikin rindu, bu Ery Soerjani yang selalu gembira serta putranya Giri Wana peserta termuda usia 17 tahun. Bahagia berjalan dengan kalian semua.

 

 

Gunung Wilis via Roro Kuning, Nganjuk. Jawa Timur.
23-24 Desember 2018

Komentar