Rabu, 01 Juli 2026 | 01:52
TRAVELLING

Ritual Air Kehidupan Warnai Kunjungan Rombongan PWI ke Gunung Padang

Ritual Air Kehidupan Warnai Kunjungan Rombongan PWI ke Gunung Padang
Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana tengah membantu pengunjung untuk membasuh diri (Dok Askara)

ASKARA - Selain dikenal sebagai situs megalitikum terbesar di Indonesia, Gunung Padang di Kabupaten Cianjur juga menyimpan sejumlah tradisi yang masih dijaga hingga kini. Salah satunya adalah anjuran bagi setiap pengunjung untuk singgah di sumber mata air sebelum atau sesudah memasuki kawasan situs.

Tradisi tersebut turut dijalani rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dan PWI Pusat saat berkunjung ke Gunung Padang pada Senin (29/6/2026) malam.

Didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana, para peserta diajak mendatangi sumber mata air yang berada di kawasan situs. Di tempat itu, mereka membasuh wajah dan tangan menggunakan air pegunungan yang jernih sebagai bagian dari tradisi yang telah lama dikenal oleh masyarakat setempat.

Rombongan PWI dipimpin Bendahara PWI Jaya, Dar Edi Yoga, bersama sejumlah peserta, antara lain Anrico Pasaribu, Rudolf Simbolon, Raldy Doy, Toni Bramantoro, praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo, Wahyu, serta peserta lainnya yang datang untuk menikmati keindahan alam sekaligus memahami nilai sejarah dan budaya Gunung Padang.

Menurut Nanang Sukmana, ritual di sumber mata air bukanlah kewajiban ataupun bagian dari tata cara keagamaan tertentu. Tradisi tersebut lebih dimaknai sebagai simbol penyucian diri, penghormatan kepada alam, serta ajakan agar setiap pengunjung memasuki kawasan situs dengan hati yang tenang dan penuh rasa hormat.

"Air menjadi lambang kehidupan. Membasuh diri di sini dimaknai sebagai upaya membersihkan pikiran dan niat sebelum menikmati nilai sejarah dan budaya yang ada di Gunung Padang," jelas Nanang.

Rombongan PWI mengikuti prosesi tersebut dengan penuh khidmat. Bagi sebagian peserta, pengalaman itu menjadi momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan, mengheningkan cipta, sekaligus mensyukuri karunia alam yang masih terjaga.

Bendahara PWI Jaya, Dar Edi Yoga, yang telah puluhan kali mengunjungi Gunung Padang sejak pertama kali datang pada 15 Maret 2012, mengatakan setiap kunjungan selalu memberikan pengalaman yang berbeda.

"Tradisi di sumber mata air ini mengingatkan kita agar datang dengan kerendahan hati. Yang terpenting bukan ritualnya, tetapi bagaimana kita menghargai alam, sejarah, dan menjaga sikap selama berada di tempat yang memiliki nilai budaya tinggi," ujarnya, Selasa (30/6).

Usai dari sumber mata air, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri lima teras Gunung Padang hingga dini hari. Di bawah cahaya bulan purnama, perjalanan itu menjadi pengalaman yang memadukan wisata sejarah, refleksi diri, dan penghormatan terhadap kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.

 

Komentar