Putri Candrawathi Ubah Lapas Jadi Ruang Berkarya
ASKARA - Lembaga pemasyarakatan kerap dipersepsikan sebagai ruang akhir yang menutup harapan. Namun pandangan itu coba dipatahkan oleh Putri Candrawathi. Dari balik jeruji, ia justru membangun ruang baru yang penuh makna: tempat belajar, refleksi, sekaligus bangkit melalui karya.
Berangkat dari keterbatasan, Putri tidak datang dengan keahlian khusus. Ia mengaku memulai segalanya dari nol, termasuk dalam keterampilan merajut yang kini menjadi salah satu aktivitas utama di lapas perempuan tersebut.
“Saya belajar dari awal, dari teman-teman di sini, dari buku, juga dari keluarga yang datang menjenguk. Ini membuktikan bahwa proses belajar bisa terjadi di mana saja,” ujarnya kepada Hallonews.id, dikutip Minggu (26/4).
Dari proses sederhana itu, lahirlah beragam produk kreatif seperti tas rajut, aksesori, hingga dekorasi berbahan kain dan material daur ulang. Namun bagi Putri, nilai utama bukan terletak pada hasil akhir, melainkan pada proses pemulihan diri yang dialami para warga binaan.
Ia menilai persoalan terbesar yang dihadapi perempuan di dalam lapas bukan hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga tekanan psikologis seperti rasa bersalah, stigma sosial, dan hilangnya kepercayaan diri.
“Yang paling berat itu bukan jeruji besinya, tapi beban di dalam diri mereka. Rasa tidak berharga dan malu itu yang harus dipulihkan,” katanya.
Melalui kegiatan kreatif, perubahan mulai terlihat. Warga binaan yang sebelumnya tertutup kini menjadi lebih aktif, berani berpendapat, bahkan mulai menciptakan desain mereka sendiri. Lingkungan lapas pun perlahan berubah menjadi lebih hidup dengan interaksi dan semangat kebersamaan.
Tak berhenti pada produksi, Putri juga berupaya membuka akses pasar bagi karya-karya tersebut. Dengan memanfaatkan jaringan pribadi, termasuk dukungan keluarga, produk warga binaan mulai dikenal dan mendapat respons positif dari masyarakat.
“Ketika karya mereka diapresiasi, itu memberi makna lebih. Mereka merasa diakui, merasa masih punya nilai,” ujarnya.
Pengakuan itu, lanjut Putri, menjadi bekal penting saat para warga binaan kembali ke masyarakat. Ia bahkan mendorong adanya sistem pencatatan keterampilan atau semacam “rapor karya” yang dapat digunakan sebagai referensi saat mencari pekerjaan.
Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi jembatan untuk membuka kesempatan kedua bagi mereka yang ingin memulai hidup baru.
Perjalanan Putri sendiri tidak lepas dari ujian. Ia harus menghadapi kenyataan terpisah dari keluarga dan anak-anak, yang turut merasakan dampak psikologis dari situasi tersebut. Namun dari pengalaman itu, ia menemukan dorongan untuk memberi manfaat bagi sesama.
“Saya percaya selalu ada orang lain yang lebih membutuhkan. Dari situ saya ingin hadir dan membawa hal positif,” tuturnya.
Ia memandang lembaga pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembelajaran yang memberi kesempatan bagi setiap individu untuk berubah. Dengan dukungan yang tepat, menurutnya, warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap dan percaya diri.
Kini, aktivitas kreatif menjadi bagian dari keseharian di dalam lapas. Suasana yang dulunya sepi perlahan berubah menjadi ruang produktif yang dipenuhi semangat untuk bangkit.
Di setiap karya yang dihasilkan, tersimpan pesan kuat bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Selama masih ada kemauan untuk berubah, selalu ada jalan untuk merajut kembali kehidupan yang lebih bermartabat.

Komentar