Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:13
NEWS

Di Forum Parlemen Asia-Pasifik di Laos, Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Air dan Iklim

Tawarkan 3 Proyek Prioritas untuk Indonesia

Di Forum Parlemen Asia-Pasifik di Laos, Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Air dan Iklim
Prof. Rokhmin Dahuri saat menjadi pembicara (foto.ikhbar)

ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. H. Rokhmin Dahuri, M.S., mendorong negara-negara di kawasan Asia-Pasifik untuk memperkuat kerja sama dalam membangun ketahanan air dan menghadapi dampak perubahan iklim.

Menurutnya, krisis air, degradasi lingkungan, dan perubahan iklim adalah persoalan lintas negara yang tidak bisa diselesaikan satu negara saja. Solusinya hanya satu: kolaborasi.

Gagasan itu disampaikan Prof. Rokhmin saat menghadiri dua forum internasional bergengsi, The 3rd Roundtable on Climate and Water Issues dan The 9th Meeting of the Asian Parliamentary Assembly Water Consultative Council (AAWC) di Vientiane, Laos, pada 28–29 Juli 2026.

Forum yang mempertemukan pimpinan parlemen, pakar air, dan diplomat dari 14 negara Asia-Pasifik ini menjadi ajang penting untuk merumuskan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

"Kerja sama internasional harus diarahkan pada solusi yang nyata. Tantangan perubahan iklim, pencemaran, hingga krisis air butuh sinergi lewat alih teknologi, peningkatan SDM, penguatan kelembagaan, serta investasi berkelanjutan," kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini Sabtu (1/8).

Dalam forum tersebut, Prof. Rokhmin secara khusus mengapresiasi kemajuan Republik Korea dalam teknologi dan tata kelola air yang telah dirasakan manfaatnya oleh Indonesia.

Ia kemudian menawarkan tiga bidang prioritas kerja sama konkret Indonesia-Korea:

1. Sistem Sampah Terpadu. Pengelolaan sampah di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung yang belum optimal menjadi biang kerok pencemaran sungai, danau, dan laut.

2. Modernisasi Pertanian. Sekitar 30% penduduk Indonesia masih menggantungkan hidup di sektor pertanian, sehingga butuh teknologi yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan.

3. Desalinasi Berbasis Surya. Teknologi desalinasi air laut yang dipadukan dengan energi surya untuk pulau-pulau kecil. Sangat relevan untuk Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau yang masih kesulitan air bersih.

"Pemanfaatan desalinasi berbasis energi terbarukan akan memperkuat ketahanan air sekaligus mendukung SDGs tujuan keenam soal akses air bersih dan sanitasi layak," jelasnya.

Tak hanya gagasan, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu juga langsung tancap gas. Ia akan mengajukan proposal proyek prioritas kepada AAWC, di antaranya:

• Integrated Water Safety Management in Citarum River (Sungai Citarum) • Wastewater Management for Jakarta Area (Air Limbah Jakarta) • Integrated Irrigation Management System untuk pertanian di Cirebon-Indramayu

"Air adalah fondasi kehidupan, pembangunan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan. Pengelolaannya harus menjadi agenda bersama antara parlemen, pemerintah, dunia usaha, kampus, dan masyarakat," tutupnya.

Komentar