Sabtu, 06 Juni 2026 | 03:03
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri: Gerakan Penanaman 1.000 Mangrove di Cirebon Langkah Nyata Selamatkan Pesisir Indonesia

Prof. Rokhmin Dahuri: Gerakan Penanaman 1.000 Mangrove di Cirebon Langkah Nyata Selamatkan Pesisir Indonesia
Prof. Rokhmin Dahuri (topi putih) memimpin gerakan penanaman 1.000 mangrove di Cirebon (dok.askara)

ASKARA - Dalam momentum Hari Mangrove Sedunia, Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir Rokhmin Dahuri, MS memimpin langsung gerakan penanaman 1.000 bibit mangrove di Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, belum lama ini. Aksi ini bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari program besar percepatan rehabilitasi hutan mangrove seluas 600.000 hektar yang ditargetkan pemerintah hingga tahun 2026.

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa mangrove adalah ekosistem karunia Tuhan yang memiliki peran vital bagi keberlangsungan hidup manusia. “Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi, tetapi juga sumber kehidupan ekonomi masyarakat pesisir. Dari kayu, pewarna alami, hingga ratusan manfaat lain, mangrove adalah harta karun ekologi yang tak ternilai,” ujar Rektor Universitas UMMI Bogor, dalam keterangannya, Jum'at (17/4).

Indonesia sendiri tercatat memiliki hutan mangrove terluas di dunia, mencapai 3,7 juta hektar atau sekitar 27% dari total ekosistem mangrove global. Potensi ini, menurut Prof. Rokhmin, harus dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ia menekankan bahwa mangrove berperan besar dalam sektor perikanan, menjaga kualitas air, menyerap limbah organik, serta memiliki kemampuan menyerap karbon empat kali lebih besar dibandingkan hutan darat. “Tanpa mangrove, garis pantai akan terus tergerus, ekosistem laut rusak, dan masa depan pesisir terancam,” tambah Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Prof. Rokhmin mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon untuk menjadikan program penanaman mangrove sebagai agenda prioritas, mengingat kondisi pesisir pantai utara yang kini tergolong memprihatinkan. Ia menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan harus menjadi gerakan berkelanjutan demi masa depan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Selain itu, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu menekankan bahwa mangrove juga berperan penting dalam sektor perikanan, mencegah abrasi, menyerap limbah organik, hingga menjaga kualitas air (water purification). 

Ia juga mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon untuk menjadikan program penanaman mangrove sebagai agenda prioritas, mengingat kondisi pesisir pantai utara yang saat ini tergolong memprihatinkan. “Tanpa mangrove, garis pantai akan terus tergerus dan ekosistem laut akan rusak. Selain itu, ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon (carbon sequestration) hingga empat kali lebih besar dibandingkan hutan darat (terrestrial).” tambahnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Syafruddin Aryono, Kepala Bidang Destinasi & Industri Pariwisata DISBUPDAR Kabupaten Cirebon; Antari Puspa; serta Eskawiyanti, S.T., M.T., Penyuluh Lingkungan Hidup dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon. Kehadiran para tokoh ini mencerminkan semangat kolaboratif lintas sektor dalam upaya menyelamatkan ekosistem pesisir Indonesia.

Dengan langkah nyata ini, DPR RI bersama masyarakat menunjukkan komitmen bahwa menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan. Hari Mangrove Sedunia di Cirebon pun menjadi saksi lahirnya harapan baru: pesisir yang lestari, ekosistem yang terjaga, dan generasi mendatang yang tetap bisa menikmati kekayaan alam Indonesia.

Komentar