Minggu, 12 Juli 2026 | 11:16
NEWS

Resmikan Toilet dan Tempat Wudu KBNU Gebang, Prof. Rokhmin Dahuri: Tanah Wakaf Haji Tarmadi Bukti Gotong Royong Umat

Resmikan Toilet dan Tempat Wudu KBNU Gebang, Prof. Rokhmin Dahuri: Tanah Wakaf Haji Tarmadi Bukti Gotong Royong Umat
Prof. Rokhmin Dahuri Resmikan Toilet dan Tempat Wudu KBNU Gebang (dok.askara)

ASKARA – Nuansa khidmat dan kebersamaan menyelimuti Kantor Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Sabtu, 12 Juli 2026. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., hadir langsung meresmikan fasilitas toilet dan tempat wudu baru sekaligus menghadiri pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gebang.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemotongan tumpeng yang dilakukan Prof. Rokhmin bersama para kiai, pengurus NU, tokoh agama, serta masyarakat setempat. Fasilitas yang dibangun dengan air jernih dan layak ini diharapkan memberi kenyamanan bagi jamaah dan musafir yang melintas di jalur Pantura Gebang.

Dalam sambutannya, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu menegaskan bahwa pembangunan fasilitas tersebut bukan dijalankan dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR RI. “Ini adalah ikhtiar saya sebagai seorang muslim yang memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi bagi kepentingan agama dan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdirinya Kantor KBNU beserta fasilitas pendukungnya merupakan buah kolaborasi dan semangat gotong royong. Tanah untuk pembangunan diwakafkan oleh tokoh masyarakat setempat, Haji Tarmadi. Sementara pembangunan fisiknya terwujud dari sedekah, infak, dan pengabdian kolektif keluarga serta warga Nahdliyin.

“Rasa syukur kepada Allah SWT harus diwujudkan melalui ibadah, kepedulian sosial, serta upaya menjaga keharmonisan kehidupan dan alam semesta,” pesan Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University.

KBNU Harus Makmur dan Hidup

Kepada pengurus MWC NU yang baru dilantik dan seluruh warga Nahdlatul Ulama, Prof. Rokhmin menitipkan pesan kuat untuk senantiasa istiqamah menebarkan kebajikan. Kebajikan itu, tegasnya, tidak boleh berhenti pada diri sendiri dan keluarga, tetapi harus meluas memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan seluruh umat manusia.

Ia menekankan agar KBNU Gebang tidak hanya menjadi kantor organisasi semata. Fasilitas toilet dan tempat wudu yang baru diresmikan harus dikelola dengan tertib, bersih, aman, dan penuh tanggung jawab. Pintunya pun harus selalu terbuka, termasuk bagi para musafir yang membutuhkan tempat bersuci dan menunaikan ibadah.

Lebih jauh, Prof. Rokhmin mengajak agar KBNU Gebang meneladani fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin. “Kantor KBNU ini harus makmur untuk ibadah mahdhah sekaligus hidup sebagai pusat pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat,” tutur Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia ( GNTI) ini.

Pusat Peradaban, Bukan Sekadar Sekretariat

Gagasan tersebut disambut antusias para pengurus. Artinya, KBNU Gebang didorong menjadi episentrum aktivitas umat: tempat musyawarah untuk menyelesaikan problem sosial, pusat layanan pendidikan keagamaan, wadah pemberdayaan ekonomi berbasis jamaah, sekaligus simpul penguatan ukhuwah Islamiyah dan kebangsaan.

Dengan tersedianya fasilitas dasar yang layak seperti air bersih, toilet, dan tempat wudu, aktivitas jamaah diyakini akan semakin nyaman. Hal ini menjadi pondasi penting untuk memakmurkan KBNU sebagai ruang publik keumatan yang produktif.

“Mari senantiasa istiqamah berbuat kebajikan, bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsa,” pungkas Prof. Rokhmin, menutup sambutan yang disambut takbir dan tepuk tangan hadirin.

Peresmian ini menjadi penanda bahwa kolaborasi antara tokoh nasional, kiai, dan masyarakat dapat melahirkan infrastruktur sosial yang berdampak langsung. Wakaf tanah dari Haji Tarmadi dan gotong royong pembangunan oleh warga menjadi bukti bahwa umat masih memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun peradaban dari tingkat kecamatan.

Komentar