Jumat, 10 Juli 2026 | 06:34
NEWS

STPK Matauli Naik Kelas! Prof. Rokhmin Dahuri Usul 2 Prodi Baru, Cetak SDM Unggul Kelautan

STPK Matauli Naik Kelas! Prof. Rokhmin Dahuri Usul 2 Prodi Baru, Cetak SDM Unggul Kelautan
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.askara)

ASKARA - Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi negara maju pada 2045. Kuncinya adalah kemampuan mengelola potensi kelautan secara berkelanjutan melalui konsep Blue Economy (Ekonomi Biru) yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan".

Pesan tajam itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI , Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, saat jadi pembicara utama Kuliah Umum (Studium Generale) STPK Matauli, Kamis 9 Juli 2026. Tema yang diusung: “Positioning Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045”.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi biru bukan sekadar konsep pembangunan sektor kelautan, melainkan paradigma pembangunan masa depan yang menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi biru adalah pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut dan perairan tanpa merusak lingkungan. Tujuan akhirnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut bagi generasi mendatang," tegasnya.

Menurut Prof. Rokhmin, keberhasilan Indonesia membangun ekonomi biru sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi, integritas, kemampuan riset, inovasi, serta kepemimpinan untuk menjawab tantangan pembangunan maritim nasional.

Hadir lengkap jajaran Yayasan: Dr. Ir. H. Akbar Tandjung selaku Ketua Pembina, Fitri Krisnawati Tandjung Ketua Pengawas, Triana Krisandini Tandjung, B.Sc., MIA Ketua Umum Yayasan, bersama Dr. Ir. Eddiwan, M.Sc Ketua STPK Matauli. Tampak pula Bupati Tapteng Masinton Pasaribu dan Pimpinan DPRD.

LumbungUSD 2,5 Miliar dari Udang Vaname  

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu tak sekadar bicara makro. Ia membedah potensi mikro Tapanuli Tengah yang mencengangkan. Dengan luas lahan budidaya udang vaname sekitar 5.000 hektare, Tapteng diproyeksi mampu hasilkan 500.000 ton/tahun atau 100 ton/ha/tahun.

Ia menyoroti besarnya potensi pengembangan budidaya udang vaname di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan luas lahan sekitar 5.000 hektare, kawasan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan produksi hingga 500.000 ton per tahun atau sekitar 100 ton per hektare per tahun.

Menurutnya, potensi tersebut dapat menghasilkan pendapatan kotor sekitar USD 2,5 miliar per tahun, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD 2 miliar per tahun serta mampu menyerap sekitar 20.000 tenaga kerja on-farm dan 15.000 tenaga kerja off-farm.

“Potensi pendapatan kotornya USD 2,5 miliar per tahun, nilai ekspor USD 2 miliar, serap 20.000 tenaga kerja on-farm dan 15.000 off-farm," beber Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI). Selain vaname, lobster dan rumput laut disebut punya prospek besar jadi penggerak ekonomi pesisir.

Kemudian, Prof. Rokhmin mengingatkan, 2/3 wilayah Indonesia adalah laut, garis pantai terpanjang kedua dunia. Potensi ekonomi biru Indonesia tembus USD 1,33 triliun/tahun, tapi baru 7% yang dioptimalkan.

Prof Rokhmin Dahuri menegaskan, bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai jika sektor kelautan jadi tulang punggung ekonomi. “Ekonomi biru bukan jargon. Ini soal kedaulatan pangan, energi, lapangan kerja, dan devisa. STPK Matauli dan alumninya harus positioning sebagai panglima, bukan penonton,” tegasnya.

“Bonus demografi dan Indonesia Emas 2045 hanya tercapai jika laut jadi tulang punggung. Ekonomi biru itu soal kedaulatan pangan, energi, lapangan kerja, dan devisa,” tegasnya.

Karena itu, ia menantang STPK Matauli: “Alumninya harus positioning sebagai panglima, bukan penonton. Cetak SDM yang paham budidaya, teknologi, logistik, hilirisasi, sampai blue carbon.”

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi kelautan yang sangat besar sehingga membutuhkan perguruan tinggi yang mampu mencetak lulusan unggul dan kompetitif.

Menurutnya, STPK Matauli memiliki posisi strategis karena berada di kawasan pesisir yang kaya akan sumber daya kelautan dan perikanan. Oleh karena itu, kampus ini harus mengambil peran sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, riset, dan pengembangan ekonomi biru di kawasan pantai barat Sumatera.

Tambah 2 Prodi Baru, Gagas Penta Helix  

Selain memaparkan potensi ekonomi, Prof. Rokhmin juga memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi STPK Matauli agar semakin berperan dalam pembangunan sektor kelautan nasional.

Agar STPK Matauli makin berperan, Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini merekomendasikan:  

1. Perkuat 3 prodi eksisting: Akuakultur, Teknologi Penangkapan Ikan, Sosial Ekonomi Perikanan.  

2. Buka 2 prodi baru: Industri Pengolahan Perikanan & Bioteknologi Perairan, serta Pariwisata Bahari.   

3. Bangun kolaborasi Penta Helix: kampus, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, media — garap industri budidaya terpadu hulu-hilir.

“STPK Matauli sangat strategis karena di pesisir yang kaya SDA. Harus jadi pusat ilmu, inovasi, riset, dan pengembangan ekonomi biru pantai barat Sumatera,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya membangun kolaborasi melalui pendekatan Penta Helix, yakni sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mengembangkan industri perikanan budidaya secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, komoditas seperti lobster, udang vaname, dan rumput laut memiliki prospek besar untuk dikembangkan di Tapanuli Tengah sehingga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, akademisi, pemerintah daerah, serta mitra strategis, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa Indonesia dianugerahi modal pembangunan yang sangat lengkap. Mulai dari bonus demografi dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, posisi geoekonomi dan geopolitik yang strategis, hingga karakteristik sebagai negara kepulauan terbesar yang menyimpan potensi ekonomi kelautan bernilai sangat besar.

"Indonesia memiliki semua modal dasar untuk menjadi negara maju, adil, makmur, dan berdaulat. Yang dibutuhkan adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara cerdas, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan sehingga mampu melahirkan bangsa yang tangguh, mandiri, dan inovatif," ujar Prof. Rokhmin.

Ia menyoroti besarnya potensi pengembangan budidaya udang vaname di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan luas lahan sekitar 5.000 hektare, kawasan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan produksi hingga 500.000 ton per tahun atau sekitar 100 ton per hektare per tahun.

Menurutnya, potensi tersebut dapat menghasilkan pendapatan kotor sekitar USD 2,5 miliar per tahun, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD 2 miliar per tahun serta mampu menyerap sekitar 20.000 tenaga kerja on-farm dan 15.000 tenaga kerja off-farm.

STPK Investasi Besar untuk Tapteng  

Bupati Tapteng Masinton Pasaribu memberi apresiasi tinggi ke Akbar Tandjung. “STPK Matauli bukti visi besar yang dirintis sejak awal. Ini investasi besar untuk SDM unggul kelautan Tapteng,” kata Masinton. Ia tegaskan Pemkab siap kolaborasi penuh: pendidikan, riset, pengabdian, hingga inovasi maritim.

"Kami siap berkolaborasi dengan STPK Matauli melalui berbagai program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan inovasi di bidang kelautan dan perikanan. Kami berharap STPK Matauli menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan Tapanuli Tengah sebagai daerah maritim yang maju, mandiri, dan berdaya saing," katanya.

Fitri Krisnawati Tandjung mengenang awal gagasan STPK. “Kampung kita pesisir, hidup dari laut, tapi dulu tak ada sekolah yang budidayakan hasil laut. Akbar Tandjung pernah ajak Prof Rokhmin diskusi, kenapa Tapteng tak punya kampus kelautan. Hari ini gagasan itu nyata, sudah wisuda 4 angkatan,” ujarnya.

Triana Krisandini Tandjung menambahkan, Yayasan dorong kurikulum link & match industri. “Mahasiswa harus magang di kapal modern, startup perikanan, kawasan budidaya, riset marine biotech. Lulusan Matauli harus relevan dengan Indonesia Emas 2045.”

Ulos untuk Prof. Rokhmin, Simbol Penghormatan Tapanuli  

Sebelum paparan, Prof Rokhmin menerima ulos dari Fitri Krisnawati Tandjung didampingi Dr. Eddiwan — simbol penghormatan adat Batak untuk tokoh nasional yang dedikasikan hidup ke kelautan Indonesia. Rokhmin lalu diajak meninjau fasilitas kampus.

Sesi diskusi berlangsung panas. Mahasiswa bertanya soal illegal fishing, hilirisasi, ekspor, hingga karier di IKN. “Kuliah umum ini pembakar semangat. Kami yakin jadi generasi yang pimpin ekonomi biru Indonesia Emas 2045,” kata seorang mahasiswa.

Ekonomi Biru = Masa Depan Berkelanjutan  

Prof. Rokhmin menutup: “Ekonomi biru bukan sekadar konsep. Ini paradigma pembangunan masa depan. Kelola laut tanpa merusak lingkungan. Tujuannya naikkan produksi, sejahterakan rakyat, jaga ekosistem untuk anak cucu.”

Dengan bonus demografi, SDA melimpah, posisi geoekonomi strategis, Indonesia punya semua modal jadi negara maju. “Tinggal bagaimana dikelola cerdas, berkelanjutan, berbasis ilmu. STPK Matauli harus di depan,” pungkasnya.

Melalui penyelenggaraan Studium Generale ini, STPK Matauli kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pendidikan tinggi kelautan dan perikanan yang menghasilkan lulusan berdaya saing, berintegritas, serta mampu menjawab kebutuhan pembangunan ekonomi biru Indonesia. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia sekaligus mencapai visi Indonesia Emas 2045.

 

Komentar